Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Sepakbola Korsel Sarang Nepotisme
- Susul Jannik Sinner, Zverev Kantongi Tiket ATP Finals
- War Ticket Upacara HUT Ke-81 RI di Istana Merdeka Diperpanjang 8-9 Agustus
- Borneo FC Makin Kompak, Juan Villa Beberkan Rahasia Persiapan Tim
- Antar Persebaya Juara Piala Presiden, Reza Arya Fokus Bidik Super League
Setiap akhir pekan, kita selalu disuguhi pemandangan yang nyaris serupa. Jalan menuju kawasan wisata berubah menjadi lautan kendaraan. Tempat-tempat yang viral di media sosial dipenuhi manusia. Restoran harus menerapkan daftar tunggu. Tempat parkir meluber hingga ke badan jalan. Orang-orang rela menghabiskan berjam-jam dalam kemacetan hanya untuk memperoleh beberapa jam pengalaman yang nantinya akan diabadikan dalam bentuk foto, video, atau unggahan media sosial.
Sekilas, semua itu tampak sebagai pertanda menggembirakan. Ekonomi dianggap sedang bergerak. Daya beli masyarakat terlihat masih kuat. Industri pariwisata tampak hidup. Namun, benarkah demikian?
Perspektif sosiologis selalu mengajarkan satu hal sederhana: realitas yang tampak sering kali bukan realitas yang sebenarnya. Apa yang terlihat di permukaan justru sering menjadi tirai yang menutupi persoalan yang lebih dalam.
Di sinilah dua fenomena menarik mulai saling beririsan.
Dua Fenomena
Fenomena pertama adalah semakin padatnya destinasi wisata, terutama yang sedang viral. Tidak hanya keluarga mapan yang datang. Ada pekerja, mahasiswa, rombongan keluarga besar, pasangan muda, hingga mereka yang melakukan solo travelling. Semua seolah memiliki kebutuhan yang sama: hadir di tempat yang sedang ramai dibicarakan.
Media sosial kemudian menjadi etalase kehidupan. Setiap perjalanan bukan sekadar perjalanan, melainkan produksi citra. Foto-foto yang diunggah tidak lagi hanya menjadi dokumentasi pribadi, melainkan simbol eksistensi sosial. Seperti dikatakan oleh Anthony Giddens, identitas modern bukan sesuatu yang diwariskan, tetapi terus-menerus diproduksi melalui pilihan-pilihan gaya hidup. Kita tidak hanya menikmati perjalanan; kita sedang membangun narasi tentang diri sendiri.
Ironisnya, perjalanan itu sering kali lebih melelahkan daripada liburan itu sendiri. Kemacetan berjam-jam justru diterima sebagai bagian dari pengalaman. Seolah perjuangan menuju destinasi menjadi syarat sah untuk memperoleh kebahagiaan yang layak dipamerkan.
Baca juga : Jalan Tol dan Kota yang Kesepian
Fenomena kedua muncul dari ruang ekonomi masyarakat.
Beberapa tahun terakhir publik akrab dengan istilah MANTAB, singkatan dari Makan Tabungan. Istilah ini lahir sebagai humor sosial bagi mereka yang kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan pendapatan sehingga bertahan hidup dengan menghabiskan tabungan yang dahulu dikumpulkan.
Kini, humor itu tampaknya memasuki babak baru.
Setelah MANTAB, muncul istilah MANJA—Makan Pinjaman—atau MATANG—Makan Utang. Kedengarannya lucu. Namun, sebagaimana banyak humor dalam masyarakat, kelucuannya justru lahir dari penderitaan yang sedang dialami bersama.
Masyarakat mulai mengandalkan pinjaman untuk mempertahankan ritme kehidupan. Bukan semata demi investasi produktif, tetapi demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar cicilan lama, bahkan mempertahankan gaya hidup yang dianggap "normal". Utang perlahan berubah dari instrumen ekonomi menjadi mekanisme bertahan hidup.
Di titik inilah kedua fenomena tersebut bertemu.
Keramaian tempat wisata ternyata tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai indikator meningkatnya kesejahteraan.
Setidaknya terdapat tiga kelompok yang mungkin sedang memenuhi ruang-ruang wisata kita.
Baca juga : UIN Jakarta: Integrasi Satuan Pendidikan Tak Bergantung pada Satu Putusan PTUN
Kelompok pertama adalah mereka yang kondisi ekonominya memang relatif stabil. Mereka masih memiliki ruang finansial untuk menikmati rekreasi tanpa mengorbankan kebutuhan pokok.
Kelompok kedua adalah mereka yang baru kehilangan pekerjaan, tetapi masih memiliki pesangon atau tabungan. Mereka memilih menikmati waktu bersama keluarga sebelum memasuki fase ketidakpastian berikutnya. Barangkali ini adalah liburan terakhir sebelum kembali menghadapi kerasnya pencarian kerja.
Kelompok ketiga justru yang paling menarik secara sosiologis. Mereka berwisata menggunakan dana pinjaman. Ada yang berasal dari fasilitas kredit, ada yang menggunakan layanan pay later, ada pula yang meminjam kepada kerabat. Motivasinya beragam: takut tertinggal (fear of missing out), menjaga gengsi sosial, memenuhi janji kepada anak, atau sekadar ingin merasakan bahwa hidup masih layak dirayakan.
Di sinilah masyarakat sedang memperlihatkan wajah baru dari apa yang oleh Zygmunt Bauman disebut sebagai liquid life. Dalam masyarakat cair, kepastian semakin sulit ditemukan. Masa depan terasa kabur. Ketika esok tidak menjanjikan kepastian, hari ini menjadi satu-satunya ruang yang terasa nyata. Maka konsumsi, hiburan, dan pengalaman sesaat memperoleh makna yang jauh lebih besar dibandingkan perencanaan jangka panjang.
Logika yang bekerja menjadi sederhana: nikmati hari ini, urusan besok dipikirkan nanti.
Dalam budaya Sunda, mentalitas seperti ini sering diringkas dalam ungkapan, kumaha engké. Bukan semata-mata sikap pasrah, melainkan strategi psikologis untuk tetap bertahan ketika struktur sosial tidak lagi memberikan rasa aman.
Karena itu, ramainya tempat wisata sesungguhnya bisa dibaca sebagai ekspresi kolektif dari kelelahan sosial. Orang tidak sedang merayakan kemakmuran, melainkan sedang mencari jeda dari kecemasan yang terus-menerus mereka pikul.
Sementara itu, jika kita sedikit menggeser pandangan dari kawasan wisata menuju pusat-pusat ekonomi, kita menjumpai pemandangan yang berbeda. Ruko-ruko kosong semakin banyak. Toko-toko lama tutup satu per satu. Rumah-rumah dipasang papan bertuliskan "Dijual". Berbagai usaha keluarga yang dahulu bertahan puluhan tahun mulai kehilangan napas.
Baca juga : Selamatkan Aset Negara, UIN Jakarta Resmi Jalankan Integrasi SMA/SMK Triguna
Paradoks
Di satu sisi, destinasi wisata penuh sesak. Di sisi lain, denyut ekonomi produktif justru melemah. Dua realitas yang tampak bertolak belakang ini sesungguhnya sedang menceritakan kisah yang sama: masyarakat sedang berusaha mempertahankan kewarasan di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.
Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar makhluk yang bekerja (animal laborans), tetapi juga makhluk yang membutuhkan ruang untuk merasakan dirinya tetap hidup. Barangkali wisata, media sosial, dan berbagai bentuk konsumsi pengalaman hari ini telah menjadi ruang pelarian terakhir ketika pekerjaan, kepastian, dan masa depan semakin sulit ditemukan.
Karena itu, kita perlu berhati-hati membaca statistik keramaian. Penuhnya tempat wisata tidak otomatis berarti ekonomi sedang tumbuh. Sebagaimana ramainya pusat perbelanjaan tidak selalu menunjukkan meningkatnya kesejahteraan.
Boleh jadi, yang sedang kita saksikan adalah sebuah ilusi optimisme—keramaian yang dibangun di atas tabungan yang menipis, pinjaman yang membengkak, dan harapan yang semakin rapuh.
Tentu, hipotesis ini memerlukan pembuktian empiris melalui data yang lebih luas. Sosiologi tidak boleh berhenti pada kesan visual semata. Namun, sebagai pembacaan awal terhadap gejala sosial, fenomena ini patut direnungkan bersama.
Sebab, mungkin persoalan terbesar masyarakat hari ini bukan sekadar menurunnya pendapatan, melainkan berubahnya cara kita memaknai kebahagiaan. Ketika masa depan terasa semakin tidak pasti, kebahagiaan pun dipaksa hidup dari akhir pekan ke akhir pekan, dari unggahan ke unggahan, dari satu destinasi viral ke destinasi berikutnya.
Dan ketika kebahagiaan mulai dibiayai oleh utang, barangkali yang perlu kita tanyakan bukan lagi mengapa tempat wisata selalu penuh, melainkan: apakah masyarakat kita sedang benar-benar menikmati hidup, atau hanya sedang menunda rasa cemas yang belum menemukan jalan pulang?
Dr. Tantan Hermansah
Anggota Dewan Tafkir PP Persatuan Islam (Persis) & Dosen Ilmu Sosiologi Perkotaan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah & Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Anggota Dewan Tafkir PP Persatuan Islam (Persis) & Dosen Ilmu Sosiologi Perkotaan Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah & Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya