Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ogah Balas Kebijakan Trump, Begini Jurus Malaysia Hadapi Kenaikan Tarif AS
Kamis, 3 April 2025 15:54 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) baru saja mengumumkan kenaikan tarif sebesar 10 persen serta tarif timbal balik terhadap ekspor Malaysia ke AS. Kenaikan tarif AS ini tidak hanya menyasar Malaysia, tapi juga banyak negara lain, termasuk Indonesia: 32 persen.
Menanggapi hal ini, Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia (MITI) menegaskan belum mempertimbangkan tarif balasan sebagai respons atas kebijakan tersebut. Pihaknya saat ini tengah aktif berkomunikasi dengan otoritas AS untuk mencari solusi yang menjunjung semangat perdagangan bebas dan adil.
“Malaysia akan memanfaatkan Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) untuk mencari keuntungan perdagangan timbal balik dan mengejar Technology Safeguards Agreement dengan AS guna memfasilitasi kerja sama teknologi tinggi di sektor semikonduktor, aerospace, dan ekonomi digital,” bunyi pernyataan resmi MITI, Kamis (3/4).
Pusat Komando Geoekonomi Nasional (NGCC), yang baru saja disetujui oleh Kabinet, akan mengevaluasi dampak pengumuman AS tersebut. Fokus utama NGCC adalah memastikan ekonomi Malaysia tetap kompetitif di tengah situasi yang tidak menentu.
Baca juga : Warga Uni Eropa Wajib Ajukan ETA Jika Ingin Masuk Inggris, Harga Akan Naik
NGCC dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Anwar Ibrahim. MITI dalam hal ini berfungsi sebagai Sekretariat dengan melibatkan perwakilan tingkat tinggi dari kementerian dan lembaga utama.
Menurut Biro Analisis Ekonomi AS, Malaysia menempati peringkat 15 dalam daftar surplus perdagangan AS dengan nilai 24,8 miliar dolar AS pada 2024. Meski mengalami defisit perdagangan barang, AS memiliki surplus di sektor jasa dengan Malaysia.
MITI menyampaikan bahwa defisit perdagangan dengan AS turut dipengaruhi oleh banyaknya perusahaan AS yang telah beroperasi di Malaysia selama puluhan tahun, berkat ekosistem industri yang mapan, terutama di sektor listrik dan elektronik (E&E).
MITI mengakui bahwa kenaikan tarif di era Presiden Trump menjadi tantangan besar bagi dinamika perdagangan global. Meski menghormati keputusan tersebut, Malaysia tetap percaya pada pendekatan konstruktif untuk hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.
Baca juga : Maung Bandung Bersiap Hadapi Borneo Dan Bali United
Untuk mengurangi dampak tarif, Malaysia akan memperluas pasar ekspor dengan memprioritaskan kawasan berpotensi tinggi dan memanfaatkan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) yang ada, seperti Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
“Selain itu, Malaysia akan memperkuat ketahanan rantai pasok melalui percepatan implementasi kebijakan industri utama, seperti Rencana Induk Industri Baru 2030 (NIMP 2030) dan Peta Jalan Transisi Energi Nasional (NETR),” lanjut siaran pers MITI.
Pemerintah, ungkap MITI juga tengah berkoordinasi dengan industri yang terdampak sambil menjajaki program dukungan untuk membantu pelaku usaha beradaptasi.
Di tingkat ASEAN, pertemuan pertama ASEAN Geoeconomic Task Force, yang dibentuk pada Retret Menteri Ekonomi ASEAN Februari 2025, akan segera digelar untuk membahas isu ini. MITI juga menegaskan bahwa pihaknya akan terus menjunjung tinggi komitmen menjaga kepentingan ekonomi Malaysia dan hubungan perdagangan yang erat dengan AS melalui dialog terbuka dan kolaborasi.
Baca juga : Besok Lebaran, Begini Awal Mula Salat Id Di Lapangan Terbuka
“Dengan fundamental ekonomi yang kuat, Malaysia menghadapi tantangan ini dari posisi yang siap. Meski lingkungan eksternal menantang, pasar dan produk kami yang beragam, ditambah permintaan yang tinggi, akan menjadi penyangga. Permintaan domestik, sebagai penggerak utama pertumbuhan, juga tetap solid,” tutup MITI.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya