Dark/Light Mode

Meritokrasi Dan Politik Dalam Pemerintahan Menuju Indonesia Raya

Senin, 13 Oktober 2025 07:19 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

 Sebelumnya 
Namun pelajaran juga datang dari sisi gelap: meritokrasi yang terlalu kaku dapat melahirkan elitisme, menciptakan ­jurang antara “yang berhasil” dan “yang gagal”. Dari sinilah Indonesia harus belajar, di mana Indonesia Raya yang kita cita-citakan adalah negeri yang bukan hanya besar di peta, melainkan juga kuat dalam tata kelola, adil dalam distribusi, dan luhur dalam cita moral. Untuk mencapainya, meritokrasi harus menjadi tradisi yang tak tergoyahkan.

Sebuah tradisi yang melampaui rezim, melampaui ke­pentingan politik sesaat: siapa pun yang mendapat jabatan ­publik, ia ada di sana bukan ­karena keluarga, bukan ­karena uang, melainkan karena ia ­pantas, ia layak, ia telah berjuang. Politik pemerintahan yang berlandaskan meritokrasi akan melahirkan birokrasi yang tangguh, kebijakan yang rasional, dan rakyat yang percaya pada negaranya.

Baca juga : Gejolak Geopolitik Amerika Dan Jalan Stabilitas Menuju Indonesia Raya

Meritokrasi bukanlah ­jaminan mutlak untuk keadilan, tetapi ia adalah pondasi yang tak tergantikan. Tanpa merit, negara akan tenggelam dalam favo­ritisme, korupsi, dan mediokritas. ­Dengan merit, Indonesia punya kesempatan untuk melangkah menuju masa depan yang lebih jernih, di mana setiap anak bangsa merasa punya ­ruang untuk berjuang, dan setiap usaha yang tulus mendapatkan pengakuan.

Maka ketika kita berbicara tentang Indonesia Raya, kita berbicara tentang negara yang berani menolak jalan pintas, negara yang berani menolak nepotisme, negara yang berani mengatakan bahwa yang terbaiklah yang akan memimpin. Indonesia Raya adalah cita-cita yang menuntut kita menjaga api meritokrasi agar tak padam, meski badai politik datang silih berganti.

Baca juga : Gaung Soekarno Dan Prabowo Di PBB: Seruan Kemanusiaan Dan Perdamaian

Dalam api itulah berpendar ­cahaya harapan—bahwa bangsa ini bisa besar bukan karena ­warisan semata, melainkan karena usaha kolektif yang adil dan setara. Meritokrasi, pada ­akhirnya, adalah napas panjang yang menjadikan ­ideologi Pancasila semakin kokoh di bumi Indonesia Raya berdiri tegak, menatap dunia dengan kepala tegak, dan berjalan mantap menuju masa depan yang berdaulat, adil, dan makmur.

Prof. Dr. Ermaya ­Suradinata, SH, MH, MS, adalah DIRJEN SOSPOL DEPDAGRI RI ­1999-2001 DAN GUBERNUR ­LEMHANNAS RI 2001-2005.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.