Dark/Light Mode

Saling Serang, Pilpres AS Makin Panas

Trump: Harris Liberal Gila Harris: Trump Pembohong

Senin, 29 Juli 2024 06:20 WIB
Donald Trump dan Kamala Harris. Foto: GETTY IMAGE
Donald Trump dan Kamala Harris. Foto: GETTY IMAGE

RM.id  Rakyat Merdeka - Persaingan Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) makin panas. Kandidat calon presiden (capres) Partai Demokrat, Kamala Harris dan capres Partai Republik Donald Trump, semakin keras saling lempar serangan.

Harris merasa sebagai calon underdog (tidak diunggulkan) dalam pemilihan presiden (pilpres) AS, 5 November mendatang. Meski demikian, kandidat capres berdarah India ini yakin bisa menggerakkan hati pemilih untuk tidak terjerumus dalam pemerintahan Trump. Apalagi dia menilai, Trump menyampaikan beberapa kebohongan ketika kampanye.

“Kami adalah underdog dalam pertandingan ini, tetapi ini adalah kampanye yang digerak­kan rakyat,” katanya kepada peserta yang hadir di acara peng­galangan dana di Negara Mas­sachusetts, Sabtu (27/7/2024).

“Donald Trump telah meng­gunakan beberapa kebohongan tentang rekam jejak saya. Dan beberapa ucapannya dan calon wakilnya aneh sekali,” sindir Wakil Presiden (Wapres) AS itu.

Baca juga : KPK Telusuri Dugaan Keterlibatan Pejabat

Tim kampanye Harris kemu­dian mengadopsi kata “aneh” sebagai istilah umum baru untuk menggambarkan retorika agresif capres Partai Republik itu.

Serangan Trump itu contohnya, yakni menuding Harris ingin melegalkan pembunuhan bayi yang baru lahir, berdasar­kan dukungan Harris terhadap hak aborsi.

Seperti yang dilakukannya dalam serangkaian kampanye pekan ini, Harris (59), kem­bali membandingkan latar be­lakangnya sebagai jaksa dengan catatan Trump sebagai narapidana. Menurut Harris, dia menawarkan tentang masa depan, sementara Trump (78), ingin mengembalikan AS ke masa lalu yang kelam.

Beberapa jam kemudian, Trump melepaskan serangan ke Harris pada kampanyenya di St Cloud, Minnesota. Menurutnya, Harris akan menghancurkan negara dan mengkritiknya dalam berbagai isu mulai dari keaman­an publik hingga imigrasi.

Baca juga : Pacar Baru El Rumi

“Jika seorang liberal gila seperti Kamala Harris masuk, impian Amerika akan mati,” kata Presiden Ke-45 AS itu, menam­bahkan bahwa Harris bahkan lebih buruk dari Biden.

Untuk diketahui, Minnesota belum pernah memilih capres dari Partai Republik selama 52 tahun. Namun, Trump kini memiliki peluang untuk menang setelah angka jajak pendapat Biden me­rosot setelah penampilannya yang buruk dalam debat 27 Juni lalu.

Tapi dengan kemunculan Harris, mengubah persaingan. Harris menghidupkan kembali dukungan untuk capres Partai Demokrat.

Harris, wanita kulit hitam pertama dan orang Asia-Amerika pertama yang menjabat sebagai Wapres AS, berhasil mengumpul­kan lebih dari 100 juta dolar AS (sekitar 1,6 triliun) dalam waktu 36 jam setelah Biden memutus­kan untuk mundur dari pencapre­san. Dan penggalangan dana pada Sabtu itu menghasilkan lebih dari 1,4 juta dolar AS (Rp 22,7 miliar) dari sekitar 800 orang yang hadir.

Baca juga : Jokowi Tak Mau Cuma Dinikmati Pengusaha

Sementara Trump, dikutip dari OpenSecrets pada 30 Juni, hingga saat ini sudah berhasil mengumpulkan sekitar 472 juta dolar atau sekitar Rp 7,7 triliun. Jumlah perolehan Trump lebih banyak dari pada Harris, karena Harris baru berkampanye setelah Biden mundur dari pencapresan. Tapi bila ditotal dari yang di­kumpulkan sejak Biden nyapres, duit yang diterima capres De­mokrat mencapai 458 juta dolar AS atau sekitar Rp 7,4 triliun.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.