Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Seperti yang kita ketahui, mpox—dulu dikenal sebagai cacar monyet atau “monkey pox”—telah dua kali dinyatakan oleh WHO sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat dunia dalam kategori "Public Health Emergency of International Concern (PHEIC)," yaitu pada tahun 2022 dan 2024.
Selain perbedaan klad yang mendominasi penyebab penyakit ini, perhatian kini tertuju pada meningkatnya jumlah anak-anak yang tertular dalam PHEIC yang terbaru ini.
Media massa kita juga melaporkan bahwa dalam Rapat Terbatas Kabinet pada 27 Agustus 2024, salah satu topik yang dibahas adalah kejadian mpox pada anak-anak di Afrika.
Data dari UNICEF menunjukkan bahwa sejak awal tahun ini, di Republik Demokratik Kongo diperkirakan ada 8.772 anak yang diduga terjangkit penyakit ini, lebih dari setengah dari total 15.664 kasus yang dilaporkan di negara tersebut.
Dari jumlah itu, 548 orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk 463 anak. Di Burundi, hingga 20 Agustus 2024, hampir 60 persen dari kasus yang terdeteksi adalah anak dan remaja di bawah 20 tahun, dengan 21 persen kasus berusia di bawah 5 tahun. Dilaporkan pula bahwa sekitar 80 persen kematian akibat mpox di Republik Demokratik Kongo terjadi pada kelompok anak.
Media internasional seperti ABC Australia, BBC Inggris, dan The Guardian juga mengangkat berita ini, masing-masing dengan judul yang menekankan dampak mematikan mpox pada anak-anak.
Baca juga : Kementerian PUPR Lakukan Langkah Tanggap Darurat Banjir Ternate
Varian mpox saat ini (clade Ib) ternyata dapat menular pada berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak. Selain penularan yang berbeda dari clade 1b ini, beberapa faktor lain turut menyebabkan meningkatnya jumlah anak yang terjangkit mpox di Afrika.
Faktor pertama adalah konflik yang sedang melanda beberapa negara Afrika, serta masalah pengungsi yang memicu berbagai kendala kesehatan. Faktor lain adalah malnutrisi yang dialami sebagian anak di sana, serta wabah penyakit lain seperti kolera, polio, dan campak yang turut memperburuk situasi. Di samping itu, rendahnya cakupan imunisasi di beberapa negara Afrika menambah kompleksitas masalah.
Semua ini diperparah oleh keterbatasan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk diagnosis dan pengobatan, serta rendahnya kesadaran kesehatan masyarakat akibat berbagai masalah sosial sehari-hari.
Selain itu, anak-anak biasanya bermain bersama dalam kelompok besar, yang meningkatkan kontak langsung satu sama lain. Kondisi ini diperparah dengan tidur bersama dalam ruang yang sempit, yang lebih memudahkan penularan penyakit.
Pengendalian Pada Anak
Sebelum ditetapkan sebagai “Public Health Emergency of International Concern” oleh WHO pada 14 Agustus 2022, mpox di Kongo dan beberapa negara Afrika telah dinyatakan sebagai “Public Health Emergency of Continental Security” oleh “Africa Centres for Disease Control and Prevention - Africa CDC” pada 13 Agustus 2024.
Salah satu cara paling efektif dalam mengendalikan penyakit menular adalah vaksinasi, termasuk untuk mpox. Mengingat tingginya kasus pada anak, kini mulai dibahas bagaimana pelaksanaan vaksinasi mpox bagi anak-anak di beberapa negara Afrika.
Baca juga : PAM Jaya Komit Minimalkan Gangguan Pelayanan Air Bersih
Di Republik Demokratik Kongo, vaksin dari produsen Denmark Bavarian Nordic A/S akan segera tiba, namun vaksin ini belum masuk program vaksinasi anak pemerintah setempat, sehingga para ahli tengah membahas langkah selanjutnya. Republik Demokratik Kongo juga merencanakan vaksinasi anak-anak dengan vaksin buatan pabrik KM Biologics Jepang, yaitu LC16.
Selain vaksinasi, ada lima kegiatan lain yang perlu dilakukan terkait penanganan kasus mpox pada anak, seperti yang dilaksanakan UNICEF di Afrika.
Pertama, adalah komunikasi risiko dan keterlibatan aktif masyarakat, yang membutuhkan penyampaian informasi yang jelas tentang pola infeksi dan cara pencegahannya.
Kedua, adalah pencegahan dan pengendalian infeksi (IPC), yang mencakup peningkatan kapasitas higiene di rumah tangga dan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk dekontaminasi bila diperlukan.
Ketiga, adalah terjaminnya pelayanan kesehatan dan gizi, serta keempat, tersedianya dukungan psikososial untuk mencegah stigma dan diskriminasi.
Kelima, adalah sistem manajemen kesehatan masyarakat dalam bentuk analisis pengendalian wabah terintegrasi (Integrated Outbreak Analysis) dan koordinasi lintas sektor.
Baca juga : Menko Polhukam dan Mendagri Buka Pencanangan Gerbangdutas ke-12 di Pontianak
Ini melibatkan ketersediaan data yang akurat, inovasi dalam penanggulangan terbaik, penguatan sistem kesehatan, serta kerja sama lokal, regional, dan internasional.
Kita semua tentu berharap agar mpox dapat segera dikendalikan di dunia. Semoga rakyat dan bangsa kita—termasuk anak-anak—dapat terlindungi dari bahaya penyakit ini, dan untuk itu, upaya terbaik perlu terus dilakukan.
Oleh Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Guru Besar FKUI, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes, Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
Penerima Rekor MURI April 2024 sebagai penulis artikel COVID-19 terbanyak di media massa
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya