Dark/Light Mode

PM Netanyahu Pecat Menhan Gallant, Israel Membara

Rabu, 6 November 2024 09:27 WIB
PM Netanyahu Pecat Menhan Gallant, Israel Membara

RM.id  Rakyat Merdeka - Demo di Israel langsung pecah, tak lama setelah Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu memecat Menteri Pertahanan (Menhan) Yoav Gallant, Selasa (5/11/2024).

Para pengunjuk rasa turun ke jalan. Mereka meminta Netanyahu mengundurkan diri, dan mendesak Menteri Pertahanan yang baru: Israel Katz memprioritaskan kesepakatan untuk membebaskan sisa sandera di Gaza.

Media Israel memberitakan, beberapa orang menyalakan api di Jalan Raya Ayalon dan memblokir lalu lintas di kedua arah.

Seorang pengunjuk rasa, Yair Amit mengatakan, langkah Netanyahu membahayakan seluruh negeri. Bukan hanya mereka yang berada di wilayah selatan dan utara, dekat tempat Israel melancarkan perang melawan Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon.

"Netanyahu tidak memecat Gallant setelah malam Gallant pertama, dia juga tidak melakukannya setelah malam Gallant kedua," kata Amit, seperti dilansir BBC.

Baca juga : PM Israel Benjamin Netanyahu Pecat Menteri Pertahanan Yoav Gallant

"Sudah saatnya perdana menteri mengundurkan diri dari jabatannya, dan membiarkan orang-orang yang serius untuk memimpin Israel," imbuhnya.

Mei tahun ini, Gallant menyuarakan rasa frustrasinya secara terbuka atas kegagalan pemerintah untuk menjawab pertanyaan tentang rencana pascaperang untuk Gaza.

Gallant ingin, Netanyahu menyatakan secara terbuka bahwa Israel tidak memiliki rencana untuk mengambil alih pemerintahan sipil dan militer di Gaza.

Sebuah kelompok yang mewakili keluarga orang-orang yang disandera oleh Hamas dalam serangan 7 Oktober 2024, juga mengutuk pemecatan Gallant oleh Netanyahu.

Mereka menyebutnya sebagai kelanjutan upaya untuk "menghancurkan" kesepakatan pembebasan.

Baca juga : Sjafrie Ditelpon Menhan Australia, Ini Yang Dibahas

Penggantinya, Katz, dianggap lebih agresif dalam hal strategi militer. Sekutu Netanyahu lainnya, Gideon Sa'ar - yang sebelumnya tidak memegang jabatan kabinet - akan menjadi menteri luar negeri yang baru.

Pemecatan Gallant akan berlaku efektif dalam 48 jam. Pengangkatan menteri baru memerlukan persetujuan pemerintah dan Knesset.

Netanyahu pertama kali memecat Gallant pada Maret 2023 setelah muncul ketidaksetujuan atas rencana kontroversial untuk merombak sistem peradilan.

Namun, dia terpaksa mencabut pemecatannya setelah protes publik besar-besaran di beberapa kota di Israel, yang kemudian dikenal sebagai Malam Gallant.

Pemecatan Gallant juga terjadi pada hari pemilihan presiden di Amerika, yang merupakan pendukung utama Israel dalam perang di Gaza.

Baca juga : MotoGP, Pecco Dan Martin Makin Membara

Sejauh ini, Gallant dipandang memiliki hubungan yang jauh lebih baik dengan Gedung Putih, ketimbang Netanyahu.

Seorang perwakilan Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih mengatakan, Gallant telah menjadi mitra penting dalam semua hal yang berkaitan dengan pertahanan Israel.

"Sebagai mitra dekat, kami akan terus bekerja sama dengan menteri pertahanan Israel berikutnya," ujar sumber tersebut.

Para pengamat mencatat, pemecatan Gallant terjadi pada saat Netanyahu berada di bawah tekanan oleh politisi sayap kanan. Dia diminta meloloskan RUU yang akan terus mengizinkan warga negara Israel yang sangat Ortodoks, dibebaskan dari wajib militer. Gallant sebelumnya merupakan penentang RUU tersebut.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.