Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Lanjutkan Perundingan Di Pakistan
Semoga AS-Iran Segera Damai
Kamis, 16 April 2026 08:29 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pintu perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, kembali terbuka. Dalam waktu dekat, mereka akan lanjutkan perundingan di Pakistan. Semoga perdamaian itu segera terwujud.
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan, masih ada peluang untuk dilakukan perundingan. Menurut Trump, perundingan lanjutan akan digelar dalam 2 hari ke depan.
"Anda sebaiknya tetap di sana, sungguh, karena sesuatu mungkin terjadi dalam dua hari ke depan. Kami lebih cenderung untuk pergi ke sana," ujar Trump kepada New York Post seperti dilansir CNN, Rabu (15/4/2026).
Dalam proses negosiasi itu, Trump kembali merujuk peran Marsekal Lapangan Pakistan Jenderal Asim Munir sebagai mediator. Ia menilai Munir telah menjalankan perannya dengan baik dalam perundingan sebelumnya.
"Dia fantastis. Sang marsekal lapangan melakukan pekerjaan yang luar biasa. Karena itu kemungkinan besar kami akan kembali ke sana," puji Trump.
Trump juga mengungkapkan bahwa Iran telah menghubungi pihaknya pada Senin (13/4/2026) untuk menyatakan keinginan mencapai kesepakatan. Meski demikian, ia menegaskan AS tidak akan menyetujui perjanjian yang memungkinkan Iran memiliki senjata nuklir.
"Saya telah mengatakan bahwa mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir," tegasnya.
Baca juga : Biaya Perjalanan Bengkak 1,7 T, Pemerintah Tak Akan Naikkan Ongkos Haji
Selain Pakistan, Kota Jenewa di Swiss sempat disebut sebagai lokasi alternatif perundingan. Namun, Trump menolak opsi tersebut.
"Mengapa kita harus pergi ke negara yang tidak ada hubungannya dengan hal ini?" ujarnya.
Wakil Presiden AS JD Vance diperkirakan kembali memimpin delegasi Washington dalam perundingan lanjutan. Selain itu, utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner juga disebut akan kembali terlibat.
Dilansir Reuters, sejumlah sumber menyebut perundingan lanjutan kemungkinan digelar di Islamabad dalam pekan ini. Proposal resmi juga telah dibagikan kepada Washington dan Teheran.
"Belum ada tanggal pasti yang ditetapkan, namun delegasi membuka kemungkinan dari Jumat hingga Minggu," kata sumber senior Iran.
Juru Bicara Pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani menyebut, selain isu Selat Hormuz dan program nuklir, kompensasi perang menjadi salah satu topik paling alot dalam perundingan. Kerugian Iran diperkirakan mencapai 270 miliar dolar AS.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menilai peluang dilanjutkannya perundingan cukup besar.
Baca juga : Di Tengah Konflik Timur Tengah, Investor Global Percaya Fundamental Ekonomi RI
"Sangat mungkin pembicaraan ini akan dimulai kembali," kata Guterres.
Ia menekankan pentingnya komitmen politik dan keberlanjutan dialog untuk mencapai perdamaian. "Negosiasi yang serius harus dilanjutkan, gencatan senjata harus dipertahankan dan diperluas," pesannya.
Diketahui, konflik sempat mereda setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Namun, perundingan pertama di Islamabad berujung buntu, terutama terkait isu pengayaan uranium dan Selat Hormuz.
Situasi kembali memanas setelah AS memutuskan memblokade Selat Hormuz. Trump menyatakan langkah tersebut diambil untuk mencegah Iran mengancam stabilitas global.
"Kita tidak bisa membiarkan suatu negara memeras atau mengancam dunia," ujarnya.
Blokade resmi dimulai pada Senin (13/4/2026). Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut langkah ini bertujuan membatasi akses pelabuhan Iran di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman.
Dampaknya langsung terasa di jalur pelayaran. Sejumlah kapal tanker dilaporkan berbalik arah, meski beberapa kapal masih berhasil melintasi Selat Hormuz. Data maritim menunjukkan kapal berbendera Liberia, Christianna, serta tanker Elpis dan Argo Maris termasuk yang berhasil melintas.
Baca juga : Tentang Perang, Paus Leo Tak Takut Trump
Di sisi lain, militer AS meningkatkan kehadiran di kawasan dengan menempatkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal perusak berpeluru kendali di Teluk Oman.
Israel-Lebanon Juga Bersiap Berunding
Selain AS dan Iran, Israel dan Lebanon juga membuka peluang perundingan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut momentum ini sebagai kesempatan penting menuju perdamaian. "Harapan hari ini adalah agar kita dapat merumuskan kerangka kerja menuju perdamaian yang langgeng," kata Rubio.
Pertemuan ini menjadi yang pertama secara langsung antara perwakilan Israel dan Lebanon sejak 1993. AS juga mendorong Israel menghentikan operasi militer terhadap Hizbullah di Lebanon selatan, guna fokus pada penyelesaian konflik yang lebih luas.
Ketiga pihak sepakat memulai negosiasi langsung setelah pertemuan trilateral di Washington.
"Semua pihak sepakat menggelar negosiasi langsung pada waktu dan tempat yang disepakati," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott.
Presiden Lebanon Joseph Aoun berharap, perundingan ini menjadi awal berakhirnya penderitaan rakyatnya. Sementara itu, Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter menilai, kondisi saat ini sebagai peluang strategis, mengingat melemahnya Hizbullah.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya