Dark/Light Mode

Perang AS Vs Iran Diputuskan 10 Hari Lagi

Sabtu, 21 Februari 2026 08:13 WIB
Foto: White House
Foto: White House

RM.id  Rakyat Merdeka - Apakah Amerika Serikat (AS) akan benar-benar menyerang Iran? Presiden Donald Trump menyatakan, kepastian terkait kemungkinan perang dengan Negeri Para Mullah tersebut akan ditentukan dalam 10 hari ke depan.

Pernyataan itu disampaikan Trump dalam pertemuan perdana anggota Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) di Washington DC, Kamis (19/2/2026).

“Iran harus membuat kesepakatan mengenai program nuklirnya atau ‘hal-hal yang sangat buruk’ akan terjadi,” tegas Trump, dikutip dari Reuters, Jumat (20/2/2026).

Trump menekan Teheran agar segera menyetujui persyaratan terkait pengayaan uranium yang diajukan Washington. Jika kesepakatan tidak tercapai dalam waktu paling lambat 15 hari, ia menegaskan akan mengambil langkah lanjutan, meski tidak merinci bentuk kebijakan tersebut.

“Anda akan mengetahuinya dalam sekitar 10 hari ke depan. Saya pikir itu waktu yang cukup, 10–15 hari, kurang lebih itu batas maksimal,” ujarnya.

Baca juga : Lapor Mas Wapres Kini Dibuka Lagi

Sebelumnya, AS dan Iran sempat menggelar perundingan di Jenewa, Swiss, pada Selasa (17/2/2026). Perundingan yang dimediasi Oman tersebut belum menghasilkan kesepakatan memuaskan.

Dalam pertemuan itu, Washington menuntut pembatasan serta pengawasan ketat terhadap pengayaan uranium agar Iran tidak mampu mengembangkan senjata nuklir. Sebaliknya, Teheran meminta pencabutan sanksi di sektor minyak, perbankan, dan perdagangan guna memulihkan perekonomian nasionalnya.

Wakil Presiden AS JD Vance menilai, Iran belum merespons secara memadai batasan yang diajukan Washington. Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut terdapat sedikit kemajuan, meski sejumlah isu krusial masih menemui jalan buntu.

“Banyak alasan dan argumen yang dapat diajukan untuk melakukan serangan terhadap Iran,” ujarnya.

Di pihak lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan, kedua negara baru menyepakati hal-hal mendasar. Ia menegaskan, Iran menolak memberikan konsesi besar dan menekankan bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan damai, bukan untuk pengembangan bom atom seperti yang dituduhkan Washington dan Israel.

Baca juga : Sepakati Perpanjangan IUP PT Freeport, Presiden Pastikan RI Teman Sejati Amerika

Merespons peringatan Trump, Iran melayangkan surat protes kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Dalam surat tersebut, Teheran menegaskan, jika diserang, seluruh pangkalan militer AS di kawasan akan menjadi sasaran.

Menurut Iran, langkah itu sah sebagai bentuk pembelaan diri berdasarkan hukum internasional. “AS akan memikul tanggung jawab penuh dan langsung atas setiap konsekuensi yang tidak terduga,” bunyi surat tersebut, dikutip dari The National.

Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani juga meminta Dewan Keamanan menghentikan ancaman Washington. Ia menyebut peringatan AS sebagai bentuk penggunaan kekuatan yang melanggar hukum internasional. Meski demikian, Iran menegaskan tetap membuka ruang diplomasi.

Di tengah ketegangan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan peringatan keras. Ia menegaskan setiap serangan akan dibalas dengan kekuatan yang lebih besar.

Israel bahkan dikabarkan menunggu lampu hijau dari AS untuk menyerang sistem rudal balistik Iran. Tel Aviv disebut siap bergerak jika negosiasi nuklir antara AS dan Iran benar-benar menemui jalan buntu.

Baca juga : Jadi Wakil Ketua Komisi III DPR Lagi, Sahroni Janji Perbaiki Diri

“Kita siap dan waspada untuk membela diri terhadap setiap tantangan. Kita bekerja sama erat dengan sekutu besar kita, Amerika Serikat. Saya telah menjelaskan kepada Presiden Trump prinsip-prinsip yang harus menjadi pedoman dalam setiap negosiasi dengan Iran,” ujar Netanyahu, dikutip dari Israel Defense Forces/AP.

Meski perundingan nuklir belum berakhir, sinyal eskalasi konflik terlihat dari pengerahan kekuatan militer. Kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford dilaporkan bergerak menuju kawasan Timur Tengah. Pesawat tanker dan jet tempur AS yang bermarkas di Inggris juga dipindahkan lebih dekat ke wilayah tersebut.

Sebagai respons, Garda Revolusi Iran menggelar latihan militer di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia. Latihan tersebut dilaporkan melibatkan kerja sama dengan militer Rusia dan China.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.