Dark/Light Mode

AI Tak Cukup Hanya Diamankan, Manusia Juga Harus Dikuatkan

Terobosan BSSN Diangkat di Forum Dunia

Selasa, 13 Oktober 2026 16:30 WIB
Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, salah satu pembicara Global Digital Forum II 2026 di Moskow.
Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, salah satu pembicara Global Digital Forum II 2026 di Moskow.

 Sebelumnya 
Peneliti kecanduan digital ini menyebutnya sebagai pergeseran dari akses digital menuju kesiapan digital. Menurutnya, pengukuran yang tepat dapat membantu pemerintah dan lembaga terkait menentukan kebutuhan intervensi yang berbeda antara individu, organisasi, dan wilayah.

“Tidak semua orang membutuhkan pelatihan yang sama. Ada yang perlu memahami penipuan digital, ada yang perlu memperbaiki kebiasaan keamanan, dan ada pula yang membutuhkan kemampuan merespons insiden,” jelasnya.

Devie menilai, salah satu paradoks paling menarik dalam perkembangan AI adalah kemampuannya meningkatkan risiko sekaligus membuka peluang perlindungan. Di satu sisi, AI dapat digunakan pelaku kejahatan untuk menghasilkan pesan penipuan yang semakin meyakinkan, melakukan peniruan identitas, dan mempercepat penyebaran manipulasi digital. Di sisi lain, teknologi yang sama dapat membantu mengenali pola ancaman, menyesuaikan materi edukasi, dan mengidentifikasi kebutuhan peningkatan kapasitas keamanan.

“Jika AI dapat memperbesar skala ancaman, AI juga seharusnya membantu memperbesar skala pertahanan,” ujarnya.

Baca juga : Terobosan Kemendikdasmen Diangkat Di Forum Digital Dunia

Devie menilai, BSSN memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem kepercayaan digital Indonesia. Penguatan keamanan infrastruktur, perlindungan data, kesiapan menghadapi insiden, dan peningkatan kapasitas manusia merupakan bagian yang saling melengkapi. Melalui pengembangan instrumen seperti IKBKS, BSSN memiliki peluang memperluas pendekatan dari perlindungan sistem menuju penguatan ketahanan manusia dan organisasi.

Devie menyebut orientasi tersebut sebagai peran arsitek ketahanan siber, yakni institusi yang tidak hanya membantu menjaga sistem, tetapi juga memperkuat kemampuan masyarakat dan organisasi untuk mengenali, menghadapi, serta pulih dari risiko digital. Menurutnya, arah tersebut patut diapresiasi karena mempertemukan kebutuhan keamanan nasional dengan tantangan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.

“BSSN tidak hanya penting ketika sebuah sistem mengalami serangan. BSSN juga memiliki peran besar dalam membantu Indonesia membangun kesiapan sebelum serangan terjadi,” ujarnya.

Penerima beasiswa forum dunia di antaranya dari Facebook ini,  menghubungkan perspektif tersebut dengan gagasan NGOPI Protocol yang diperkenalkannya dalam forum internasional. NGOPI merupakan kerangka kolaborasi yang terinspirasi dari budaya gotong royong dan musyawarah Indonesia, dengan lima langkah: Notice, Gather, Open, Prototype, dan Improve.

Baca juga : Langkah Strategis Komdigi Disorot Akademisi UI di Forum 100 Negara Dunia

Dalam konteks ketahanan siber, pendekatan tersebut berarti mengenali kerentanan, melibatkan para pemangku kepentingan, membuka akses terhadap pengetahuan yang aman untuk dibagikan, menguji solusi, dan terus memperbaiki kemampuan masyarakat.

“Kepercayaan adalah fondasi keamanan digital. Kita bisa membeli perangkat keamanan, membangun pusat data, dan menggunakan AI. Tetapi kita tidak bisa mengunduh kepercayaan masyarakat,” katanya.

Gagasan mengenai pentingnya memperkuat ketahanan manusia di tengah perkembangan AI juga memperoleh perspektif dari peserta Indonesia yang turut hadir dalam Global Digital Forum II 2026 ini. Meisha Marsella dari Berkat Kreatif Global menilai bahwa penguatan keamanan siber menjadi semakin penting bagi keberlanjutan dunia usaha, termasuk industri kreatif yang semakin bergantung pada teknologi digital.

Menurutnya, pendekatan negara melalui pengembangan IKBKS menarik karena membuka peluang bagi individu dan organisasi untuk mengenali tingkat kesiapan keamanan digital secara lebih sistematis. Hal tersebut dapat membantu pelaku usaha memahami bahwa keamanan siber bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan bagian dari keberlangsungan bisnis dan kepercayaan pelanggan.

Baca juga : Akademisi UI Apresiasi Respons Ditlantas Polda Metro Jaya

Sementara M. Arditama Febrianza, praktisi komunikasi serta pembelajaran dan pengembangan sumber daya manusia (learning and development) asal Indonesia, menyoroti pentingnya menghubungkan pengukuran kesiapan keamanan siber dengan proses pembelajaran yang berkelanjutan.

Dalam pengembangan sumber daya manusia, kita memahami bahwa pengetahuan belum tentu menghasilkan perubahan perilaku. Seseorang mungkin mengetahui bahaya penipuan digital, tetapi masih dapat menjadi korban karena kebiasaan dan kesiapan yang belum terbentuk.

"Karena itu, saya mengapresiasi pendekatan pemerintah yang memberikan perhatian pada kesadaran, perilaku, dan literasi secara bersamaan,” tutup Arditama.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.