Dark/Light Mode

Dua Kapal Induk AS Siaga Di Timur Tengah

Swedia Dan Jepang Desak Warganya Tinggalkan Iran

Senin, 23 Februari 2026 06:10 WIB
Kapal induk AS USS Gerald R. Ford. Foto: U.S Naval Forces Central Command/U.S. 6th Fleet/Handout via REUTERS
Kapal induk AS USS Gerald R. Ford. Foto: U.S Naval Forces Central Command/U.S. 6th Fleet/Handout via REUTERS

RM.id  Rakyat Merdeka - Gelombang kekhawatiran itu segera direspons sejumlah negara dengan meningkatkan peringatan perjalanan bagi warganya. Swedia hingga Jepang, panas dingin.

Pemerintah Swedia, Sabtu (21/2/2026), secara terbuka menyarankan warganya meninggalkan Teheran. Imbauan itu disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Swedia Maria Malmer Stenergard, menyusul meningkatnya risiko eskalasi konflik di Iran dan kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataan di platform X, Stenergard menegaskan situasi keamanan di Iran dan wilayah sekitarnya berada dalam kondisi tidak menentu.

“Situasi di Iran dan di kawasan sangat tidak pasti. Saya menegaskan kembali imbauan untuk tidak melakukan perjalanan ke Iran dan mendesak warga Swedia yang berada di sana segera meninggalkan negara itu,” ujarnya dikutip Anadolu, Sabtu (21/2/2026).

Stenergard menambahkan, hingga kini jalur keluar masih tersedia, baik melalui penerbangan komersial maupun penyeberangan darat. Namun, Pemerintah Swedia tidak menjamin bantuan evakuasi apabila situasi memburuk secara tiba-tiba.

Imbauan serupa juga dilontarkan Kementerian Luar Negeri Serbia, Sabtu (21/2/2026).

“Mengingat situasi Iran yang memanas, kami imbau menghindari lokasi yang berpotensi membahayakan,” tulis pernyataan Kemlu Serbia dikutip Bernama, Minggu (22/2/2026).

Baca juga : Agnez Mo, Sentil Komentar Negatif Haters

Pemerintah Jepang tak ketinggalan meningkatkan level kewaspadaan. Negeri Matahari Terbit meminta warganya lebih waspada. Tidak hanya di Iran, tetapi juga di 50 negara lain. Termasuk sejumlah negara di Timur Tengah dan beberapa negara Eropa.

Dalam peringatan di laman resmi Kemlu Jepang, Sabtu (21/2/2026), Tokyo menilai dinamika konflik di Timur Tengah dapat berkembang cepat dan berdampak luas. Risiko insiden tak terduga tak bisa dikesampingkan, baik di dalam maupun di luar kawasan konflik.

Pemerintah Jepang juga memperingatkan kemungkinan gangguan transportasi udara. Termasuk penutupan ruang udara dan penghentian operasi bandara, yang dapat berujung pada pembatalan atau penundaan penerbangan internasional.

“Warga Jepang diminta memantau perkembangan terbaru melalui sumber resmi dan media kredibel,” demikian bunyi imbauan tersebut.

Selain itu, warga Jepang diminta menghindari fasilitas militer AS dan lokasi sensitif lainnya, serta menyiapkan langkah darurat untuk keselamatan pribadi jika situasi memburuk.

Daftar negara dalam peringatan tersebut berada di Timur Tengah seperti Israel, Palestina, Irak, Suriah, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, Yaman, Turki, Bahrain, Yordania, Lebanon dan Afghanistan.

Imbauan itu dikeluarkan Kanada serta sejumlah negara Eropa seperti Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Belanda, Belgia, Polandia dan Rumania.

Baca juga : Tak Terganggu MBG, Presiden Justru Tambah Anggaran Pendidikan

Peringatan beruntun dari sejumlah negara itu muncul seiring peningkatan mobilisasi armada militer AS di kawasan.

Selain USS Gerald R. Ford, kapal perusak kelas Aegis Arleigh Burke USS Mahan, dilaporkan tengah bergerak menuju Laut Mediterania setelah melintasi Selat Gibraltar.

Pergerakan ini terjadi ketika kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, lebih dulu terdeteksi berada di kawasan tersebut. Awal pekan ini, citra satelit memperlihatkan Abraham Lincoln berada di lepas pantai Oman, sekitar 700 kilometer dari wilayah Iran.

Di tengah manuver militer tersebut, pejabat Amerika Serikat dan Iran diketahui telah menggelar putaran kedua perundingan di Swiss.

Sejumlah kemajuan disebut telah dicapai. Namun, Presiden AS Donald Trump pada Kamis menyatakan dunia akan mengetahui dalam 10 hari ke depan apakah Washington akan mencapai kesepakatan dengan Teheran atau justru menempuh opsi militer.

Kedatangan dua dari 11 kapal induk yang dioperasikan Angkatan Laut AS mempertegas sinyal bahwa Washington menyiapkan berbagai opsi di tengah kebuntuan diplomasi.

Baik kapal induk Gerald R. Ford maupun Abraham Lincoln memimpin kelompok tempur yang dilengkapi sejumlah kapal perusak berpemandu rudal. Masing-masing dioperasikan lebih dari 5.600 personel dan membawa puluhan pesawat tempur.

Baca juga : Bukan Untuk Operasi Militer, TNI Bertugas Ke Gaza Menjaga Rakyat Sipil

Dengan konfigurasi tempur penuh, kehadiran armada ini bukan sekadar simbol kekuatan, melainkan pesan strategis bahwa opsi militer tetap berada di atas meja.

Ketegangan ini tak lepas dari mandeknya perundingan nuklir terbaru yang digelar di Jenewa, Swiss, Selasa (17/2/2026). Pertemuan yang dimediasi Oman itu berakhir tanpa kesepakatan berarti.

Teheran tetap bersikukuh bahwa pengayaan uranium merupakan hak kedaulatan untuk kepentingan sipil. Sementara Washington menuntut pembatasan ketat guna mencegah potensi pengembangan senjata nuklir.

Perundingan putaran kedua ini menyusul putaran pertama pada 6 Februari lalu yang digelar di Muscat, Oman. DAY

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Senin, 23 Februari 2026 dengan judul "Dua Kapal Induk AS Siaga Di Timur Tengah Swedia Dan Jepang Desak Warganya Tinggalkan Iran"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.