Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Cerita Perjalanan Ke Rusia (5/Selesai)
Zoya, Perempuan Suku Chukchi Penjaga Tradisi
Selasa, 8 Juli 2025 07:45 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wartawan Rakyat Merdeka Wahyu Suryani mengunjungi Kota Moskow dan Pevek di Rusia bersama wartawan dari Uzbekistan, Kirgistan, Afrika Selatan dan Ghana pada 21 Juni-1 Juli 2025. Kunjungan ini untuk melihat teknologi modern yang dimiliki Rosatom berupa Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Terapung (Floating Nuclear Power Plant/FNPP). Berikut ini laporannya.
Di sudut paling utara Rusia, di atas tanah beku yang luas tanpa pohon, seorang perempuan berdiri menjaga warisan leluhurnya. Namanya tidak begitu sering disebut media, namun semangatnya menyalakan bara tradisi yang hampir padam. Dia warga suku Chukchi yang telah menghuni Semenanjung Chukotka.
Zoya Sopka, warga suku Chukchi yang tinggal di atas bukit, menerima kedatangan saya dan rombongan di sela kunjungan ke FNPP. Sambutannya hangat dan penuh senyuman. Dia pun memperkenalkan diri dan anaknya yang bernama Victoria Sopka. Ada juga kerabat yang tinggal bersamanya bernama Alexandra dan Grigory Tynevgi.
Meski langit cerah, tapi udara di bukit terasa sangat dingin. Angin bertiup kencang. Zoya pun mempersilakan kami masuk ke dalam Yaranga, rumah tradisional berbentuk kubah berbahan kulit rusa. Tapi tunggu dulu…sebelum masuk Yaranga, kami harus melangkahi api kecil yang ada di sebelahnya. “Api itu untuk mengusir roh jahat yang menempel pada kita,” kata Zoya.
Di dalam Yaranga sudah tersedia makanan dan minuman untuk saya dan rombongan. Ada ikan salmon, lemak ikan paus, roti, daging dan sup daging rusa. Minumannya ada teh yang dibuat khusus, aromanya wangi. Di dalam Yaranga juga ada tempat memasak menggunakan kayu, sehingga menambah kehangatan di dalamnya.
Dengan suara bergetar antara kebanggaan dan kerinduan, Zoya menuturkan bagaimana dia membangun Yaranga. Yaranga bukan sekadar tempat berteduh, tetapi simbol perlawanan terhadap hilangnya jati diri.
Rumah bulu itu bahkan dia bawa hingga ke Moskow dalam sebuah festival budaya. “Kota Pevek sangat mencintai Yaranga kami,” ujar Zoya.
Baca juga : PDIP Sarankan Ketua DPR Segera Bertemu Presiden
Zoya berusia 70 tahun dan berprofesi sebagai perawat. Dia mengaku terkadang tidak punya waktu mengurus Yaranga. Kendati begitu, dia dan keluarganya senang dengan kehidupan di sini. Dia percaya dengan keyakinan, harapan dan cinta. “Saya bisa hidup di sini. Saya punya semua yang diperlukan,” katanya.
Tak lama berada di Yaranga, Zoya mengajak saya dan rombongan masuk ke dalam tenda, museum kecil yang dibuatnya sendiri, sekaligus tempat beristirahat alias tidur. Dia juga memamerkan kerajinan tangan, kereta luncur rusa dan perlengkapan hidup sehari-hari.
Satu per satu dia jelaskan apa yang ada di dalam tenda. Zoya bilang, semua pakaian ini berasal dari bulu rusa kutub.
“Rusa seperti dewa utama bagi kami, para peternak rusa kutub. Baju, sepatu, rumah, semua dibuat dari bulu rusa,” ucapnya.
“Kami juga menggunakan bulu rusa untuk membuat tempat tidur dengan teknik khusus, seperti kantong tidur,” jelasnya sambil menunjukkan kantong tidur yang dimaksud.
Selain itu, sepatu musim dingin juga terbuat dari bulu rusa. Alasnya dari kulit anjing laut putih. Semua dibuat dengan tangan. Tidak ada salju yang menembus baju dan sepatu itu.
Lalu, ada kaos kaki di dalam sepatu yang terbuat dari bulu. Mudah untuk berjalan dan tetap hangat. Ada juga scarf untuk dipakai di leher.
Baca juga : Karding Gandeng UPI Dirikan Migrant Center
Selanjutnya, Zoya menunjukkan sejumlah alat yang bisa digunakan untuk membantu sehari-hari. Misalnya, palu untuk melembutkan dan mencacah daging. Kemudian alat pembuat api, mangkuk kayu, cangkul untuk menanam pasak Yaranga dan tanduk rusa untuk membersihkan baju dari salju.
Zoya juga menunjukkan sepatu besar yang terbuat dari bulu untuk dipakai di atas es saat memancing ikan. Bahkan, ada lomba menari dengan sepatu besar ini lho...
Di tengah era modernisasi dan tekanan kehidupan, suku Chukchi menghadapi tantangan berat. Kebiasaan menggembala rusa, berburu mamalia laut dan berpindah kamp tergeser oleh pembangunan permukiman permanen, sekolah dan industri kolektivisasi.
Namun, Zoya tidak menyerah. Dia terus merawat praktik tradisional ini mulai dari menenun pakaian berbulu ganda yang tahan suhu ekstrem, hingga merawat ritual-ritual adat di Yaranga.
“Sebelum tidur, kami menyalakan lilin kecil dua jam sebelumnya agar hangat,” tuturnya.
Chukchi sejak lama terkenal dengan ketangguhan menghadapi iklim Arktik. Segala perlengkapan hidup dibuat untuk melawan musim dingin yang bisa membunuh dalam hitungan jam.
Zoya juga berbagi cerita masa kecil, bagaimana orang tuanya saling mencintai, bagaimana anak-anaknya kini tumbuh dewasa, menempuh pendidikan dan tetap menghargai tradisi.
Baca juga : Ketua Golkar Petahana Tunggu Restu Bahlil
Menurutnya, anak-anak suka bermain, bertengkar, belajar, yang penting tetap mempunyai harapan, kepercayaan dan cinta. “Anak-anak kami sama seperti anak-anak lain,” ungkapnya.
Di masa lalu, Zoya mengenang perjalanan antarpermukiman hanya butuh jarak puluhan kilometer dengan kereta luncur rusa. Kini, banyak permukiman menghilang setelah bubarnya Uni Soviet, membuat orang harus menempuh ratusan kilometer sebelum bertemu komunitas lain.
Zoya sadar, modernisasi adalah pisau bermata dua. “Kalau tidak sekarang kita rawat, kapan lagi?” tegasnya.
Dia percaya warisan budaya bukan sekadar ritual masa lalu, tetapi sumber kebanggaan dan identitas. (Selesai)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya