Dark/Light Mode

Cegah Penipuan Donasi, Kedubes Iran Buka Rekening Resmi Bantuan Kemanusiaan

Rabu, 18 Maret 2026 17:46 WIB
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi. Foto: Instagram/iranindonesia
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi. Foto: Instagram/iranindonesia

RM.id  Rakyat Merdeka - Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, resmi membuka jalur bantuan kemanusiaan melalui rekening kedutaan guna mengantisipasi potensi penipuan donasi di tengah meningkatnya gelombang simpati masyarakat Indonesia terhadap konflik yang melanda negaranya.

Langkah ini diambil sebagai respons atas banyaknya permintaan dari warga Indonesia yang ingin berkontribusi dalam upaya rekonstruksi wilayah-wilayah yang terdampak serangan militer sejak akhir Februari lalu.

Boroujerdi mengapresiasi dukungan moral yang luar biasa dari berbagai organisasi Islam, universitas, hingga masyarakat umum di Indonesia. Namun, ia menekankan pentingnya keamanan dalam penyaluran dana agar bantuan tersebut benar-benar sampai ke pihak yang membutuhkan melalui kanal tunggal milik kedutaan.

Baca juga : Menjaga Ruang Aman Demokrasi bagi Pembela Hak Asasi Manusia

"Saya mohon agar tidak memberikan bantuan kepada siapa pun secara terpisah atau bahwa seseorang tidak mengumpulkannya, dan hanya menggunakan rekening resmi kedutaan yang ada di media sosial kedutaan untuk membantu," kata Boroujerdi Dalam pernyataannya di Instagram resmi kedutaan @iranindonesia, Rabu (18/3/2026).

Pantauan RM.ID, Kedubes Iran telah memosting rekening donasi resmi untuk membantu korban dan rekonstruksi akibat perang ke rekening Bank BRI, atas nama Embassy of the Islamic Republic of Iran di nomor 0206 0100 2438 302.

Situasi di Iran dilaporkan memprihatinkan setelah serangkaian serangan yang menyasar infrastruktur sipil seperti sekolah hingga pusat-pusat kebudayaan.

Baca juga : 165 Siswi Iran Wafat Kena Rudal, Rieke: Kejahatan Keji Kemanusiaan

Boroujerdi menyebutkan bahwa agresi tersebut telah melanggar garis merah hukum internasional karena menargetkan fasilitas yang seharusnya dilindungi dalam masa perang.

"Mulai dari menyerang sekolah dasar anak-anak dan membunuh anak-anak Iran, hingga membuat pemimpin spiritual Iran menjadi syahid," ungkapnya saat merinci dampak gempuran yang juga merusak lingkungan dan kapal-kapal yang tidak berdaya.

Mengenai peluang perdamaian, pemerintah Iran menyatakan tetap pada pendiriannya untuk tidak melakukan negosiasi atau gencatan senjata dalam waktu dekat.

Baca juga : Iran, Tolong Buka Selat Hormuz Untuk Kapal Minyak RI

Boroujerdi beralasan bahwa kepercayaan terhadap proses diplomasi telah luntur setelah mereka mengalami serangan justru saat perundingan sedang berlangsung di masa lalu. Teheran menuntut adanya jaminan keamanan yang nyata dan pengakuan kesalahan dari pihak lawan sebelum bersedia duduk kembali di meja perundingan.

"Kami tidak dapat melakukan negosiasi apa pun dengan musuh karena dua kali ketika kami sedang bernegosiasi dengan musuh, kami diserang," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.