Dark/Light Mode

Pancasila Adalah Darah Dan Daging Bangsa Indonesia

Minggu, 31 Mei 2026 20:51 WIB
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si

RM.id  Rakyat Merdeka - 1 Juni 2026, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Lahir Pancasila. Banyak peristiwa besar telah dilalui republik ini sejak para pendiri bangsa meletakkan dasar-dasar kebangsaan kita di awal abad ke-20.

Pemerintahan silih berganti, generasi berlanjut, tantangan terus mengalami evolusi dari zaman ke zaman. Namun, ada satu hal yang tetap bertahan menjaga Indonesia tetap berdiri sebagai satu bangsa, yaitu Pancasila.

Interaksi dengan diplomat, akademisi, tokoh politik, dan pemimpin dari berbagai negara, saya melihat bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki sesuatu yang sangat berharga. Banyak negara memiliki kekuatan ekonomi, teknologi yang maju, persenjataan yang kuat, dan setiap yang kuat.

Namun, dunia masih terus mencari jawaban atas satu pertanyaan besar: bagaimana merawat persatuan dalam keberagaman yang sangat luas. Indonesia telah menemukan jawabannya sejak lama. Jawaban itu bernama Pancasila.

Hampir setiap kali berada di luar negeri, selalu ada yang bertanya tentang Pancasila. Mereka heran bagaimana Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, berbagai agama, budaya, dan bahasa dapat tetap berdiri sebagai satu bangsa.

Bagi banyak negara, kemampuan hidup bersama dalam keberagaman seperti ini adalah sesuatu yang sangat berharga untuk dipelajari.

Saya sering mengatakan, kalau ada satu mukjizat politik terbesar yang pernah lahir di Nusantara, namanya adalah Pancasila. Negeri ini terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, dihuni ratusan kelompok etnis, bahasa daerah, budaya, dan keyakinan yang berbeda.
Dalam banyak teori politik, kondisi seperti ini sering menjadi sumber konflik.

Namun, Indonesia justru tumbuh menjadi bangsa besar. Pancasila menghadirkan perjumpaan yang membuat seluruh perbedaan itu dapat hidup dalam satu rumah kebangsaan yang sama.

Baca juga : Pancasila di Pusaran Zaman: Fondasi Kebangkitan Bangsa & Suar Perdamaian Dunia

Tuhan Yang Maha Esa menciptakan Indonesia dengan cara yang istimewa. Keragaman yang kita miliki bukan masalah yang harus diselesaikan. Keragaman adalah rahmat yang harus disyukuri. Para pendiri bangsa memahami hal itu.

Karena itu, mereka merumuskan Pancasila sebagai jalan bersama. Pancasila membuat seluruh umat beragama di negeri ini menyadari kebesaran Tuhan sekaligus menyadari pentingnya menghormati sesama manusia.

Umat Islam justru perlu memahami Pancasila secara lebih mendalam. Para ulama dan negarawan pendiri bangsa telah menunjukkan kebesaran jiwa ketika menyepakati penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi menjaga persatuan nasional.

Mereka memahami bahwa Indonesia adalah rumah bersama bagi seluruh anak bangsa, baik Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, maupun berbagai aliran kepercayaan yang hidup di negeri ini.

Bung Karno pernah mengingatkan bahwa apabila bangsa Indonesia melupakan Pancasila, Indonesia dapat hancur berkeping-keping. Kalimat itu terasa semakin relevan saat ini.

Dunia sedang menyaksikan berbagai konflik identitas, polarisasi sosial, dan pertentangan yang merusak persatuan banyak negara. Sementara, Indonesia tetap memiliki pegangan yang jelas.

Para pendiri bangsa telah mewariskan kompas kebangsaan yang hingga hari ini masih menunjukkan arah yang benar.
Pendidikan Pancasila memiliki arti yang sangat penting.

