Dark/Light Mode

Dubes RI Untuk Brazil Andhika Chrisnayudhanto

Bicara Perlindungan Anak Dari Kejahatan Terorganisir

Selasa, 31 Maret 2026 07:28 WIB
Duta Besar Indonesia untuk Brazil Andhika Chrisnayudhanto.
Duta Besar Indonesia untuk Brazil Andhika Chrisnayudhanto.

RM.id  Rakyat Merdeka - Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Brazil Andhika Chrisnayudhanto menegaskan komitmen Indonesia melindungi anak dan remaja pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Preventing and Responding to Violence Against Children and Adolescents in the Context of Organized Crime di Rio de Janeiro pada 23–24 Maret 2026.

Mengutip keterangan tertulis Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Brazlia, Minggu (29/3/2026), United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) bersama Kementerian Kehakiman dan Keamanan Publik Brazil me­ngundang Dubes Andhika untuk menyampaikan pandangan Indonesia dalam forum tersebut.

“Kami menjelaskan posisi Indonesia dalam melindungi anak-anak dan remaja melalui kerangka hukum yang tegas,” ujarnya.

Baca juga : Dukung Program Mudik Bersama BUMN, Jasindo Hadirkan Perlindungan Kesehatan

Menurut Dubes Andhika, Pemerintah Indonesia menjamin perlindungan anak dan remaja dari berbagai bentuk kejahatan, baik di dunia maya maupun di lingkungan sosial.

Selain Dubes Andhika, sejumlah pembicara lain juga hadir. Antara lain, Sekretaris Nasional Kebijakan Narkoba dan Manajemen Aset Brazil Marta Machado, pejabat Kementerian Keamanan dan Pencegahan Kejahatan Kanada Talal Dakalbab, serta Koordinator Youth Peace Champion Initiative Nigeria Abba Ali Yarima Mustapha.

Dalam kesempatan itu, Dubes Andhika menekankan bahwa Indonesia terus memperkuat upaya melawan perekrutan dan eksploitasi anak oleh kelompok kriminal bersenjata dan kejahatan terorganisir, termasuk terorisme.

Baca juga : FWD Insurance Kenalkan Perlindungan Jiwa Syariah FWD Rencana Sejahtera

“Berangkat dari tragedi Surabaya 2018, Indonesia mengubah pendekatan dari yang bersifat sektoral dan represif menjadi strategi yang berpusat pada perlindungan anak, berbasis hak, serta berfokus pada rehabilitasi dan reintegrasi,” paparnya.

Sebagai informasi, tragedi bom Surabaya Surabaya, Jawa Timur, pada Mei 2018 melibatkan satu keluarga (ayah, ibu dan empat anak) yang melakukan serangan bunuh diri di tiga gereja dan Rusunawa Wonocolo. Pengeboman ini melibatkan anak-anak sebagai pelaku aktif, menyebabkan belas­an korban jiwa.

Melalui kemitraan dengan UNODC, Indonesia memperkuat kerangka kebijakan, meningkatkan kapasitas nasional, serta melatih lebih dari 400 pemangku kepentingan lintas sektor.

Baca juga : Mudik Lebaran Dibayangi Ancaman Krisis Energi dan Keselamatan Transportasi

Upaya tersebut juga diperluas hingga tingkat komunitas, de­ngan melibatkan 17 sekolah dan 46 konselor dan menjangkau lebih dari 15.000 anak, serta meningkatkan kesadaran lebih dari 150.000 individu melalui kampanye media sosial bertagar #AmbilAndil.

Selain itu, Indonesia juga berperan aktif di tingkat regional dan global, termasuk melalui Bali Call for Action dan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menegaskan pen­tingnya perlindungan, pencegahan, serta rehabilitasi anak.

Ke depan, Indonesia dan Brazil memiliki peluang strategis untuk memperdalam kolaborasi dalam memperkuat perlindung­an anak melalui pertukaran praktik baik, penguatan kapasitas, serta kemitraan yang berorientasi pada dampak berkelanjutan di tingkat regional maupun global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.