Dark/Light Mode

Jutaan Orang Protes Kebijakan Tangan Besi Trump

Demonstrasi `No Kings` Menggema Di AS & Eropa

Senin, 20 Oktober 2025 05:52 WIB
Jutaan Orang Protes Kebijakan Tangan Besi Trump Demonstrasi `No Kings` Menggema Di AS & Eropa

RM.id  Rakyat Merdeka - Seruan “No Kings!” menggema dari jalanan Amsterdam, Belanda, hingga New York, Amerika Serikat (AS). Hal ini menandai gelombang unjuk rasa terbesar untuk memprotes Presiden AS Donald Trump. Jutaan orang di AS dan kota-kota besar di Eropa, turun ke jalan menolak praktik otoritarianisme di bawah kepemimpinan taipan properti itu.

Aksi damai ini berlangsung pada Jumat (17/10) dan Sabtu (18/10/2025), serentak di 50 negara bagian AS. Aksi yang di­ikuti pria, wanita, tua, muda dan anak-anak ini berlangsung damai. Mereka mengenakan aneka kostum sambil membawa hewan peliharaan. 

Ada juga yang me­makai kostum seperti sosok Trump, Ratu Prancis Marie Antoinette, hingga kuda poni, se­bagai simbol perlawanan ter­hadap­ kekuasaan yang dianggap absolut.

Tak hanya itu, aksi massa ini juga berlangsung di Kedutaan Besar AS di Paris, Prancis; Berlin, Jerman dan Amsterdam, Belanda. 

“Diperkirakan 7 juta orang ber­partisipasi di berbagai kota­ besar, seperti New York, Was­hington DC, Los Angeles, Chi­cago, hingga Boston,” terang Co Founder Indivisible Leah Green­berg kepada AFP, Sabtu (18/10/2025).

Bahkan di negara bagian konservatif, seperti Alabama dan Montana, ribuan orang dikabarkan ikut turun ke jalan.

“Hari ini, jutaan rakyat Ame­rika bersatu menolak otoritaria­nisme dan mengingatkan dunia bahwa demokrasi kita adalah mi­lik rakyat, bukan milik ambisi satu orang,” tegas anggota In­di­visible Ezra Levin.

Baca juga : Investasi Korsel Di AS Terombang-Ambing

Gelombang protes No Kings mencuat sebagai respons atas ke­bijakan Trump yang dinilai menyalahgunakan kekuasaan.

Sejak awal 2025, Trump me­ngerahkan Garda Nasional ke kota-kota yang dipimpin Partai De­mokrat, menindak kelompok li­be­ral dan melancarkan deportasi massal yang memicu kecaman luas. Banyak yang menilai tindakan ini mengikis prinsip-prinsip demokrasi.

Organisasi besar seperti Ame­rican Civil Liberties Union (ACLU), MoveOn dan Ame­ri­can Federation of Teachers men­dukung aksi ini. Mereka menekankan pentingnya men­jaga­ aksi tetap damai dan mela­tih peserta menghadapi kemungki­nan tekanan dari aparat.

“Tidak ada yang lebih pat­riotik daripada menggunakan hak konstitusional untuk protes damai,” ucap Diedre Schlifeling dari ACLU.

Aksi ini juga mendapat du­kung­an luas dari politisi Partai De­mokrat seperti Kamala Harris, Hillary Clinton, Alexandria Ocasio-Cortez dan Bernie San­ders. Di Washington DC, Sanders ikut berorasi di hadapan massa.

“Kami di sini karena kami men­cintai Amerika. Ini bukan sekadar melawan satu orang, tapi melawan sistem yang dikuasai segelintir miliarder seperti Elon Musk, Jeff Bezos dan Mark Zuckerberg,” teriak Sanders.

“Keserakahan mereka telah membajak ekonomi dan sistem politik kita, memperkaya diri sendiri dengan mengorbankan ke­luarga pekerja,” imbuhnya.

Baca juga : Jaga Stabilitas Pangan, Pj Gubernur Gelar Gerakan Pangan Murah Serentak Di Papua

Kamala Harris lewat unggahan­ video menyerukan partisipasi rakyat. “Kekuasaan sejati ada di tangan rakyat,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari kal­angan ilmuwan dan figur publik. Bill Nye, pembawa acara Bill Nye the Science Guy, mengkritik kebijakan Trump ter­hadap sains. Termasuk pe­mang­kasan anggaran besar-besaran pada Departemen Kesehatan dan La­yanan Kemanusiaan (HHS) di bawah Robert F. Kennedy Jr.

“Mereka tidak mendukung kemajuan ilmu pengetahuan. Me­reka justru menekannya, sehingga merugikan kesehatan dan kesejahteraan bangsa,” sentil Nye.

Meski sebagian besar aksi berjalan da­mai, penyelenggara te­tap waspada. Sorak-sorai this is­ what democracy looks like di­teriakkan massa diiringi suara den­tuman drum dan lon­ceng­. Polisi berjaga di pinggir jalan, sementara helikopter dan drone berputar di udara untuk memantau situasi.

Seorang penyelenggara melalui pengeras suara mengklaim, sekitar 100.000 orang turun ke jalan di New York. Namun kepolisian memperkirakan, sekitar 20.000 di sepanjang 7th Avenue.

Para demonstran menilai, Trump menerapkan kebijakan tangan besi.­ Salah satunya dengan me­nye­rang media, menyerang la­wan-lawan politik, hingga me­nangkapi­ imigran yang tak ter­­dokumentasi. 

“Saya tidak pernah me­nyangka­ akan melihat hari ke­matian demokrasi di negeri ini,” keluh Colleen Hoffman, pen­siunan yang melakukan aksi di New York.

Baca juga : Kapolri Tinjau Operasi Pasar Murah Di Polres Sidoarjo

Isaac Harder (16) mengaku khawatir dengan masa depan gene­rasinya. “Mereka menghancurkan demokrasi. Mereka menindak protes damai dan mengirim militer ke kota-kota Amerika,” protes Harder yang ikut berdemo di Los Angeles, California.

Di tengah aksi besar-besaran ini, Trump tak banyak ber­ko­men­­tar. “Mereka bilang saya raja­. Saya bukan raja,” tegas Trump Dalam wa­wancara sing­kat­ dengan Fox News, Sabtu (18/10/2025). 

 

Naskah ini terbit di koran Rakyat Merdeka edisi 20 Oktober 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.