Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
AS Siap Bantu Korban Gempa Myanmar, Trump: Yang Terjadi Sungguh Mengerikan
Sabtu, 29 Maret 2025 08:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Donald Trump menegaskan, Amerika Serikat (AS) akan membantu menanggulangi gempa mematikan Myanmar yang berkekuatan 7,7 skala Richter (SR).
Gempa dahsyat Asia Tenggara yang getarannya terasa hingga Thailand, Vietnam, India, dan China itu dilaporkan telah menewaskan lebih dari 150 orang dan lebih dari 700 orang terluka.
“Kami akan membantu. Kami akan mengingatkan orang-orang. Apa yang terjadi, sungguh sangat mengerikan,” kata Trump kepada wartawan di Washington, seperti dikutip The Associated Press (AP), Jumat (28/3/2025).
Pemangkasan besar-besaran bantuan luar negeri yang dilakukan pemerintahan Trump melalui Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) dan Departemen Luar Negeri, kemungkinan akan diuji dalam respons terhadap bencana alam besar pertama di masa jabatan kedua Trump.
Sarah Charles, mantan pejabat senior USAID yang mengawasi tim tanggap bencana dan keseluruhan kerja kemanusiaan di bawah pemerintahan Biden mengatakan, sistem saat ini berantakan. Tanpa orang atau sumber daya yang bisa diandalkan untuk bergerak cepat mengeluarkan korban dari reruntuhan bangunan dan menyelamatkan nyawa.
Baca juga : Gempa Myanmar, Gedung 30 Lantai Rubuh Di Thailand Makan Korban Jiwa
Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Tammy Bruce mengatakan, pemerintahan Trump akan menggunakan permintaan bantuan dan laporan dari wilayah tersebut, untuk membentuk respons terhadap gempa dahsyat itu.
“USAID telah mempertahankan tim ahli bencana dengan kapasitas tanggap bencana,” kata Bruce.
“Tim ahli ini memberikan bantuan dengan segera. Termasuk memasok makanan dan air minum yang aman, yang dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa setelah bencana,” imbuhnya.
Meskipun ada pemangkasan, Bruce memastikan hal tersebut tidak berdampak pada kemampuan AS untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut.
Pada hari yang sama, Jumat (28/3/2025), Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan mantan rekan Elon Musk yang saat ini menduduki posisi senior di USAID, Jeremy Lewin memberi tahu staf dan Kongres bahwa mereka telah memecat sebagian besar staf USAID yang tersisa. Program-program USAID yang masih ada dipindahkan di bawah Departemen Luar Negeri.
Baca juga : Kemlu RI Belum Ada Info WNI Korban Gempa Myanmar, Pemerintah Sediakan Hotline
Seperti diketahui, pemerintahan Trump yang bekerja sama dengan tim Musk, telah memangkas bantuan asing sejak Trump menjabat pada 20 Januari 2025. Pemecatan massal dan cuti paksa serta ribuan pemutusan kontrak mendadak telah memunculkan krisis pekerjaan bantuan dan pembangunan global.
Mitra AS disebut berjuang keras untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan USAID, dan miliaran dolar AS yang terutang untuk pekerjaan sebelumnya.
Setelah gempa bumi Turki dan Suriah pada tahun 2023, USAID mendukung tim sipil dari Los Angeles County dan Fairfax County, Virginia, yang memiliki skill dalam pencarian dan penyelamatan.
“Tim-tim tersebut biasanya dapat berangkat dalam waktu 24 jam,” kata Charles.
Menurutnya, parlemen dan pihak lain telah melakukan intervensi untuk menjaga kontrak kerja tim pencarian dan penyelamatan sipil, kontrak untuk transportasi khusus yang dibutuhkan untuk membawa tim pencarian, anjing, dan peralatan berat ke daerah bencana sepertinya telah diputus.
Baca juga : Gempa 7,7 SR Guncang Myanmar, Getaran Terasa Hingga Thailand Dan China
“Pemangkasan staf di USAID telah menghancurkan tim yang biasanya berkoordinasi dengan negara mitra untuk menargetkan upaya penyelamatan dan respons di lapangan,” papar Charles.
Penyelesaian kontrak bantuan asing lain oleh pemerintah, disebut telah berdampak pada layanan tanggap darurat bencana dengan PBB dan pihak lain.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya