Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Prabowo, Great Power, dan Kekeliruan Romantisme Diplomasi Dino Patti Djalal
Minggu, 12 April 2026 14:37 WIB
Dr. Eko Wahyuanto
Pengamat Kebijakan Publik
Pengamat Kebijakan Publik
RM.id Rakyat Merdeka - Diplomasi Indonesia tidak dijalankan dalam lanskap rutinitas formal. Kritik mantan diplomat Dino Patti Djalal soal prioritas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kegagapan membaca pergeseran geopolitik global.
Dino terjebak kacamata diplomasi konvensional. Mempersoalkan mengapa Presiden Prabowo memilih menyambangi pusat kekuatan besar Tiongkok, Amerika Serikat, Eropa ketimbang negara ASEAN, sebagai pandangan keliru.
DIno tidak sedang melakukan kritik prosedural, melainkan kekeliruan fatal dalam memahami esensi realpolitik. Terpenjara romantisme "ASEAN-sentrisitas" bersifat seremonial.
Padahal Presiden Prabowo sedang melakukan kalkulasi tingkat tinggi, mengamankan kepentingan nasional di tengah ancaman polarisasi dunia. Menyebut Presiden Prabowo mengabaikan ASEAN hanya karena urutan kunjungan, merupakan argumen tendensius, sulit dipahami secara akal sehat.
Melampaui Simbolisme
Asumsi bahwa legitimasi kepemimpinan Indonesia harus dimulai dari lingkaran ASEAN, menjiplak mentah strategi era Perang Dingin. Hal ini kemunduran berpikir.
Mengapa negara besar didahului? Keamanan kawasan Asia Tenggara tidak ditentukan Jakarta, Bangkok, Manila. Penentunya Beijing dan Washington. Karena itu presiden Prabowo memilih mendatangi Tiongkok, Amerika Serikat awal masa jabatan sebagai diplomasi preventif. Untuk memastikan persaingan dua raksasa tidak menjadikan ASEAN padang pertempuran
Langkah ini sejalan pemikiran Pakar Hubungan Internasional Realis dari University of Chicago, John Mearsheimer. Dalam logika Great Power Politics, negara menengah seperti Indonesia harus aktif bernegosiasi langsung dengan kekuatan besar, guna menghindari menjadi korban di tengah pertarungan dua raksasa. Dino gagal melihat upaya menyelamatkan “rumah" ASEAN lewat negosiasi berkelas.
Baca juga : Prabowo Subianto Tiba di Korsel, Lanjutkan Diplomasi Asia Timur
Tidak boleh menutup mata, fakta ASEAN sedang mengalami krisis relevansi. Isu Myanmar, Laut Tiongkok Selatan, ASEAN kerap buntu akibat prinsip konsensus kaku.
Hal ini diperkuat oleh analisis Graham Allison dari Harvard University, yang menekankan pentingnya komunikasi langsung dengan kekuatan besar untuk menghindari jebakan konflik global (Thucydides Trap). Mengharuskan presiden Prabowo memprioritaskan kunjungan kawasan yang tengah buntu, pemborosan modal politik sebagai pendatang baru.
Presiden Prabowo memahami Indonesia tidak bisa memimpin ASEAN bermodalkan keramahan dan jabat tangan semata, tetapi Indonesia harus kuat secara internal, ekonomi, militer. Agar dapat dijadikan rujukan dalam menyelesaikan problem kawasan.
Kunjungan ke Eropa, Amerika Serikat bertujuan memperkuat otot politik, tulang pertahanan dan urat nadi ekonomi. Indonesia memiliki postur militer disegani, dan ekonomi mandiri hasil transfer teknologi. Dengan demikian otomatis posisi tawar Indonesia dalam ASEAN naik kelas. Kepemimpinan diraih melalui kekuatan (power), bukan absensi kehadiran seremonial.
Diplomasi Pangan dan Alutsista
Nampaknya Dino tidak paham, Indonesia sedang mengejar target pertumbuhan 8%, melalui ambisi hilirisasi. Pertanyaannya, apakah modal, teknologi, dan kebutuhan untuk mendorong hilirisasi, tersedia di negara sesama anggota ASEAN? Jawabannya: Tidak.
Dalam kajian ekonomi politik internasional, apa yang dilakukan Prabowo adalah bentuk economic statecraft. Kunjungan ke negara bermodal tinggi, syarat mutlak mendorong industrialisasi nasional. Langkah Prabowo wujud "Diplomasi Pangan". Waktunya dihabiskan di London, Paris, Beijing hanya untuk membangun komitmen investasi miliaran dolar.
Dino tampak terjebak dalam urusan etiket diplomatik mengabaikan substansi capaian kemakmuran domestik, ketimbang menyenangkan perasaan kolega kawasan.
Baca juga : Prabowo Janjikan Keamanan Investasi Ke Pengusaha Jepang
Pandangan yang menyebut langkah Prabowo berisiko menjauhkan Indonesia dari ASEAN, pandangan tendensius, kurang berdasar. Mengunjungi negara besar lintas blok justru mendefinisikan ulang politik Bebas-Aktif menjadi lebih proaktif. Di mana kepentingan ASEAN juga ada di dalamnya.
Selama ini kebijakan luar negeri lebih bersifat reaktif. Presiden Prabowo ingin mengubahnya menjadi ofensif positif, tidak menunggu bola. dan mendatangi pusat kekuatan. Hal ini menegaskan bahwa Indonesia non-aligned power memiliki daya tawar.
Melanglang buana ke jantung kekuatan dunia, mengirim pesan seluruh anggota ASEAN, kalau mereka memiliki pemimpin kawasan mampu duduk setara dengan pemimpin dunia.
Kehilangan momentum transisi kepemimpinan global, berarti Indonesia kehilangan peluang memposisikan diri pada rantai global. Ketiga, stagnasi pertahanan.
Program modernisasi militer membutuhkan komitmen tingkat tinggi negara produsen tertunda demi urusan protokoler regional.
Prabowo Subianto bukan tipe pemimpin basa-basi birokrasi. Ia seorang realis, tahu kedaulatan Indonesia di Natuna tidak terjaga sekadar komunike bersama ASEAN.
Kedaulatan terjaga kehadiran kapal perang hasil kerja sama teknologi negara maju. Ia tahu swasembada pangan tidak tercapai rapat koordinasi tingkat regional. Swasembada butuh investasi teknologi pertanian negara maju.
Romantisme Masa Lalu
Kritik Dino Patti Djalal refleksi generasi diplomat yang dibesarkan tatanan dunia lama stabil. Hari ini dunia berada anarki geopolitik. Situasi ini menuntut pemimpin berani mengambil langkah tidak populer namun strategis.
Baca juga : Prabowo: Serangan Air Keras ke Aktivis adalah Terorisme, Usut Sampai Dalangnya!
Presiden Prabowo memilih negara besar bukan mengabaikan ASEAN. Sadar bahwa kunci stabilitas ASEAN ada tangan negara-negara besar tersebut.
Mengamankan kepentingan Indonesia tingkat global cara terbaik mengamankan posisi Indonesia tingkat regional.
Pandangan Dino terjebak urutan kunjungan sangat dangkal. Kita tidak butuh presiden sekadar hadir pertemuan regional formalitas. Kita butuh presiden mampu membawa pulang hasil nyata, teknologi, jaminan keamanan pusat kekuatan dunia.
Apa yang dilakukan Prabowo koreksi diplomasi selama ini terlalu pemalu. Indonesia bergerak menuju Indonesia Emas 2045. Jalan ke sana harus melewati panggung dunia, bukan sekadar panggung rukun tetangga. Dino harus menerima paradigma diplomasi Indonesia telah berubah, dari pengikut menjadi pemain, dari simbolis menjadi strategis.
Eko Wahyuanto, Dosen dan Pengamat Kebijakan Publik
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya