Dark/Light Mode

Pidato Di Bloomberg Economic Forum Singapura

Jokowi Mengulas Ekonomi Cerdas, Revolusi AI Dan Robot

Sabtu, 22 November 2025 08:11 WIB
Jokowi. (Foto: Bloomberg New Economy)
Jokowi. (Foto: Bloomberg New Economy)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden ke-7 RI Jokowi tampil impresif saat berpidato di panggung Bloomberg New Economy Forum 2025 di Singapura, Jumat (21/11/2025). Di hadapan para tamu internasional, Jokowi mengulas soal arah ekonomi cerdas (intelligent economy), revolusi kecerdasan buatan (AI), dan robot humanoid yang semakin dekat.

Jokowi menegaskan, revolusi teknologi itu tak bisa dihindari. Namun dengan fondasi yang kuat dan semangat kolaborasi, Jokowi yakin Indonesia dan Asia Tenggara akan melaju cepat di era ekonomi baru tersebut.

Bloomberg New Economy Forum 2025 adalah forum yang mempertemukan para pemimpin pemerintahan, bisnis, teknologi, dan keuangan dari berbagai negara. Forum ini digelar selama tiga hari, 19–21 November 2025. Berbeda dari forum ekonomi lain, ajang ini memberi panggung utama bagi negara-negara berkembang.

Di pertemuan tahun ini, Jokowi mendapat kehormatan menjadi pembicara penutup. Pemimpin Redaksi Bloomberg John Micklethwait mengaku punya alasan sendiri memilih Jokowi untuk menutup forum tersebut. Kata dia, Jokowi adalah negarawan besar dari Asia yang merakyat. Selama memimpin Indonesia, Jokowi menonjol dalam dua hal. Yaitu mampu mendorong pembangunan yang Indonesia-sentris tetapi tetap ramah investasi asing, serta lihai menavigasi hubungan Amerika Serikat–China.

Tak cuma itu, Micklethwait menyebut Jokowi sebagai presiden yang sangat sopan dan "politisi jalanan" dengan kemampuan menyapa rakyat di mana saja. “Dia termasuk yang terbaik sekelas Bill Clinton dan Jacques Chirac (mantan Presiden Prancis dua periode, red),” kata Micklethwait sambil mempersilakan Jokowi naik ke atas podium.

Sesaat kemudian, Jokowi muncul dari sisi kanan panggung. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu tampil rapi dengan jas abu-abu, dasi gelap, dan peci hitam. Sebelum naik ke mimbar, Jokowi sempat membungkuk memberi hormat kepada para tamu.

Jokowi berpidato dalam bahasa Inggris. Tanpa teks. Selama kurang lebih 11 menit. Bicaranya lancar, intonasinya jelas. Meski logat Jawanya tetap terdengar. Gaya pidatonya luwes. Sesekali tangannya terangkat memberi penekanan.

Baca juga : Pemerintah Berhasil Balikkan Arah Ekonomi: Sebelumnya Ngerem, Sekarang Mulai Ngegas

Jokowi membuka pidatonya dengan menceritakan pengalamannya saat memimpin Indonesia. Pertanyaannya saat itu, apa yang harus dilakukan untuk membangun ekonomi yang kuat bagi 280 juta penduduk. Jawabannya, kata Jokowi, adalah memulai dari hal-hal paling dasar. Tak ada jalan pintas.

"Karena itu kami fokus membangun hal yang dasar. Membangun infrastruktur. Membangun jalan, pelabuhan, bandara, pembangkit listrik, dan jaringan digital. Tanpa infrastruktur yang kuat, ekonomi tidak bisa tumbuh,” kata Jokowi.

Kata Jokowi, Indonesia saat ini telah membuat kemajuan besar dalam infrastruktur digital. Membangun pusat data, meluncurkan satelit baru, memperluas jaringan digital, dan meningkatkan konektivitas di seluruh negeri. Di saat yang sama, pemerintah memperkenalkan regulasi yang mendorong bisnis lokal dan startup untuk tumbuh.

Menurut dia, pembangunan infrastruktur dan penyusunan regulasi itu sangat penting sebelum memasuki tahap intelligent economy. Kata Jokowi, infrastruktur memberikan fondasi bagi konektivitas, arus data, dan integrasi teknologi. "Ini adalah tulang punggung terbaik yang membuat intelligent economy berjalan," ungkapnya.

Sementara dengan regulasi yang tepat, ekosistem dapat tumbuh lebih kuat dan lebih cepat, sehingga memungkinkan inovasi, teknologi, dan kewirausahaan berkembang bersama.

Dengan infrastruktur dan regulasi, peluang-peluang baru lahir. "Startup Indonesia seperti Gojek, Tokopedia, Halodoc, Traveloka bisa tumbuh karena ekosistem yang mendukung," ulasnya.

Jokowi juga menyinggung soal keberhasilan QRIS sebagai standar pembayaran nasional yang digunakan secara universal. “Dengan QRIS, pedagang kaki lima di desa kecil memakai sistem yang sama dengan perusahaan besar di Jakarta,” tuturnya.

Baca juga : Ngobrol Ringan Empat Mata, Jokowi-Hsien Loong Perkuat Persahabatan RI-Singapura

Pelajarannya, kata Jokowi, jika Pemerintah menyiapkan fondasi yang tepat, inovasi akan mengikuti.

Jokowi melanjutkan, Indonesia kini bersiap menghadapi intelligent economy. Indonesia tengah belajar memanfaatkan data, teknologi, dan sumber daya melalui hilirisasi. Hasilnya sudah terlihat. Indonesia kini menjadi bagian dari rantai pasok global industri kendaraan listrik.

"Bagi kami, ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi membangun fondasi masa depan," ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah memastikan generasi muda dan pelaku UMKM dibekali keterampilan digital dan literasi data agar mampu bersaing. Menurut Jokowi, langkah-langkah tersebut adalah fondasi menghadapi intelligent economy dan revolusi AI.

Soal AI, Jokowi yakin revolusi AI tidak akan menghilangkan pekerjaan. AI justru akan menciptakan banyak pekerjaan. Kuncinya adalah kesiapan. Karena itu, menurut Jokowi, penting bagi anak muda dan UMKM mempelajari AI, coding, algoritma, dan machine learning. “Ini hal fundamental. Kita harus melatih mereka agar punya literasi digital yang kuat,” tambahnya.

Jokowi juga menyinggung potensi besar Asia Tenggara. Kawasan ini, katanya, tak lagi sekadar pasar, melainkan kekuatan global baru dengan jutaan UMKM yang go-digital dan lahirnya unicorn-unicorn baru.

“Unicorn berikutnya mungkin tak datang dari Silicon Valley atau Shenzhen. Bisa saja datang dari Jakarta, Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur, Manila, atau Hanoi,” ucapnya.

Baca juga : Prabowo Dapat Banyak “Like”

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi juga menyerukan kebutuhan redefinisi sistem ekonomi global. Kata Jokowi, lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia harus mendefinisikan ulang instrumen keuangan, sistem keuangan, dan infrastruktur digital. Begitu juga dengan WTO. Organisasi Perdagangan Dunia itu, kata Jokowi, harus mendefinisikan ulang sistem perdagangan dan tarif.

Menurut Jokowi, redefinisi akan terjadi di semua sektor. Dimulai dari pendidikan dan kesehatan. "Kita harus mendefinisikan ulang proses, sistem, dan strategi agar kita bisa tumbuh lebih baik dan lebih cepat," cetusnya.

Jokowi menutup pidatonya dengan peringatan dan optimisme. Kata dia, dalam lima hingga 15 tahun mendatang, dunia akan menghadapi revolusi robot humanoid dan revolusi besar AI. “Kita harus siap,” tuturnya.

Jokowi menegaskan, perjalanan Indonesia menunjukkan, transformasi membutuhkan keberanian, ketekunan, dan keyakinan. Dengan fondasi kuat dan kolaborasi yang semakin terbuka, Jokowi yakin Indonesia dan Asia Tenggara akan melaju cepat dalam era ekonomi baru tersebut.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.