Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kapalnya Disita Dan Ditembaki AS, Iran Tolak Kesepakatan Damai
Selasa, 21 April 2026 07:40 WIB
Sebelumnya
Teheran menyebut langkah AS sebagai pelanggaran gencatan senjata selama dua minggu yang dimediasi Pakistan dan berlaku sejak diumumkan pada 7 April lalu. “AS yang agresif, dengan melanggar gencatan senjata dan melakukan pembajakan maritim, menyerang salah satu kapal Iran setelah melumpuhkan sistem navigasinya,” tegas Zolfaghari, dilansir dari Anadolu.
Tidak hanya berhenti pada kecaman, Iran juga langsung merespons secara militer. Pasukan Iran dilaporkan melancarkan serangan drone terhadap beberapa kapal Amerika sebagai bentuk balasan atas penembakan dan pencegatan kapal Touska. “Kami memperingatkan bahwa pasukan militer Iran akan segera menanggapi dan membalas tindakan perompakan bersenjata yang dilakukan oleh militer AS ini,” tegasnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan militer, jalur diplomasi terancam butu. Padahal, AS dan Iran dijadwalkan akan menggelar putaran kedua perundingan yang melibatkan tim teknis di Islamabad, Pakistan. Wakil Presiden AS JD Vance bahkan telah ditunjuk langsung oleh Trump untuk memimpin delegasi AS dalam perundingan tersebut. Namun, rencana itu terancam gagal setelah Iran dilaporkan menolak melanjutkan negosiasi damai tahap kedua.
Baca juga : IHSG Galau Bergerak Merah-Hijau
Menurut laporan media Iran, IRNA, penolakan tersebut dilatarbelakangi sikap AS yang dinilai tidak kooperatif. Selain itu, Iran menuding tuntutan yang diajukan AS dianggap berlebihan dan tidak realistis. “Perubahan sikap yang terus-menerus, kontradiksi yang berulang, dan blokade angkatan laut yang sedang berlangsung, yang dianggapnya sebagai pelanggaran gencatan senjata,” demikian bunyi laporan IRNA.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut angkat bicara. Ia menegaskan bahwa Iran pada dasarnya ingin mengakhiri konflik dengan AS dan Israel. Namun tetap mengedepankan prinsip kedaulatan dan martabat bangsa.
Pezeshkian juga menegaskan bahwa Presiden AS Donald Trump tidak berhak mencabut hak nuklir Teheran tanpa alasan yang jelas. “Siapa dia sehingga berhak mencabut hak suatu bangsa,” kata Pezeshkian, dilansir Anadolu Agency, Senin (20/4/2026).
Baca juga : Feriansyah: Persoalan Tata Kelola Juga Perlu Diperbaiki
Menurutnya, dari perspektif kemanusiaan, setiap negara memiliki hak yang tidak dapat dicabut. Terlepas dari agama, kepercayaan, ras, atau etnisnya.
Penolakan Iran terhadap perundingan damai ini membuat potensi konflik terbuka kembali meningkat. Ditambah lagi masa gencatan senjata antara kedua negara akan berakhir pada Rabu (22/4/2026).
Di sisi lain, Amerika Serikat juga menunjukkan sikap tegas. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan pihaknya siap melanjutkan perang jika Iran tidak bersedia menyepakati perdamaian. “Mereka akan menghadapi blokade dan pengeboman terhadap infrastruktur, listrik, dan energi,” ujarnya.
Baca juga : Abdul Fikri Faqih: Perlu Diskusi Bersama DPR Dan Pemerintah
Ia menambahkan, jika konflik kembali pecah, AS akan berupaya menguasai Selat Hormuz secara penuh serta menargetkan infrastruktur energi Iran untuk melemahkan kekuatan negara tersebut.
Seperti diketahui, usai menyepakati gencatan senjata selama 2 pekan, AS-Iran melanjutkan ke meja diplomasi. Negosiasi kedua negara telah dilakukan pada 11 April 2026 di Pakistan. Namun, perundingan menemui jalan buntu. Masalah nuklir dan Selat Hormuz jadi penyebab gagalnya perundingan. [BYU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya