Dark/Light Mode

Pemimpin Pertama Hong Kong Tung Chee Hwa Meninggal di Usia 89 Tahun

Rabu, 9 September 2026 10:51 WIB
Pemimpin pertama Hong Kong Tung Chee Hwa. (Foto Reuters/Bobby Yip)
Pemimpin pertama Hong Kong Tung Chee Hwa. (Foto Reuters/Bobby Yip)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kabar duka datang dari Hong Kong. Tung Chee Hwa, taipan pelayaran yang menjadi pemimpin pertama Hong Kong setelah penyerahan kedaulatan dari Inggris kepada China, meninggal dunia pada usia 89 tahun.

Tung meninggal pada Rabu, 9 September 2026, waktu setempat. Kepergiannya menutup perjalanan panjang salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam fase awal Hong Kong di bawah pemerintahan China.

Tung menjabat sebagai Kepala Eksekutif Hong Kong sejak 1997 hingga mengundurkan diri pada 2005. Ia memimpin wilayah tersebut dalam periode penuh tantangan, termasuk krisis ekonomi Asia, wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), serta gelombang demonstrasi besar terkait kebijakan Pemerintah. 

Media Hong Kong menyebut Tung meninggal dengan tenang dan didampingi orang-orang terdekatnya.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui kantor Tung, ia dikenang sebagai sosok yang berdedikasi terhadap negara dan masyarakat.

Dalam beberapa tahun terakhir, Tung semakin jarang tampil di hadapan publik karena kondisi kesehatannya yang menurun. Ia kemudian lebih banyak menjalani kehidupan di luar sorotan politik.

Tung meninggalkan catatan panjang dalam sejarah Hong Kong. Ia merupakan pemimpin pertama Hong Kong Special Administrative Region (HKSAR) setelah wilayah tersebut diserahkan Inggris kepada China pada 1 Juli 1997. 

Baca juga : Jadi Saksi Penandatanganan Kerja Sama Proyek Panel Surya

Masa kepemimpinan Tung tidak berjalan mudah. Selain menghadapi dampak krisis keuangan Asia, pemerintahannya harus menangani wabah SARS dan berbagai persoalan sosial-politik.

Salah satu titik paling kontroversial terjadi pada 2003 ketika Pemerintah berupaya memperkenalkan regulasi keamanan nasional berdasarkan Pasal 23 Basic Law Hong Kong.

Rencana tersebut memicu demonstrasi besar-besaran. Kebijakan itu akhirnya ditunda, sementara popularitas Tung terus merosot. 

Pada 2005, Tung mengundurkan diri di tengah periode keduanya sebagai kepala eksekutif. Ia menyebut kondisi kesehatan sebagai alasan pengunduran dirinya. 

Sosok Berpengaruh 

Meski meninggalkan kursi kepala eksekutif, pengaruh Tung dalam politik China dan Hong Kong tidak berakhir.

Setelah mundur, ia ditunjuk sebagai wakil ketua Komite Nasional Chinese People's Political Consultative Conference (CPPCC), salah satu lembaga penasihat politik penting di China.

Jabatan tersebut diembannya hingga 2023. Tung juga mendirikan China-United States Exchange Foundation pada 2008. Lembaga tersebut bergerak dalam upaya memperkuat pemahaman dan hubungan antara China dan Amerika Serikat.

Baca juga : BNI Hadirkan Ekosistem Keuangan Digital Bagi Mahasiswa Indonesia di Hong Kong

Pada 2014, ia kembali mendirikan Our Hong Kong Foundation, sebuah lembaga pemikir yang membahas berbagai persoalan pembangunan dan masa depan Hong Kong.

Anak Taipan Pelayaran

Sebelum masuk ke dunia politik, Tung dikenal sebagai pengusaha besar di bidang pelayaran.

Ia lahir di Shanghai pada 1937 sebagai putra sulung taipan pelayaran Tung Chao Yung, pendiri perusahaan Orient Overseas.

Keluarganya kemudian pindah ke Hong Kong. Tung melanjutkan pendidikan ke Inggris dan memperoleh gelar di bidang teknik kelautan dari University of Liverpool pada 1960.

Setelah sempat bekerja di Amerika Serikat, ia kembali ke Hong Kong pada 1969 untuk membantu mengelola bisnis keluarga.

Sepeninggal ayahnya, Tung mengambil peran penting dalam perusahaan pelayaran keluarga. Ia kemudian dikenal sebagai salah satu pengusaha terkemuka Hong Kong sebelum akhirnya terjun ke dunia pemerintahan. 

Karier politik Tung mencapai titik penting pada 1996 ketika ia terpilih menjadi kepala eksekutif pertama Hong Kong Special Administrative Region.

Baca juga : BNI Perkuat Mitra Strategis Dorong Mahasiswa Indonesia Tempuh Studi di Hong Kong

Setahun kemudian, pada 1 Juli 1997, ia resmi mengambil alih kepemimpinan Hong Kong saat Inggris menyerahkan kedaulatan wilayah tersebut kepada China.

Di bawah kepemimpinannya, Hong Kong mulai menjalankan prinsip "satu negara, dua sistem", kerangka yang memberikan tingkat otonomi tertentu kepada Hong Kong di bawah kedaulatan China. 

Tung terpilih kembali untuk periode kedua pada 2002. Namun, ia tidak menyelesaikan masa jabatan tersebut dan mengundurkan diri pada Maret 2005.

Setelah itu, ia tetap menjadi figur yang dekat dengan Beijing dan aktif dalam berbagai kegiatan politik maupun kelembagaan.

Kepergian Tung Chee Hwa kini menjadi bagian penting dari sejarah Hong Kong modern, terutama perjalanan wilayah tersebut pada tahun-tahun awal setelah berakhirnya pemerintahan kolonial Inggris.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.