Dark/Light Mode

Indonesia Masuk Ranking Aman, Kabur Bukan Pilihan

Selasa, 24 Juni 2025 08:38 WIB
Khairul Fahmi
Khairul Fahmi
Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS)

 Sebelumnya 
Kekhawatiran ini wajar jika dilihat dari sejarah. Namun penting disadari bahwa konteksnya kini jauh berbeda. Keterlibatan unsur militer bukan untuk mengambil alih ranah sipil, melainkan untuk mempercepat dan mengefisienkan respons terhadap tantangan lintas sektor yang sifatnya semakin asimetris, kompleks dan tak konvensional. Ancaman kini tidak datang dari satu arah atau satu aktor, sehingga respons pun harus kolaboratif dan terintegrasi.

Yang terpenting adalah memastikan prinsip subordinasi militer kepada otoritas sipil tetap dijaga, transparansi dikedepankan, dan fungsi institusional dipertajam, bukan dicampuradukkan. Dalam kerangka itu, keterlibatan militer dalam upaya ketahanan bukanlah ancaman, tetapi sumber daya strategis yang perlu dikelola dan dimobilisasi secara tepat.

Dari Visi Pertahanan ke Agenda Nasional Ketangguhan

Sejumlah kebijakan kunci saat ini, termasuk pembentukan satuan tematik TNI, penguatan cadangan pangan dan energi nasional, serta diplomasi pertahanan aktif merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menghadapi krisis global yang tak terduga.

Penting untuk dipahami bahwa inisiatif tersebut tidak muncul dalam ruang hampa. Ia lahir dari pemetaan terhadap tren ancaman dunia yang semakin tak kasatmata dan saling terkait. Negara-negara besar saat ini juga menggeser orientasi pertahanannya ke arah yang mengintegrasikan kemampuan tempur dan daya dukung sipil. Presiden Prabowo, dalam hal ini, ingin membawa Indonesia selaras dengan arus global, tapi tetap dengan karakter kemandirian nasional yang kuat.

Baca juga : Medan Tempur Baru Prabowo: Tarif Trump dan Tekanan Asimetris

Namun strategi, betapapun baiknya, hanya akan efektif jika mendapat dukungan kolektif. Kita tidak bisa membiarkan inisiatif kebijakan ini terus-menerus diganggu oleh skeptisisme berlebihan yang berakar pada trauma atau ketidakpercayaan lama. Sebaliknya, kita juga tidak boleh silau oleh simbol dan jargon tanpa mengawal substansi dan tata kelola yang akuntabel.

Di sinilah pentingnya kepercayaan sebagai modal dasar ketahanan nasional. Kepercayaan publik terhadap institusi, terhadap arah kebijakan, dan terhadap kemampuan negara untuk hadir di saat genting. Ketahanan bukan sekadar soal sistem, tapi juga soal psikologi dan moral bangsa.

Untuk itu, peran masyarakat sipil, media, dan komunitas intelektual menjadi sangat penting: bukan untuk sekadar mengkritik atau memuji, tetapi untuk mengawal dan menyempurnakan. Kesiapan nasional tidak tumbuh dari narasi tunggal, tapi dari kolaborasi multipihak yang berjalan seirama.

Dari Penilaian Global ke Ketangguhan Nyata

Penilaian dari dunia internasional terhadap Indonesia sebagai negara yang relatif aman memang tidak seharusnya membuat kita berpuas diri. Justru itu menjadi titik tolak untuk memantapkan diri dan bersungguh-sungguh membangun sistem yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi krisis nyata dalam segala bentuknya.

Baca juga : Teror dan Provokasi: Saat Demokrasi Diancam dari Dua Arah

Menjadi aman menurut indeks luar adalah persepsi. Tapi menjadi siap, tangguh, dan berdaya tahan adalah pilihan, yang hanya bisa diwujudkan melalui visi besar, eksekusi yang konsisten, dan dukungan sosial yang kuat.

Visi Presiden Prabowo untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang membela, bukan mengintai adalah bagian dari paradigma baru pertahanan nasional. Bukan untuk mengembalikan dominasi militer dalam urusan sipil, melainkan untuk menciptakan sistem pertahanan negara yang benar-benar berpihak kepada rakyat, melalui kesiapsiagaan yang menyentuh semua lini kehidupan.

Dan pada akhirnya, membela bangsa tidak selalu berarti mengangkat senjata atau berada di garis depan. Ia bisa diwujudkan dengan tetap tinggal, tetap peduli, dan tetap berkontribusi di tengah tantangan. Di tengah tren #KaburAjaDulu yang mencerminkan rasa putus asa, kita justru perlu membangun narasi baru tentang bertahan dan membangun. Karena Indonesia tidak akan kuat oleh mereka yang pergi, tetapi oleh mereka yang memilih tetap tinggal, ikut berbenah dan membangun.

Lagipula, dalam situasi konflik global, negara tetaplah sandaran terakhir semua warganya, baik yang bertahan maupun yang memilih kabur. Perlindungan, evakuasi, dan keberlangsungan hidup tetap bergantung pada kekuatan sistem nasional yang dibangun hari ini.Maka daripada berharap pada ilusi pelarian, jauh lebih bijak jika kita ikut membangun ketahanan itu secara bersama.

Baca juga : Danantara: Kuatkan BUMN, Bukan Jual Aset Negara

Dalam dunia yang semakin tidak pasti, pujian saja tidak akan berarti apa-apa. Kita perlu memastikan bahwa bangsa ini bukan hanya tampak aman, tetapi benar-benar siap. Dan kesiapan itu dimulai dari keberanian untuk tidak #KaburAjaDulu.

Khairul Fahmi, Analis Pertahanan dan Keamanan – Co-Founder ISESS

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.