Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
AS Bersiap Sambut Putin Di Alaska, Trump: Pertemuan Ini Untuk Cek Ombak
Jumat, 15 Agustus 2025 05:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) tengah mempersiapkan lokasi pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, Jumat siang (15/8/2025) waktu setempat. Banyak pihak menyoroti pertemuan ini sebagai momen krusial yang bisa menentukan arah konflik Rusia-Ukraina.
Meski disebut bersejarah, sejumlah analis tidak menaruh harapan besar. Mereka khawatir hasilnya akan serupa dengan pertemuan empat mata Trump-Putin di Helsinki, Finlandia, pada 2018.
Pada 2018, kedua pemimpin bertemu atas undangan Presiden Finlandia Sauli Niinistö untuk membahas keretakan hubungan diplomatik AS-Rusia, menyusul tuduhan campur tangan Rusia dalam Pemilu Presiden AS tahun 2016 dan pencaplokan Crimea. Usai pertemuan, Trump tampak kagum pada Rusia. Senyum lebar menghiasi wajah sang taipan real estate itu.
Ketika ditanya soal dugaan campur tangan Rusia dalam Pilpres AS, Trump justru membela Putin. “Presiden Putin mengatakan Rusia tidak terlibat. Saya juga tidak yakin mengapa harus Rusia yang dituduh,” ujar Trump, santai.
Pernyataan itu mengejutkan Fiona Hill, Penasihat Senior Trump saat itu. Padahal, sebelum pertemuan, Trump dikenal vokal menuduh Rusia mencampuri hasil Pilpres AS.
Kini, taruhannya jauh lebih besar. Ukraina berharap, pertemuan ini bisa membuka jalan menuju perdamaian dengan dukungan AS.
Trump dan Putin dijadwalkan bertemu di Joint Base Elmendorf-Richardson, Anchorage, Alaska. Para pemimpin Eropa juga khawatir, Trump kembali terpengaruh oleh retorika Putin dan memuji Rusia di akhir pertemuan. Pejabat Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri AS pun tak berharap banyak.
Baca juga : Tiga Sinyal Penting Dari Pertumbuhan Ekonomi
“Ini hanya pertemuan untuk cek ombak. Tidak banyak,” ujar Trump dalam konferensi pers, Senin (11/8/2025), dikutip dari CNN.
Trump mengaku akan mengetahui dalam beberapa menit pertama apakah Putin siap untuk gencatan senjata atau tidak.
“Mungkin saya akan mengatakan kepada para pemimpin Eropa, ‘lanjutkan perjuangan kalian’ atau bisa saja saya berkata, ‘kita berhasil mendapatkan perdamaian’,” ujarnya.
Direktur Senior Pusat Eurasia di Dewan Atlantik John Herbst menilai, Putin menginginkan kesepakatan konkret dengan Trump.
“Tidak adanya keterlibatan pemimpin Eropa dalam pertemuan Alaska mengingatkan kita pada Konferensi Yalta tahun 1945, ketika AS, Uni Soviet dan Inggris memutuskan nasib separuh Eropa tanpa melibatkan mereka,” ujar Herbst kepada Guardian, Kamis (14/8/2025).
Ketemu Empat Mata
Menjelang pertemuan Alaska, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menyerahkan wilayahnya kepada Rusia. Pernyataan ini sekaligus menolak rencana Trump yang disebut ingin menukar wilayah Ukraina sebagai alat barter perdamaian.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, pertemuan ini sebagai latihan bagi Trump untuk memahami sudut pandang Rusia dalam konflik Ukraina. Fiona Hill pun menyampaikan hal serupa.
Baca juga : ESG di Tambang Pulau Obi Dorong Pertumbuhan Ekonomi Halmahera
“Begitulah cara Presiden Trump melakukannya. Dia akan melakukannya dengan mudah,” ujar Hill.
Namun, absennya penasihat dalam pertemuan empat mata ini menimbulkan tanda tanya. Akankah kesepakatan tertutup menghasilkan keputusan konkret, meski ada penerjemah atau pencatat yang hadir?
“Pertemuan ini seperti tersesat di hutan,” imbuh Hill.
Dia juga mengingatkan kembali pertemuan Helsinki tujuh tahun lalu, ketika Trump menyampaikan bahwa penegak hukum AS mendapat akses ke Kantor Pusat Intelijen Rusia (GRU).
Kala itu, Trump mengklaim telah membuat kesepakatan dengan Putin, penegak hukum AS diberi akses ke agen GRU yang dituduh mempengaruhi Pemilu AS. Sementara Putin diberi akses untuk mengetahui siapa saja yang terlibat dalam penyusunan Undang-Undang (UU) Magnitsky.
UU Magnitsky memberikan sanksi kepada individu yang dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran HAM atau korupsi, terutama di negara asing. Awalnya, aturan itu ditujukan untuk pejabat Rusia yang terlibat dalam kematian pengacara pajak Sergei Magnitsky. UU ini kemudian diperluas secara global.
“Jelas, pertemuan itu tidak membuahkan hasil,” keluh Hill.
Baca juga : Ambil Langkah Beda, Rusia Akui Pemerintahan Taliban
Terkait pertemuan terbaru di Alaska, Wakil Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Alexey Fadeyev mengatakan, Putin akan membela kepentingan nasionalnya.
Menanggapi isu pertukaran wilayah antara Rusia dan Ukraina, Fadeyev menegaskan, struktur teritorial Rusia telah diatur dalam konstitusi.
“Semuanya sudah final dan bukan alat negosiasi,” tegasnya kepada Anadolu, Rabu (13/8/2025).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya