Dark/Light Mode

Pemerintah Perlu Pendekatan Dan Lobby Khusus

Iran, Tolong Buka Selat Hormuz Untuk Kapal Minyak RI

Minggu, 8 Maret 2026 08:36 WIB
Foto: PIS
Foto: PIS

RM.id  Rakyat Merdeka - Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) masih tertahan di Selat Hormuz. Pemerintah Indonesia diminta melakukan pendekatan dan lobi khusus kepada Iran agar kapal pengangkut minyak tersebut dapat melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.

Pemerintah Iran menutup Selat Hormuz menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke negara tersebut. Situasi ini membuat banyak kapal pengangkut minyak dari Timur Tengah tidak dapat melintas. Kapal yang melanggar bahkan terancam diserang.

Meski demikian, Iran dilaporkan masih mengizinkan kapal milik negara sekutunya seperti China dan Rusia untuk melintasi Selat Hormuz.

Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah menilai, ada dua langkah yang dapat dilakukan pemerintah. Pertama, meminta secara diplomatis kepada Iran agar mengizinkan kapal milik PIS meninggalkan Selat Hormuz.

Kedua, memperbarui sikap politik Indonesia, terutama setelah wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dengan mempertegas posisi Indonesia yang merujuk pada hukum internasional serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Dengan demikian akan terlihat bahwa Indonesia memahami posisi Iran yang bertahan untuk mempertahankan keutuhan wilayah, pemerintahan, dan martabatnya sebagai bangsa yang berperadaban,” ujar Rezasyah, saat dihubungi Rakyat Merdeka, Sabtu (7/3/2026).

Baca juga : Kemenimipas Perkuat Penegakan Hukum Dan Pemberantasan Narkoba Di Lapas & Rutan

Ia juga mengapresiasi langkah Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran yang telah menjalankan tugas diplomasi. Namun, untuk membuka akses Selat Hormuz bagi kapal-kapal Indonesia diperlukan pendekatan dan lobi khusus.

Menurut Rezasyah, pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui tokoh bangsa, seperti mantan presiden atau wakil presiden yang memiliki kedekatan pribadi dengan para pemimpin Iran. Selain itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan organisasi persahabatan Indonesia–Iran juga dinilai dapat berperan dalam membantu membuka komunikasi dengan pemerintah Iran.

“Bantuan Iran akan sangat bermanfaat bagi ketahanan energi Indonesia,” kata Rezasyah.

Ia menambahkan Iran kemungkinan akan mempertimbangkan keseriusan sikap Indonesia. Karena itu, para pejabat Indonesia perlu menyampaikan pesan yang konsisten terkait pentingnya pasokan energi dari kawasan tersebut bagi Indonesia.

Selain melalui jalur diplomasi formal, Rezasyah juga menilai Indonesia dapat menunjukkan simpati terhadap kondisi Iran di tengah konflik yang terjadi. Misalnya, dengan doa bersama di masjid-masjid di Indonesia untuk mendoakan perdamaian dunia.

Sementara itu, Ahli Kajian Timur Tengah Tia Mariatul Kibtiah mengatakan, penutupan Selat Hormuz tidak berlaku bagi sekutu Iran. Ia mencontohkan, kapal berbendera Rusia dan China yang masih dapat berlayar di kawasan tersebut.

Baca juga : Pemerintah Kebut Pendataan Bantuan Pascabencana Sumatera

Dengan situasi yang ada, ia menilai diperlukan pendekatan dan lobi yang lebih kuat. Jika upaya di tingkat menteri belum berhasil, tidak menutup kemungkinan presiden dapat turun langsung. “Sepertinya perlu Pak Prabowo yang langsung turun tangan,” ujar Tia.

Ia menambahkan, pemerintah perlu memastikan kapal-kapal Indonesia dapat melintasi Selat Hormuz, mengingat jalur tersebut sangat vital bagi perdagangan energi global. Terlebih Indonesia merupakan negara net importir minyak yang sangat bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri menyatakan, KBRI Teheran saat ini tengah melakukan diplomasi dengan pemerintah Iran agar kapal milik Pertamina dapat melintasi Selat Hormuz.

Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu Santo Darmosumarto mengatakan, komunikasi diplomatik terus dilakukan dengan pihak Iran terkait terkait dua tanker dari pihak Pertamina. “Saat ini sedang di-follow up oleh KBRI Teheran karena komunikasinya memang harus dilakukan dengan pihak Iran,” kata Santo kepada wartawan, Jumat (6/3/2026).

Ia juga menyebut kondisi di Iran saat ini masih belum sepenuhnya kondusif. Meski demikian, pemerintah Indonesia terus berupaya menjaga komunikasi dengan pihak Iran.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah tengah melakukan negosiasi untuk mengatasi situasi dua kapal tanker PIS yang berada di kawasan tersebut.

Baca juga : DPR Ingatkan Pemerintah Percepat Pembangunan Gedung Baru Sekolah Rakyat

Sementara itu, PT Pertamina (Persero) memastikan terus memantau kondisi dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) di Selat Hormuz serta menjaga keselamatan awak kapal di tengah dinamika keamanan kawasan.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kemlu. Saat ini kondisi awak kapal maupun aset perusahaan tetap aman.

“Untuk di Selat Hormuz memang ada dua kapal Pertamina yang masih berada di sana. Sebenarnya ada empat kapal, tetapi dua lainnya berada di luar Selat Hormuz,” kata Baron.

Pasokan Energi

Baron mengatakan, perusahaan telah mengamankan cadangan energi nasional di atas batas minimum yang ditetapkan pemerintah, yakni berkisar 21 hingga 23 hari. Bahkan, untuk sejumlah produk tertentu, cadangan energi dapat mencapai hingga 35 hari.

Baron menjelaskan, angka 21–23 hari merupakan ambang batas minimum pengamanan cadangan energi, bukan berarti stok BBM akan habis setelah periode tersebut. “Selama distribusi dan suplai berjalan normal, stok terus bergerak karena Pertamina terus melakukan penambahan pasokan,” kata Baron. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.