Dark/Light Mode

Lagi-Lagi Kecacingan Pada Anak Bangsa

Kamis, 18 September 2025 07:32 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Baru saja, beberapa ­minggu lalu, pada Agustus 2025, dunia kesehatan kita digemparkan ­dengan kasus tragis anak ­Indonesia yang menderita kecacingan di Sukabumi. Kasus ini, antara lain, diberitakan ­Rakyat Merdeka RM.id ­pada 21 Agustus dengan judul ­“Balita Meninggal Akibat Infeksi ­Cacing, Puan Minta RT/RW Aktif Cek Kondisi Warga.”

Kini, dengan sedih, kita kembali membaca kasus serupa. Kali ini, bahkan terjadi pada kakak dan adik sekaligus di sebuah daerah di Bengkulu. Media massa pada 16 September 2025 melaporkan ada anak yang harus menjalani pembedahan karena potensi penyumbatan usus. Rumah sakit pertama yang merawatnya ternyata tidak ­mampu melakukan operasi kecacingan ini, sehingga pasien ­harus dirujuk ke rumah sakit lain.

Setidaknya ada tiga masalah besar di sini. Pertama, kasus kecacingan pada anak Indonesia masih muncul, dan bukan tidak mungkin juga terjadi di ber­bagai daerah lain. Keca­cingan termasuk “penyakit tropik ter­abaikan,” sesuatu yang jelas tidak boleh kita abaikan.

Kedua, kasus ini berkaitan dengan kekurangan gizi pada anak Indonesia. Artinya, masalah gizi memang nyata di sekitar kita.

Baca juga : Tantangan Kesehatan Paru Di 52 Tahun PDPI

Ketiga, soal pelayanan rumah sakit dalam hal kemam­puan melakukan operasi atau pembedahan terkait keca­cingan. Artinya, diperlukan penguatan pelayanan kese­hatan rumah sakit untuk masalah seperti ini.

Media menyebutkan kasus anak di Bengkulu ini disebab­kan oleh cacing gelang ­(Ascaris lumbricoides). CDC ­Amerika Serikat menjelaskan lima hal tentang cacing ini. Pertama, ukuran. Cacing betina dewasa bisa mencapai 20–35 cm, sedangkan cacing jantan dewasa 15–30 cm. Menyedihkan bila cacing sebesar ini ada di tubuh anak-anak Indonesia. Kedua, reproduksi. Seekor cacing betina bisa menghasilkan sekitar 200 ribu telur per hari, yang keluar bersama feses.

Bisa dibayangkan, betapa kasihan anak-anak yang tubuhnya penuh telur cacing. Ketiga, siklus hidup. Telur berkembang menjadi larva, lalu masuk ke tubuh anak melalui sirkulasi sistemik hingga ke paru-­paru. Larva matang di paru-paru dalam 10–14 hari. Keempat, usia. Cacing dewasa dapat hidup 1–2 tahun di tubuh manusia.

Kelima, Dampak kesehatan. Selain menyebabkan gangguan gizi (malnutrisi), kecacingan juga bisa memicu nyeri perut, obstruksi usus, infeksi, hingga perforasi.

Baca juga : KLB Campak Di 80 Tahun Kemerdekaan Dan Rendahnya Vaksinasi

Media melaporkan, anak di Bengkulu itu selain menge­luarkan cacing dari hidung dan mulut, juga mengalami demam tinggi, batuk berdahak, gelisah dan sesak napas.

Kecacingan tentu bukan sekadar persoalan satu-dua kasus, melainkan memperlihatkan masalah dan tan­tangan kese­hatan bangsa. Perlu ­penanganan menyeluruh dari hulu sampai hilir, dengan analisis mendalam ­mengapa kecacingan masih muncul di 80 tahun usia kemerdekaan bangsa ini.

Dari aspek hulu, setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Yaitu pola penularan ­cacing, kebersihan lingkungan, dan gizi. Setelah itu, perlu diperkuat deteksi dini agar kasus tidak sampai berat seperti di Sukabumi dan Bengkulu.

Selanjutnya, pelayanan kesehatan juga harus dievaluasi. Mengapa kasus ini tidak ter­tangani sejak awal di ­layanan primer, bagaimana kinerja Puskesmas, hingga kemampuan rumah sakit rujukan yang ter­nyata harus memindahkan pasien dari satu RS ke RS lainnya.

Baca juga : Penghargaan Achmad Bakrie XXI Bidang Kesehatan

Secara mendasar, kita perlu memperkuat program pengen­dalian penyakit tropik terabaikan dalam kerangka ­pengendalian penyakit menular di Indonesia. Sekaligus menegaskan kembali pentingnya memprioritaskan program kesehatan anak bangsa.

Tentu saja, ini tidak bisa dituntaskan hanya oleh ­tenaga kesehatan. Dibutuhkan kerja bersama lintas sektor yang terkelola terpadu. Kasus ke­cacingan ini menegaskan kembali bahwa program promotif dan preventif di lapangan ­amatlah penting. Bukan hanya mengandalkan pengobatan di rumah sakit.

Oleh: Prof Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
- Mantan Direktur Penya­kit Menular WHO Asia Tenggara - Penerima ­Rakyat ­Merdeka Award 2022 ­bidang Edukasi dan Literasi ­Kesehatan Masyarakat
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI bidang Kesehatan

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.