Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Presiden Ukraina Mau Lepas Ambisi Gabung Ke NATO Demi Akhiri Perang Dengan Rusia
Senin, 15 Desember 2025 10:14 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mau melepas ambisi bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sebagai bagian dari upaya mengakhiri perang dengan Rusia. Pernyataan itu mengemuka dalam perundingan intensif dengan utusan Amerika Serikat (AS) di Berlin, Jerman yang berlangsung lebih dari lima jam pada Minggu (14/12/2025) dan berlanjut ke hari kedua, Senin (15/12/2025).
Zelensky bertemu dengan utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, serta menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner dalam pembicaraan yang difasilitasi Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Meski belum ada rincian resmi hasil pertemuan, penasihat Zelenskiy, Dmytro Lytvyn, mengatakan bahwa para mediator sedang menelaah draf dokumen dan Presiden akan menyampaikan pernyataan setelah perundingan selesai.
"Pertemuan tersebut berlangsung lebih dari lima jam dan berakhir hari ini (Minggu,red) dengan kesepakatan untuk dilanjutkan besok pagi," kata Lytvyn kepada wartawan dalam obrolan WhatsApp, dikutip Japan Times, Senin (15/12/2025).
Baca juga : Mimpi Budi Arie Gabung Ke Gerindra Masih Gelap
Menjelang pembicaraan, Zelensky menegaskan Ukraina siap mengesampingkan target keanggotaan NATO dengan imbalan jaminan keamanan yang mengikat secara hukum dari negara-negara Barat. Menurutnya, jaminan bilateral dengan AS yang setara Pasal 5 NATO, serta dukungan keamanan dari negara Eropa dan mitra lain seperti Kanada dan Jepang, sebagai opsi untuk mencegah invasi Rusia di masa depan.
"Dan ini sudah merupakan kompromi dari pihak kami," katanya, menambahkan bahwa jaminan keamanan tersebut harus bersifat mengikat secara hukum, ketika menjawab pertanyaan wartawan dalam obrolan WhatsApp.
"Sejak awal, keinginan Ukraina adalah bergabung dengan NATO, ini adalah jaminan keamanan yang nyata. Beberapa mitra dari AS dan Eropa tidak mendukung arah ini," ungkap Zelensky.
Langkah ini menandai perubahan besar bagi Kiev, mengingat aspirasi bergabung dengan NATO tercantum dalam Konstitusi Ukraina dan selama ini dipandang sebagai pelindung utama dari agresi Rusia.
Baca juga : Presiden Mau Bangun Jalur Kereta Trans-Sumatera, Kalimantan, Dan Sulawesi
Namun, tawaran tersebut juga sejalan dengan salah satu tuntutan utama Moskow, yang sejak awal meminta Ukraina melepaskan ambisi jadi anggota NATO, bersikap netral, dan melarang penempatan pasukan aliansi di wilayahnya.
Rusia menuntut Ukraina menarik pasukan dari sekitar 10 persen dari wilayah Donbas yang masih dikuasai Kiev, serta menginginkan komitmen tertulis dari negara-negara Barat untuk menghentikan perluasan NATO ke timur. Hingga kini, Ukraina tetap menolak menyerahkan wilayah.
Pengiriman Witkoff ke Berlin dipandang sebagai sinyal Washington melihat peluang kemajuan perundingan hampir empat tahun sejak invasi Rusia pada 2022.
Di bawah tekanan Trump untuk segera mencapai kesepakatan damai, Zelensky menuding Rusia memperpanjang konflik lewat serangan mematikan ke kota-kota serta infrastruktur listrik dan air Ukraina. Dia menyebut para mediator membahas rencana 20 poin yang berujung pada gencatan senjata, dengan opsi penghentian tembak-menembak di sepanjang garis depan saat ini sebagai pilihan yang adil.
Baca juga : PGN Ajak Warga Pesisir Muara Gembong Hidup Sehat Di Hari Pangan Dunia
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menilai kehadiran utusan AS sebagai tanda positif, meski mengakui komposisi negosiator bukan ideal.
Terkait tawaran Ukraina meninggalkan target NATO, Pistorius mengingatkan pengalaman pahit Kiev pada 1994 ketika menyerahkan senjata nuklir warisan Soviet dengan imbalan jaminan keamanan yang kemudian gagal mencegah agresi. Menurutnya, jaminan keamanan tanpa keterlibatan signifikan AS akan bernilai terbatas.
Para sekutu Eropa menyebut fase ini sebagai momen krusial yang akan menentukan masa depan Ukraina, sembari mengupayakan dukungan keuangan dengan memanfaatkan aset bank sentral Rusia yang dibekukan untuk membiayai kebutuhan militer dan sipil Kiev.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya