Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Rupiah Dekati 17.000 Per Dolar, Gubernur BI Anggap Kemurahan
Jumat, 20 Februari 2026 07:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah terus melemah dan mendekati level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai kurs saat ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi nasional. Perry menganggap, nilai tersebut kemurahan.
Dikutip dari Bloomberg, pada awal perdagangan Kamis (19/2/2026), rupiah berada di level Rp 16.929 per dolar AS. Rupiah turun 45 poin atau setara 0,27 persen dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (18/2/ 2026) di posisi Rp 16.884 per dolar AS.
Kondisi ini menjadi perhatian Perry dalam konferensi pers virtual hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (19/2/2026). Menurutnya, fluktuasi rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan meningkatnya aktivitas ekonomi domestik.
Baca juga : Usut Dugaan Korupsi POME, Kejagung Sita Enam Mobil
Dari sisi global, ketidakpastian pasar keuangan dunia masih tinggi. Kondisi tersebut memicu arus modal keluar dan memperkuat posisi dolar AS terhadap mayoritas mata uang negara berkembang.
Sementara dari sisi domestik, permintaan valuta asing (valas) oleh korporasi meningkat seiring ekspansi usaha dan kebutuhan pembiayaan operasional. Kenaikan permintaan valas ini turut memberi tekanan terhadap rupiah. Meski demikian, Perry menegaskan harga rupiah di pasar saat ini tidak mencerminkan kekuatan ekonomi Indonesia yang sesungguhnya.
“BI memandang nilai tukar rupiah rendah atau undervalued dibandingkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia, termasuk konsistensi inflasi yang terjaga dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen,” ujar Perry.
Baca juga : Ketua PPP Jabar Daftarkan Gugatan Di PN Jakarta Pusat
Merespons tekanan tersebut, BI berkomitmen memperkuat stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar offshore lewat instrumen Non-Deliverable Forward (NDF), serta intervensi di pasar domestik melalui pasar spot, Domestic NDF (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Ekspansi likuiditas rupiah juga ditempuh dengan menurunkan posisi instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dari Rp 916,97 triliun pada awal 2025 menjadi Rp 819,50 triliun per 18 Februari 2026. Perry optimistis ke depan rupiah akan stabil bahkan cenderung menguat, didukung intervensi BI serta fundamental ekonomi yang solid.
“Hal ini tercermin pada imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat,” katanya.
Baca juga : Awas, Terorisme Bergerak Kian Lincah Di Ruang Digital
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan, pendalaman pasar terus dilakukan, termasuk memperluas instrumen operasi moneter valas untuk mata uang yuan China. Menurutnya, transaksi perdagangan Indonesia dengan China melalui skema Local Currency Transaction (LCT) terus meningkat.
Hingga Desember 2025, nilai transaksi LCT dengan China tercatat mencapai 2,7 juta dolar AS. Langkah tersebut ditempuh untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya