Dark/Light Mode

Turun Ke Jalan Serukan Aksi Block Everything

Ribuan Rakyat Prancis Desak Macron Lengser

Jumat, 12 September 2025 04:05 WIB
Demonstran menduduki stasiun Gare du Nord, Paris, Prancis, dalam unjuk rasa, Rabu (10/9/2025). (Foto Tangkapan Layar).
Demonstran menduduki stasiun Gare du Nord, Paris, Prancis, dalam unjuk rasa, Rabu (10/9/2025). (Foto Tangkapan Layar).

RM.id  Rakyat Merdeka - Ratusan ribu warga Prancis tak bisa lagi menahan amarahnya akibat aspirasinya tidak didengar. Mereka turun ke jalan menentang kebijakan Pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat kecil.

Aksi unjuk rasa itu digelar Rabu (10/9/2025). Mereka menyerukan aksi, Block Everything alias Blokir Semuanya. Mereka mengecam Presiden Emmanuel Macron dan Perdana Menteri (PM) baru, Sebastien Lecornu.

Sejak pagi, jalan-jalan utama macet total. Tong sampah, pagar besi, hingga ban bekas menutup akses jalan raya. Di beberapa kota, bus dibakar, kabel kereta dipotong, dan ratusan titik api menyala.

Polisi yang dikerahkan 80 ribu personel sibuk membendung massa. Di Rennes, sebuah bus jadi korban. Di barat daya, kabel listrik diputus hingga kereta berhenti beroperasi.

Di Lyon, tong sampah dibakar, batu beterbangan ke arah polisi. Di Paris, gas air mata mewarnai udara. Tapi massa tak gentar.

Baca juga : Tarif Kios Jangan Pake Sistem Sewa Mall Dong

Menteri Dalam Negeri Bruno Retailleau mengklaim aksi massa gagal memblokade negara. Tapi datanya sendiri menunjukkan hampir 200 ribu orang turun ke jalan, dikutip AFP.

Serikat buruh CGT malah menyebut jumlah peserta tembus 250 ribu. Hasil akhirnya? 450 orang ditangkap, 12 polisi terluka, dan lebih dari 800 titik protes di seluruh negeri.

“Yang harus mundur itu Macron, bukan cuma perdana menteri,” teriak Fred, salah satu demonstran, sambil mendorong barikade.

Macron memang sudah lama jadi bulan-bulanan rakyat. Setelah reformasi pensiun yang bikin panas tahun 2022, hingga kerusuhan 2023 karena polisi menembak mati remaja di pinggiran Paris. Kini giliran pemotongan anggaran sosial yang memicu amarah.

“Penting bagi kami untuk bertindak sekarang. Macron sudah tidak peduli dengan rakyat Prancis,” tuduh pengunjuk rasa lainnya, Marie.

Baca juga : Jaga Perasaan Rakyat, Pejabat Dilarang Gelar Pesta Mewah dan Flexing

PM Lecornu, mantan Menteri Pertahanan yang baru menjabat, langsung bikin gaduh dengan wacana memangkas dana layanan publik, memotong dua hari libur nasional, dan menaikkan produktivitas.

“Pajak orang kaya yang dinaikkan, bukan pekerja yang terus ditekan!” seru Jean-Baptiste, demonstran di Paris.

Spanduk-spanduk bertebaran di lapangan kota: “Lecornu, kamu tak diterima di sini” dan “Macron, lengser sekarang!”

Gerakan “Blokir Semuanya” ini jadi deja vu buat rakyat Prancis. Mirip sekali dengan gelombang Rompi Kuning 2018 yang berawal dari protes pajak bahan bakar, lalu meluas jadi perlawanan rakyat lintas batas sosial dan politik.

“Kemarahan Rompi Kuning tidak pernah benar-benar padam. Rakyat makin sulit hidup dengan gaji pas-pasan,” kata Aglawen Vega, seorang perawat.

Baca juga : Pupuk Kaltim Gelar Semarak HUT ke-80 RI Bersama Ribuan Masyarakat Bontang

Seperti lingkaran setan, pemerintahan Macron terus digoyang. Majelis Nasional sempat dibubarkan, pemilu dadakan melahirkan parlemen yang penuh oposisi. Kini, giliran rakyat kembali jadi lawan terberatnya.

“Bukannya menyelesaikan masalah utama negeri, pemimpin justru sibuk ganti pejabat,” cibir Baptise Sagot yang berdemo bersama teman kampusnya, di Paris.

“Pajaki yang kaya, kurangi anggaran berlebihan, dan beri kemudahan bagi pekerja,” saran joules.

Unjuk rasa yang mulanya menggema di media sosial Facebook, X, dan Telegram. Kemudian ajakan turun ke jalan pun menyebar ke seluruh negeri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.