Generasi yang tumbuh pada era Pendidikan Moral Pancasila atau PMP masih mengingat bagaimana nilai-nilai Pancasila ditanamkan sejak usia dini. PMP bukan sekadar mata pelajaran. PMP adalah upaya membangun watak bangsa.

Baca juga : Pancasila dan Tanggung Jawab Moral Indonesia bagi Perdamaian Dunia

Kurikulum kemudian berkembang, nama mata pelajaran berubah mengikuti kebutuhan zaman, tetapi misi utamanya tetap sama, yaitu membentuk manusia Indonesia yang mengenal bangsanya, mencintai negaranya, dan memahami tanggung jawabnya sebagai warga negara.

Gerakan Pengajaran Kembali Mata Pelajaran Pedoman Penghayatan Pancasila lahir dari kesadaran sederhana bahwa bangsa yang besar harus menjaga ingatan kebangsaannya. Kemajuan teknologi sangat penting.

Kemajuan ekonomi sangat penting. Pembangunan infrastruktur sangat penting. Namun, karakter bangsa tetap menjadi fondasi utama. Sebab, kekuatan Indonesia pada akhirnya berada pada kualitas manusianya.

Hari ini, tantangan kebangsaan hadir dalam bentuk yang berbeda. Informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan sebagian orang untuk memverifikasinya. Provokasi menyebar lebih cepat daripada kebijaksanaan.

Kebencian sering memperoleh panggung yang lebih besar daripada persaudaraan. Dalam situasi seperti itu, Pancasila harus kembali ditempatkan sebagai sumber inspirasi sekaligus sumber keteladanan.

Mohammad Hatta pernah menegaskan bahwa Indonesia didirikan untuk semua. Semangat itulah yang hidup dalam Pancasila. Republik ini tidak dibangun untuk satu golongan, satu kelompok, atau satu kepentingan tertentu. Republik ini dibangun untuk seluruh rakyat Indonesia. Dari situlah lahir rasa memiliki yang membuat bangsa ini mampu bertahan menghadapi berbagai ujian sejarah.

Pancasila tidak membutuhkan pembela yang pandai berteriak. Pancasila membutuhkan generasi yang bersedia menghidupkannya dalam tindakan.

Nilainya harus terlihat dalam kepemimpinan, dalam pendidikan, dalam pelayanan publik, dalam kehidupan beragama, dan dalam hubungan sosial sehari-hari. Pancasila harus hadir dalam perilaku, bukan hanya dalam pidato.
Orang yang memusuhi Pancasila sesungguhnya sedang melawan kenyataan sejarah.

Baca juga : Askrindo Syariah Salurkan Hewan Kurban ke Sejumlah Daerah di Indonesia

Republik ini lahir bersama Pancasila, bertumbuh bersama Pancasila, dan tetap berdiri karena Pancasila. Siapa saja yang berkhianat kepada Pancasila sesungguhnya sedang mengingkari rahmat besar yang telah diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia.

Pada Hari Lahir Pancasila tahun 2026 ini, mari memperkuat kembali persaudaraan kebangsaan. Mari menjaga warisan luhur para pendiri bangsa dengan kerja nyata, keteladanan, dan pengabdian.

Selama Pancasila tetap hidup di hati rakyat Indonesia, selama itu pula Indonesia akan terus berdiri tegak sebagai bangsa besar yang kuat, terhormat, dan disegani dunia.
Pancasila telah menjadi darah dan daging bangsa Indonesia.

Menjaga Pancasila berarti menjaga Indonesia. Menjaga Indonesia berarti menjaga amanat sejarah, amanat para pendiri bangsa, dan amanat Tuhan Yang Maha Esa kepada generasi penerus republik ini.

Di tengah masyarakat yang skeptis terhadap Pancasila, izinkan saya, dengan segala kerendahan hati, mengajak masyarakat dan para pembaca untuk sekali lagi menghayati nasionalisme dalam ranah yang lebih luas.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.