Dark/Light Mode

Mempersiapkan Kiblat Baru Peradaban Dunia Islam (51)

Karya Peradaban Islam: Kalender Islam

Jumat, 3 Oktober 2025 06:00 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Setelah sekian lama tidak punya kalender sendiri, maka muncul gagasan yang sesungguhnya didesak oleh kepentingan birokrasi pembinaan umat Islam, untuk memiliki kalender sendiri. Kalender yang berlaku saat itu belum teratur. Bangsa Arab menggunakan sistem penanggalan syamsiyah (solar years) dan tahunnya dihubungkan dengan peristiwa terpenting dalam tahun itu. Misalnya Nabi Muhammad dilahirkan pada hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah.

Disebut Tahun Gajah karena pada tahun itu terjadi kejadian dahsyat, yaitu musnahnya pasukan bergajah yang dipimpin langsung oleh Raja Abrahah dari Yaman. Tahun-tahun berikutnya dicari lagi peristiwa penting yang terjadi di kawasan Jazirah Arab.

Baca juga : Karya Peradaban Islam: Perintis Tenaga Kincir Air (Hydropower)

Setelah Rasulullah dilantik jadi Nabi, sahabat sering menggunakan momentum itu sebagai penanda tahun, misalnya kejadian Bai’atul ’Aqabah pertama terjadi pada bulan Zulhijjah tahun ke 11 dari kenabian. Bai’atul ’Aqabah kedua (kubra) terjadi dalam bulan Zulhijjah tahun ke 14 dari kenabian. Sahabat lain secara tradisional masih menggunakan penanggalan tradisi Arab.

Ketika dunia Islam semakin meluas sampai keluar dari Jazirah Arab, terutama pada zaman pemerintahan Khalifah Umar (635-645 M) yang meluas sampai ke Mesir, Persia, dan berbagai wilayah di luar Arab lainnya. Untuk mengatur pemerintahannya yang semakin luas, Umar mengangkat beberapa sahabat untuk menjadi gubernur di antaranya: Muawiyyah diangkat menjadi Gubernur di Syiria, termasuk wilayahnya adalah Yordania. Amru bin Ash diangkat menjadi Gubernur Mesir. Musa Al-As’ari diangkat menjadi Gubernur Kuffah. Mu’adz bin Jabal diangkat menjadi Gubernur Yaman. Abu Hurairah diangkat menjadi Gubernur Bahrain.

Baca juga : Karya Peradaban Islam: Kompas Dan Navigasi

Dalam mengatur pemerintahan, timbul berbagai persoalan, termasuk di antaranya sistem penanggalan yang tidak seragam. Di tahun ke-5 pemerintahan Khalifah Umar, beliau mendapat surat dari Musa Al-Asy’ari Gubernur Kuffah, salah satu yang dipersoalkan ialah sistem kalender pemerintahan. Dalam isi suratnya disebutkan:

“Gubernur Musa Al As’ari menulis surat kepada Umar bin Khatthab. Sesungguhnya telah sampai kepadaku dari kamu beberapa surat tetapi surat-surat itu tidak ada tanggalnya.”
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.