Dark/Light Mode

Efek Trump Tidak Ganggu Ekonomi RI

Senin, 5 Januari 2026 08:09 WIB
Presiden AS Donald Trump memantau penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (Foto: Instagram White House)
Presiden AS Donald Trump memantau penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (Foto: Instagram White House)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro atas perintah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memicu ketegangan geopolitik global. Meski demikian, sejumlah ekonom menilai dinamika tersebut tidak akan mengganggu ekonomi Indonesia.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman mengatakan, peristiwa politik di Venezuela tidak memiliki transmisi langsung terhadap sektor riil Indonesia. Hal ini lantaran hubungan diplomatik, perdagangan, maupun ketergantungan energi Indonesia dengan Venezuela relatif kecil.

“Penangkapan Nicolas Maduro secara langsung tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Produksi, konsumsi, hingga neraca perdagangan nasional relatif tidak terdampak,” ujar Rizal saat dihubungi Rakyat Merdeka, Minggu (4/1/2026).

Menurut Rizal, dampak yang berpotensi muncul lebih bersifat tidak langsung melalui jalur sentimen global. Eskalasi geopolitik dapat mendorong sikap risk off di pasar keuangan global, di mana investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman.

“Negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi mengalami tekanan jangka pendek pada pasar saham dan nilai tukar. Namun, selama tidak berkembang menjadi krisis geopolitik regional atau global, dampaknya diperkirakan bersifat sementara,” katanya.

Baca juga : Aceh Tamiang Listrik Nyala BBM Lancar

Pandangan serupa disampaikan Direktur Riset Bright Institute Muhammad Andri Perdana. Ia menilai, dampak terhadap Indonesia masih terbatas dan baru akan membesar apabila ketegangan politik meluas ke negara produsen minyak lain.

“Risiko akan meningkat jika konflik berkepanjangan dan merembet ke negara seperti Iran yang juga sedang menghadapi gejolak politik,” ujar Andri.

Ia menambahkan, eskalasi berkepanjangan berisiko meningkatkan ketidakpastian global dan memicu capital outflow dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah pun berpeluang terjadi seiring pergeseran dana ke aset aman seperti emas.

Sementara itu, ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy menilai dampak akhir dari ketegangan AS–Venezuela sangat ditentukan oleh durasi ketidakpastian dan respons kebijakan AS. Menurutnya, eskalasi geopolitik berpotensi memengaruhi harga komoditas global.

“Kenaikan harga komoditas seperti batu bara, nikel, dan tembaga bisa menguntungkan Indonesia sebagai negara pengekspor. Namun lonjakan harga minyak justru berisiko meningkatkan beban impor dan menekan asumsi harga minyak dalam APBN 2026,” jelas Yusuf.

Baca juga : Stok Awal 12,5 Juta Ton, Stop Impor Beras Lanjut Di 2026

Ia mengingatkan, jika harga minyak melampaui asumsi APBN, tekanan terhadap neraca perdagangan dan fiskal sulit dihindari. Selain itu, memanasnya kembali tensi geopolitik global menjadi risiko tersendiri bagi perdagangan internasional Indonesia.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai IHSG masih berada dalam tren naik yang sehat dan berpeluang menguji kembali level tertinggi sepanjang masa di kisaran 8.777. Namun, eskalasi geopolitik global berpotensi memicu koreksi terbatas dalam jangka pendek.

“Pada awal pekan, IHSG berpeluang melemah terbatas untuk menguji area support di kisaran 8.642–8.672. Area tersebut krusial untuk mengukur kekuatan pasar,” ujar Hendra.

Ia menambahkan, sentimen geopolitik memang menguntungkan saham energi dan komoditas, tapi sekaligus meningkatkan kehati-hatian investor. Ke depan, pergerakan IHSG juga akan dipengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga global, nilai tukar rupiah, arus dana asing, serta stabilitas makroekonomi domestik.

“Meski bergerak fluktuatif, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi yang sehat dengan prospek jangka menengah dan panjang yang tetap konstruktif,” pungkasnya.

Baca juga : Dipastikan Yusril, KUHP Dan KUHAP Baru Tak Bungkam Pengkritik

Di tingkat global, pandangan ekonom dunia terbelah. Kepala Ahli Strategi Ekonomi Annex Wealth Management Brian Jacobsen memperkirakan ketegangan AS–Venezuela dapat mendorong kenaikan harga minyak dan berimbas pada inflasi di AS.

“Mengingat cepatnya eskalasi ini, pasar minyak kemungkinan menjadi yang paling reaktif,” kata Brian, dikutip Minggu (4/1/2026).

Sebaliknya, Pendiri Fordham Global Foresight Tina Fordham menilai pasar cenderung optimistis. Ia memprediksi terbukanya kembali peluang kewirausahaan dan investasi ketika pasar dibuka. [FAQ/UMM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.