Dark/Light Mode

Iran Balas Ultimatum 48 Jam Trump, Ancam Gempur Infrastruktur AS-Israel

Minggu, 22 Maret 2026 16:41 WIB
Ilustrasi bendera Iran (Foto: Pexels)
Ilustrasi bendera Iran (Foto: Pexels)

RM.id  Rakyat Merdeka - Iran menyatakan siap balas dendam, jika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menindaklanjuti rencananya untuk menghancurkan pembangkit listrik di negara tersebut.

Dalam pernyataan yang ditulis melalui Truth Social pada Sabtu (21/3/2026), Trump mengultimatum Iran untuk segera membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam setelah postingan tersebut tayang. Jika tidak, Trump akan menghancurkan pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar.

Baca juga : Trump Ultimatum Iran 48 Jam: Buka Selat Hormuz Atau Pembangkit Listrik Hancur

Trump menulis postingan tersebut pada Sabtu (21/3/2026) pukul 23.44 waktu setempat. Itu berarti, Iran masih punya waktu hingga Senin (23/3/2026) pukul 23.44 waktu Amerika atau Selasa (24/3/3036) pukul 03.14 waktu Teheran.

"Menindaklanjuti peringatan sebelumnya, Iran menekankan bahwa jika infrastruktur vitalnya (bahan bakar dan energi) diserang, semua energi, bahan bakar, sistem teknologi informasi (TI), dan unit desalinasi air, yang dimiliki oleh rezim teroris AS dan Israel, akan menjadi sasaran Angkatan Bersenjata kami," tegas Juru Bicara Markas Pusat Khatam Al Anbiya Iran, Brigadir Jenderal Dua Ebrahim Zolfaghari seperti dikutip Mehr, Minggu (22/3/2026).

Baca juga : Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Minyak Iran di Pulau Kharg

Selat Hormuz yang menjadi pusat eskalasi dalam konflik terbaru Timur Tengah, telah diblokir secara efektif oleh Iran sejak AS dan Israel menyerang negara tersebut pada 28 Februari 2026.

Saat ini, ada lima negara yang telah mendapatkan izin dari Iran melintasi Selat Hormuz dengan aman, yakni India, Jepang, Pakistan, China, dan Turki.

Baca juga : Pengamanan Berlapis Jadi Tameng Ketahanan Infrastruktur Digital Nasional

Selat Hormuz memiliki peran strategis dalam rantai pasok minyak dan gas alam cair (LNG) global, serta berbagai komoditi penting lainnya. Seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati selat ini. Produk minyak tersebut tak hanya berasal dari Iran, tetapi juga negara-negara Teluk lainnya seperti Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Penutupan Selat Hormuz dalam konflik Timur Tengah berdampak pada melonjaknya harga minyak mentah (crude oil), hingga melampaui angka 100 dolar AS per barel. Atau naik 70 persen pada tahun ini dan nyaris 50 persen dibanding tahun lalu.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.