Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Warning FAO Buntut Selat Hormuz Diblokade, Bencana Pangan Global Di Depan Mata
Rabu, 15 April 2026 07:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Blokade Selat Hormuz akibat perang di Timur Tengah tak hanya berdampak pada sektor energi, tapi juga pangan. Distribusi pangan menjadi terganggu karena ditutupnya lalu lintas pelayaran tersebut. Kalau ini di biarkan berlarut-larut, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB atau Food and Agriculture Organization (FAO) memberikan peringatan tentang bencana global yang ada di depan mata.
Peringatan itu disampaikan Kepala Ekonom FAO Maximo Torero, dalam podcast bersama Direktur Divisi Ekonomi Pangan dan Pertanian FAO David Laborde. Torero menilai, kapal yang membawa hasil pertanian penting harus segera mulai melewati Selat Hormuz. Hal ini untuk mencegah risiko lonjakan harga pangan yang berbahaya di akhir tahun ini.
Kata Torero, kondisi ini membuat negara-negara miskin berada pada risiko yang lebih besar. Terutama karena langkanya pupuk dan mahalnya energi. “Hal yang paling tidak kita inginkan adalah hasil panen yang lebih rendah dan harga komoditas yang lebih tinggi, serta inflasi pangan untuk tahun depan,” tuturnya.
Menurut Torero, situasi tersebut berpotensi memaksa negara-negara mengambil kebijakan penurunan harga pangan, memicu kenaikan suku bunga, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Indeks Harga Pangan FAO hingga Maret memang masih relatif stabil berkat pasokan yang melimpah, terutama dari komoditas sereal.
Baca juga : Rudianto Lallo: Jika Mudaratnya Besar, Larangan Vape Tepat
Namun, tekanan mulai meningkat pada April dan diperkirakan semakin intensif pada Mei. Hal ini dipengaruhi keputusan petani terkait penggunaan pupuk dan alokasi lahan, termasuk kemungkinan peralihan ke produksi biofuel yang lebih menguntungkan di tengah lonjakan harga minyak, tetapi berisiko mengurangi pasokan pangan global.
FAO pun mendesak negara-negara untuk berhati-hati dalam menetapkan kebijakan, terutama terkait biofuel serta pembatasan ekspor energi dan pupuk. Jika kebuntuan di Selat Hormuz tidak segera diakhiri, lembaga multilateral didorong untuk menyediakan pembiayaan bagi negara yang kesulitan mengakses pupuk.
Fasilitas dari Dana Moneter Internasional (IMF), seperti Food Shock Window, dinilai dapat membantu negara-negara mendapatkan input pertanian tanpa memicu distorsi pasar. FAO juga telah memetakan kebutuhan pupuk berdasarkan kalender tanam masing-masing negara.
“Risikonya sangat jelas. Jika tidak dipercepat, risikonya akan semakin parah,” tegas Torero.
Baca juga : Muhammad Nasir Djamil: Harus Dipikirkan Juga Dampak Ekonominya
FAO mencatat, sekitar 20 hingga 45 persen distribusi input pangan global bergantung pada jalur Selat Hormuz. Jika pasokan terganggu, dampaknya akan terasa pada penurunan hasil panen, kenaikan harga pangan, hingga inflasi global dalam beberapa tahun ke depan.
Torero menegaskan, berbeda dengan bencana alam, blokade Selat Hormuz merupakan krisis yang bisa diselesaikan melalui kebijakan pemerintah. Namun, jika tidak segera ditangani, dunia berisiko menghadapi “badai sempurna”, terutama jika diperparah fenomena cuaca seperti El Nino.
Diketahui, konflik sempat mereda setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati gencatan senjata dua pekan. Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup, akhirnya dibuka.
Namun, situasi itu hanya berlangsung singkat. Serangan Israel ke Lebanon, membuat Iran geram dan kembali menutup Selat Hormuz.
Baca juga : Senayan Ingin PTN Dan PTS Sama-sama Berkembang
Kondisi makin ruwet setelah perundingan selama 21 jam antara AS-Iran di Islamabad, Pakistan, berujung buntu. AS kemudian mulai memberlakukan blokade di wilayah tersebut.
Di tengah tekanan global tersebut, Indonesia relatif berada dalam kondisi aman. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan pangan nasional sepanjang 2026 tetap terjaga.
Data proyeksi neraca pangan hingga Juni 2026 menunjukkan sejumlah komoditas strategis dalam kondisi surplus. Beras diproyeksikan surplus 15,8 juta ton, jagung 4,7 juta ton, gula konsumsi 797 ribu ton, hingga daging dan telur ayam yang juga mengalami kelebihan pasokan.
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menyebut cadangan beras nasional mencapai 4,6 juta ton atau tertinggi sepanjang sejarah. Stok itu cukup untuk memenuhi kebutuhan 10-11 bulan ke depan. [MEN/FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya