Dark/Light Mode

Ditelepon MBS, Trump Batal Serang Iran

Senin, 3 Agustus 2026 08:22 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (Foto: Reuters)
Presiden AS Donald Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (Foto: Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana serangan total alias “teror militer” ke Iran. Keputusan ini diambil Trump setelah menerima telepon Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) yang meminta agar rencana membombardir Iran diurungkan.

Sebelumnya, Trump menyampaikan pernyataan soal rencana menggempur habis Iran. Ia menyebut serangan itu sebagai tingkat teror militer, teror kekuatan, dan teror kekuasaan yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II.

"Kami akan menghantam Iran dengan sangat keras. Anda tahu, di titik tertentu mereka akan berkata bahwa mereka benar-benar tidak tahan lagi," ujar Trump, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Sabtu (1/8/2026).

Di hari yang sama, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan keamanan bagi warga AS di 10 negara di Kawasan Timur Tengah. AS mengimbau mereka lebih berhati-hati dan mempertimbangkan meninggalkan negara tersebut karena meningkatnya ketegangan.

Beberapa saat kemudian. MBS disebut melakukan panggilan telepon dengan Trump, Sabtu (1/7/2026). Dalam sambungan telepon, MBS menyampaikan kekhawatiran potensi peningkatan konflik di kawasan.

Baca juga : Dipastikan Polri & Gubernur Pramono, Jakarta Aman & Kondusif

Pembicaraan telepon keduanya dilaporkan oleh media AS Axios, yang kemudian dikonfirmasi sumber Pemerintah AS kepada AP, Minggu (2/8/2026). Menurut sumber itu, MBS khawatir, jika AS menargetkan infrastruktur energi Iran dan menyerang besar-besaran infrastruktur penting lainnya, Teheran akan merespons dengan menarget infrastruktur energi Saudi dan negara-negara di Kawasan Teluk. 

MBS juga disebut mengutus saudaranya, Menteri Pertahanan Pangeran Khalid bin Salman, ke Washington awal pekan ini untuk pertemuan terpisah dengan Trump dan Wakil Presiden JD Vance.

Setelah ditelepon MBS, lewat akun Truth Social miliknya, Trump menyampaikan pembatalan serangan. Trump menyebut, sebenarnya militer AS sudah bersiap melancarkan gempuran total ke Iran. Namun, ia kemudian mengurungkan niat itu.

“Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya baru saja meminta kami untuk menunda serangan apa pun karena batasan kesepakatan telah disetujui," kata Trump, seperti dilansir Al-Jazeera, Minggu (2/8/2026).

Kesepakatan tersebut, lanjut Trump, di antaranya mencakup pembukaan total Selat Hormuz dan pengakhiran program nuklir Iran. Trump mengklaim, kesepakatan ini demi masa depan Iran dan kepentingan dunia di masa depan.

Baca juga : Daun Singkong Dan Bumbu Rendang Dimasak Terlalu Dini

"Saya telah setuju membatalkan serangan tersebut, dengan syarat dapat segera mencapai kesepakatan," ucapnya.

Mendengar kabar ini, Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Iran Hassan Ghashghavi justru menyindir Trump. Kata dia, di depan media, AS berbicara soal ancaman eskalasi. “Sementara, melalui saluran yang ada mereka menuntut negosiasi," sindir Ghashghavi, seperti dikutip Al-Jazeera, Minggu (2/8/2026).

Ia menegaskan, AS tidak dapat menipu rakyat dan Pemerintah Republik Islam Iran. Baik dengan eskalasi atau negosiasi, pengaturan Iran atas Selat Hormuz adalah satu-satunya pilihan yang tersedia.

Presiden Kamar Dagang dan Industri Iran-China Majidreza Hariri menyatakan, AS tak punya keberanian menargetkan infrastruktur energi Iran. Sebab, jaringan listrik Iran salah satu yang paling terdesentralisasi di dunia, mencakup hingga 150 pembangkit listrik di seluruh negeri. Ukuran jaringan yang luas ini membuat jauh lebih sulit untuk menyebabkan pemadaman listrik nasional melalui serangan udara.

"Karena ketahanan Iran jauh lebih besar daripada negara-negara di kawasan ini," kata Hariri, dalam sebuah unggahan di X, seperti dilansir Al-Jazeera, Minggu (2/7/2026).

Baca juga : Presiden Prabowo Pimpin Akad Massal 62 Ribu Debitur KPR FLPP, BRI Perkuat Peran sebagai Penggerak Ekonomi Kerakyatan melalui Pembiayaan Perumahan

Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref menegaskan, pihaknya telah siap menghadapi kemungkinan eskalasi konflik, termasuk serangan militer skala besar dari Washington. Pemerintah Iran saat ini memprioritaskan stabilitas kehidupan masyarakat, termasuk memastikan ketersediaan kebutuhan pokok dan menjaga pasar tetap terkendali.

"Kami telah menyiapkan rencana menghadapi skenario terburuk," kata Aref, seperti dikutip kantor berita semi-resmi Iran, Fars.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi terus mengintensifkan komunikasi diplomatik dengan negara-negara sahabat. Dalam percakapan terbarunya dengan Panglima Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Asim Munir, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan, ia menegaskan, Iran akan memberikan respons tegas terhadap setiap serangan AS dan sekutunya. 

Araghchi memperingatkan, serangan apapun yang dilakukan oleh AS dan Israel, dan keterlibatan negara-negara kawasan dalam aksi tersebut, akan dibalas setimpal. "Iran siap mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayahnya serta akan memberikan respons tegas terhadap setiap bentuk agresi," ucapnya, seperti dilansir Fars.

Militer Iran juga memperingatkan negara-negara di Kawasan Telu agar tak bekerja sama dengan AS dan Israel selama konflik berkecamuk. "Negara mana pun yang menjadi tameng pertahanan bagi Amerika yang kriminal dan agresif, akan dilalap kobaran api perang," tegas Komando Pusat Militer Iran Ali Abdollahi, dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, seperti dilansir AFP, Sabtu (1/8/2026).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.