Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Israel Sita Kapal Amal Pembawa Bantuan Gaza, 12 Ditahan Termasuk Greta Thunberg
Senin, 9 Juni 2025 18:39 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pasukan Angkatan Laut (AL) Israel mencegat dan menyita kapal pesiar berbendera Inggris, Madleen yang dioperasikan Koalisi Armada Pembebasan pro-Palestina (FFC), Minggu (8/6/2025). Tak cuma itu, pasukan Israel juga menangkap 12 awak yang berada di kapal tersebut, termasuk aktivis lingkungan Greta Thunberg.
Kapal yang semula dijadwalkan untuk mengirimkan bantuan simbolis ke Gaza pada Senin (8/6/2025) itu, kini menuju pelabuhan Israel.
Terkait hal tersebut, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Israel mengkonfirmasi kapal Madleen berada di bawah kendali Israel.
"'Kapal pesiar selfie yang mengangkut para selebriti, kini bergerak aman menuju ke pantai Israel. Para penumpang diharapkan kembali ke negara asal mereka," tulis Kemlu Israel via platform X.
Semua penumpang dilaporkan dalam kondisi aman dan tidak terluka. "Mereka diberi roti lapis dan air. Pertunjukannya sudah berakhir," imbuh Kemlu Israel.
Baca juga : Gempa M4,2 Guncang Kabupaten Bandung, Getaran Terasa Di Cianjur
Berikut daftar 12 awak kapal yang ditahan pasukan Israel, seperti dilansir BBC:
- Greta Thunberg: aktivis perubahan iklim Swedia
- Rima Hassan: lahir di kamp pengungsi Palestina di Suriah, sekarang menjadi anggota Parlemen Eropa
- Yasemin Acar: aktivis Jerman yang lahir dan dibesarkan oleh orang tua Kurdi dari Turki
- Thiago Avila: Koordinator Freedom Flotilla Brazil dan anggota Komite Pengarah Koalisi Freedom Flotilla
- Yanis Mhamdi: Jurnalis dan Direktur Blast, outlet media independen Prancis
- Omar Faiad: Koresponden Mubasher al-Jazeera
- Sergio Toribio: LSM konservasi laut Sea Shepherd
- Baptiste Andre, dokter dan aktivis Prancis
- Suayb Ordu: aktivis Turki
- Mark van Rennes: mahasiswa Teknik Belanda
- Reva Viard: warga negara Prancis
- Pascal Maurieras: pernah berpartisipasi dalam misi Freedom Flotilla sebelumnya.
Kru Ditangkap
Rima Hassan, salah satu kru yang ditangkap Israel melaporkan situasi dan kondisi pasca penangkapan via X.
"Awak Freedom Flotilla ditangkap tentara Israel di perairan internasional sekitar pukul 2 pagi," tulisnya.
Sebuah foto menunjukkan para kru duduk di atas kapal, semuanya mengenakan jaket pelampung, dengan posisi angkat tangan.
Kapal pesiar itu membawa bantuan kemanusiaan simbolis untuk warga Gaza, termasuk nasi dan susu formula bayi.
Baca juga : Waskita Kebut Tol Palembang-Betung, Target Fungsional Lebaran Tahun Depan
"Sejumlah kecil bantuan yang ada di kapal pesiar dan tidak dikonsumsi oleh para selebriti itu akan ditransfer ke Gaza melalui saluran kemanusiaan yang nyata," ujar Kemlu Israel via X.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz memerintahkan militer mencegah Madleen mencapai Gaza pada Minggu (8/6/2025). Katz menyebut misi itu sebagai upaya propaganda mendukung Hamas.
Katz juga mengaku telah memberikan instruksi setelah kapal tiba di pelabuhan Ashdod. Rencananya, para aktivis akan diperlihatkan video kekejaman dalam serangan 7 Oktober 2023 yang dipimpin Hamas di Israel selatan, yang memicu perang Gaza.
Hamas mengutuk penyitaan kapal itu sebagai terorisme negara. Mereka menegaskan, pihaknya memberi hormat kepada para aktivisnya.
Israel memberlakukan blokade angkatan laut di kantong pantai, setelah Hamas menguasai Gaza pada tahun 2007. Langkah tersebut dimaksudkan untuk menghentikan senjata mencapai kelompok militan, yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Israel dan Barat.
Baca juga : Papan Bawah Memanas, 6 Klub Terancam Tersingkir
Blokade tetap ada melalui berbagai konflik, termasuk perang saat ini, yang dimulai ketika militan yang dipimpin Hamas mengamuk melalui Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Pihak Israel menyebut serangan itu menewaskan lebih dari 1.200 orang dan menyandera 251 orang.
Sejak itu, Israel terus melakukan pembalasan terhadap Hamas. Kementerian Kesehatan di Gaza yang dikelola Hamas menyebut, serangan balasan itu telah menewaskan lebih dari 54 ribu orang Palestina. Di samping menyebabkan lebih dari 2 juta penduduknya mengungsi dan berisiko kelaparan.
Pelapor khusus PBB tentang hak asasi manusia di wilayah Palestina, Francesca Albanese, mendukung operasi FFC. Di bahkan mendesak kapal lain untuk menantang blokade Gaza.
"Perjalanan Madleen mungkin telah berakhir, tetapi misinya belum berakhir. Setiap pelabuhan Mediterania harus mengirim kapal dengan bantuan dan solidaritas ke Gaza," tulisnya via X.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya