Dark/Light Mode

Cerita Warga Gaza Di Tengah Krisis Pangan Ekstrem

Dapur Umum Terbatas, Orang Dewasa Rela Menahan Lapar

Rabu, 9 September 2026 06:10 WIB
Mervat Radwan bersama keponakannya, Ubay, mengambil makanan dari dapur umum. Foto tersebut ditayangkan Al Jazeera pada 6 September 2026. Foto: Abdelhakim Abu Riash / Al Jazeera
Mervat Radwan bersama keponakannya, Ubay, mengambil makanan dari dapur umum. Foto tersebut ditayangkan Al Jazeera pada 6 September 2026. Foto: Abdelhakim Abu Riash / Al Jazeera

RM.id  Rakyat Merdeka - Setiap kali mendengar kabar dapur umum di kamp pengungsian Gaza akan membagikan makan siang, Mervat Radwan (45), merasa lega. Sambil membawa panci, dia berjalan menuju dapur umum bersama keponakannya yang berusia empat tahun, Ubay. Namun, rasa lega itu selalu dibayangi kenyataan pahit. Makanan yang didapat jarang sekali cukup untuk memenuhi kebutuhan tujuh anggota keluarganya.

Agar semua perut terisi, wanita itu harus memutar otak. Misalnya, menambahkan bahan makanan seadanya dari paket bantuan humanitarian, seperti setoples tuna, kacang-kacangan atau buncis.

“Kadang mereka memberi kami makanan matang, tetapi porsinya tidak cukup untuk tujuh orang. Jadi saya berusaha mencari bahan lain untuk menambahkannya,” ujar Radwan melansir Al Jazeera, Minggu (6/8/2026).

Dapur umum kini menjadi garis pertahanan terakhir bagi keluarga tanpa penghasilan di Gaza. Operasional dapur swadaya dan kemanusiaan ini kian tidak menentu. Keterbatasan dana, kenaikan harga bahan baku, serta kelangkaan pasokan gas dan bahan pangan menjadi beberapa penyebabnya.

Berdasarkan data Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), produksi harian makanan gratis di Gaza merosot tajam. OCHA menyediakan sekitar 1,5 juta porsi dari 165 dapur umum pada pertengahan Maret. Angka tersebut merosot tajam menjadi hanya 698.000 porsi dari 102 dapur umum pada Juli.

Baca juga : Felicya Angelista Erupsi Krakatau, Solo Ke Jakarta Lewat Darat

Di lokasi pengungsian tersebut, dapur umum pernah tutup total selama dua bulan. Kini, dapur umum tersebut beroperasi terbatas, hanya dua hari dalam seminggu.

Radwan mengambil alih pengasuhan tiga keponakannya yang selamat dari serangan Israel, Nayef (14), Habib (11) dan Ubay (4). Adiknya, Mohammad (38), beserta istri dan anak bungsunya yang berusia satu tahun, tewas karena serangan bom Israel tahun 2024.

Ketiga yatim piatu itu tidak hanya mengalami trauma psikologis hebat, tetapi juga luka fisik yang parah. Nayef terkena serpihan bom di kepala. Sedangkan Habib dan Ubay mengalami luka bakar serius di sekujur tubuh.

Radwan juga merawat ayahnya yang berusia 70 tahun dan saudarinya, Sanaa berusia 40 tahun. Selama sembilan bulan terakhir, mereka bertujuh hidup menumpuk di dalam satu tenda pengungsian di Deir el-Balah tanpa memiliki sumber penghasilan tetap.

“Tanggung jawab ini bukan sekadar menampung mereka. Ada kebutuhan makan, minum, biaya hidup, dan semua hal yang mereka perlukan,” tutur wanita berkerudung itu.

Baca juga : Presiden Bicara Bencana: Takdir Kita Ada di Ring of Fire

Di tengah kelangkaan pangan yang ekstrem, orang dewasa di keluarga tersebut rela menahan lapar. Hal ini untuk memastikan anak-anak mendapatkan porsi yang cukup.

“Ayah saya yang sudah tua tidak akan mau makan sebelum memastikan cucu-cucunya kenyang. Mungkin hanya ini hal terbaik yang bisa kami lakukan dalam situasi yang sangat sulit ini,” ungkapnya.

Krisis Nutrisi

Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) mencatat, sekitar 77 persen rumah tangga di Gaza kesulitan mengakses sayuran, buah-buahan dan protein. Hal itu akibat lonjakan harga yang tak terjangkau oleh warga.

Kondisi ini memicu dampak serius bagi kesehatan anak-anak. Keponakan Radwan yang paling kecil, Habib, sedang membutuhkan perawatan pascaluka bakar. Dia disarankan dokter rutin mengonsumsi air dan makanan berkadar air tinggi seperti mentimun.

Baca juga : Update Karhutla: 734 Hektar Masih Terbakar, 8 Korporasi Digarap Polisi

Namun, harga 1 kilogram (kg) mentimun mencapai 15 shekel (sekitar Rp 87.000, dengan kurs Rp 5.845). Sementara, tomat berkisar 10-12 shekel (Rp 58.000–Rp 70.000).

“Jika anak-anak ingin mentimun, saya hanya sanggup membeli tiga buah. Cuma itu kemampuan kami,” kisah Radwan.

Ketergantungan penuh pada makanan kaleng dari paket bantuan kemanusiaan yang tinggi garam mulai menggerogoti kesehatan Habib. Selama setahun terakhir, dia didiagnosis menderita batu ginjal akibat pola makan yang tidak seimbang dan minim real food.

Bagi Radwan dan jutaan warga Gaza lainnya, bantuan pangan yang datang secara sporadis memang mampu memperpanjang napas mereka untuk esok hari. Tetapi, krisis nutrisi yang berkepanjangan perlahan-lahan merenggut kesehatan generasi muda mereka. LDU

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Rabu, 9 September 2026 dengan judul "Cerita Warga Gaza Di Tengah Krisis Pangan Ekstrem Dapur Umum Terbatas, Orang Dewasa Rela Menahan Lapar"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.