Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Arema FC Dibantai Persija, Walisson Maia Minta Maaf kepada Aremania
- Inter Milan Tekuk Shakhtar Donetsk, Carlos Augusto Jadi Penentu
- Mbappe Brace, Real Madrid Hajar RB Leipzig
- Jakmania Dilarang Hadiri 6 Laga Tandang, PSSI Sanksi Persija-Persita
- Madura United Vs Persib Bandung, Jadwal Padat Jadi Kendala
Kebijakan Deportasi Bikin Takut Imigran
Kecewa Berat, Trump Ditinggal Pemilih Latino
Kamis, 22 Oktober 2026 06:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang dulu dielu-elukan sebagian pemilih Latino, telah membuat mereka kecewa berat. Selama hampir dua tahun, kebijakan Pemerintahan Trump mengenai deportasi telah menanamkan rasa takut di kalangan komunitas imigran.
Menjelang Pemilu paruh waktu alias midterm elections, warga keturunan Amerika Latin yang ikut mengantarkan Trump kembali berkuasa pada 2024, kini mulai mempertanyakan kebijakan pemerintahan.
Salah satu titik panasnya ada di Doral, Florida Selatan, kawasan dekat Miami yang dihuni banyak warga Latino, khususnya komunitas Venezuela. Daerah ini bahkan dijuluki “Doralzuela”. Di kawasan yang sama juga terdapat salah satu klub golf milik Trump.
Operasi deportasi besar-besaran Pemerintah AS telah membuat warga hidup dalam kecemasan. Isu razia imigrasi menyebar dari mulut ke mulut, bahkan lewat pesan singkat antartetangga. Warga juga saling memperingatkan jika melihat petugas imigrasi atau mendengar ada orang yang ditahan.
Sejumlah penduduk mengaku khawatir penggerebekan telah menyebabkan banyak tempat usaha kekurangan staf. Termasuk jumlah murid di ruang kelas pun berkurang.
“Saya merasa sedih dan kecewa,” ujar seorang pemilik restoran Maria Fernanda Perez dikutip dari AFP, Rabu (21/10/2026).
Baca juga : Agnez Mo, Akting Bareng Nicolas Cage
Awalnya, dia berharap kehidupan bisa membaik dengan mendukung Trump dalam Pemilu Presiden 2024. Harapan itu musnah saat tiga karyawannya berhenti masuk kerja karena takut dideportasi.
Tidak hanya itu, angka penjualan merosot hingga 40 persen seiring dengan keengganan warga setempat bepergian ke luar rumah dan naiknya harga kebutuhan rumah tangga.
“Seluruh keluarga dan teman saya sedang menjalani proses imigrasi. Mereka tidak lagi bekerja dan tidak dapat menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa,” keluh Perez.
Dalam kampanyenya di North Carolina, Selasa (20/10/2026), Trump menjanjikan upaya deportasi besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Presiden ke-47 AS itu menekankan bahwa target utamanya adalah para penjahat kelas berat.
Kekecewaan itu bukan sekadar omongan. Survei The New York Times dan Siena College yang dilakukan pada September menunjukkan, 66 persen responden Hispanik tidak menyetujui kinerja Trump. Sebanyak 78 persen menyatakan lebih memilih Partai Demokrat menguasai Kongres ketimbang Partai Republik.
Perez tidak mau membocorkan pilihan politiknya pada Pemilu mendatang. Tapi, ketika ditanya soal Trump, jawabannya nyelekit. “Siapa saja, asal bukan Trump,” tegasnya.
Baca juga : Nusron ke Singapura, Kemudian ke Malaysia
Carlos Bermudez, pengacara keturunan Venezuela berusia 47 tahun, juga mengaku terus menerima telepon dari orang-orang yang panik menghadapi proses imigrasi.
Menurutnya, sebagian warga memilih tidak keluar rumah karena takut ditangkap. Ada pula yang khawatir kehilangan pekerjaan dan masa depan keluarganya.
“Ini tekanan psikologis yang terus-menerus dan berdampak pada seluruh komunitas,” ujarnya.
Yang menarik, Bermudez mengaku seorang Republikan. Dia mendukung partai tersebut karena pengalaman negaranya menghadapi komunisme dan sosialisme. Namun, dia tidak sepakat dengan kelompok sayap ekstrem di Partai Republik.
Artinya, kritik terhadap Trump bukan cuma datang dari lawan politik. Pendukung partainya juga tidak puas.
Kritik serupa disampaikan Rafael Pineyro, anggota Dewan Kota Doral yang juga berasal dari Partai Republik.
Baca juga : Beringin Ultah Ke-62, Bahlil-Sarmuji Bawa Golkar Menjadi Partai Masa Depan
Menurut Pineyro, ketidakpastian dan ketakutan akibat kebijakan imigrasi tidak hanya dirasakan warga Doral, tetapi juga komunitas Latino di Florida Selatan secara luas. “Bukan seperti ini yang dijanjikan pada 2024 ketika kita berbicara tentang deportasi penjahat,” katanya.
Pineyro memperingatkan, kebijakan Trump berpotensi menggerus dukungan yang selama beberapa tahun terakhir berhasil dibangun Partai Republik di kalangan pemilih Kuba, Venezuela dan kelompok Latino lainnya di Florida.
“Kesempatan itu semakin lama semakin hilang dalam beberapa bulan terakhir karena keputusan-keputusan yang buruk, menurut pandangan saya, khususnya terkait ekonomi dan imigrasi,” ucapnya. DAY
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Kamis, 22 Oktober 2026 dengan judul "Kebijakan Deportasi Bikin Takut Imigran Kecewa Berat, Trump Ditinggal Pemilih Latino"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya