Dark/Light Mode

Kandungan & Dampak Kesehatan Asap Kebakaran Hutan

Sabtu, 29 Agustus 2026 07:48 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Kebakaran hutan masih terus terjadi. Ada jutaan warga kita yang tinggal dan hidup di daerah yang terpapar asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dan tentu kesehatan saudara-saudara kita akan terdampak. Dampak kesehatan terjadi karena kandungan dalam asap kebakaran hutan ini. Setidaknya ada tiga kandungan berbahaya, dan ditambah “plus satu” lagi.

Pertama adalah partikel, utamanya yang berukuran 2,5 mikron yang disebut PM2.5. Karena kecilnya partikel ini, maka dapat masuk jauh ke alveoli paru dan dampaknya dapat menyebar melalui peredaran darah serta mencetuskan terjadinya inflamasi atau ­peradangan.

Kandungan kedua adalah gas seperti NO₂, ozon, CO, dan lain-lain, serta hidrokarbon aromatik. Lalu, kandungan ketiga adalah bahan organik lain akibat pembakaran pohon dan tanaman lainnya. Juga terdapat bahan seperti metoksifenol, levoglukosan, dan berbagai bahan anorganik.

“Plus satu” kandungan adalah karena WHO menyebutkan bahwa terbentuk campuran toksik (toxic mix) dari berbagai bahan akibat kebakaran hutan.

Dengan berbagai kandungan bahan berbahaya itu, maka ada tiga “plus satu” dampak kesehatan dari asap karhutla ini. Pertama adalah dampak akut pada paru dan pernapasan, seperti ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), dan lain-lain, termasuk gangguan mata, kulit, dan sebagainya.

Baca juga : Pelayanan Kesehatan Primer

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) ­Amerika Serikat pada 24 ­Agustus 2026, beberapa hari yang lalu, memublikasikan sebelas gejala yang dapat dialami seseorang yang terpapar asap kebakaran hutan, yaitu batuk, kesulitan bernapas, napas mengi (wheezing), serangan asma, keluhan pada mata, ­tenggorokan gatal, keluhan pilek, iritasi sinus, rasa lelah, nyeri dada, dan denyut jantung yang makin cepat.

Kedua adalah dampak lanjutannya, seperti perburukan infeksi paru, penyakit asma, dan penyakit lain yang dapat menyebabkan peningkatan risiko gangguan kardiorespirasi.

Lalu, ketiga, terjadinya kebakaran hutan juga akan mengganggu akses penduduk ke pelayanan kesehatan di daerah itu. Bahkan, bukan tidak mungkin fasilitas pelayanan kesehatan seperti klinik dan rumah sakit tidak dapat bekerja optimal karena ada kebakaran hutan di sekitarnya.

Selain tiga dampak kese­hatan itu, ada lagi dampak “plus satu”, yaitu dampak pada transportasi di daerah terdampak, juga ketersediaan air bersih, gangguan komunikasi, dan sumber daya lainnya. Asap kebakaran hutan juga dapat mengganggu visibilitas pandangan, menyebabkan disrupsi penerbangan, berakibat buruk pada kegiatan pariwisata, serta menimbulkan berbagai dampak sosial ekonomi yang luas.

Sesudah mengetahui kan­dungan dan dampaknya, maka ada empat “plus dua” cara pengendaliannya.

Baca juga : CKG Di Pidato Presiden 14 Agustus 2026

Dalam hal ini, pada 29 Juli 2026, Kantor WHO Eropa, yang benuanya kini sedang dilanda kebakaran hutan cukup luas, menganjurkan empat hal. Pertama, bila aman, agar menghindar dari kebakaran yang sedang aktif, yang tentu tidak dapat dilaksanakan kalau memang daerah tempat tinggal seluruhnya terpapar asap.

Kedua, WHO Eropa menye­butkan agar menghindari perjalanan yang tidak terlalu perlu. Untuk kita di Indonesia, maka yang dapat dianjurkan adalah menghindari aktivitas fisik berlebihan.

Ketiga, gunakanlah masker yang baik—bahkan bila perlu dalam bentuk respirator—kalau harus ke daerah dekat kebakaran hutan.

Keempat, warga yang meng­alami gangguan pernapasan atau gangguan kesehatan lain harus segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Di luar yang disampaikan WHO di atas, maka saya tambahkan “plus dua” lagi. Pertama adalah upaya pengendalian agar asap tidak masuk ke dalam rumah, sekolah, kantor, dan lain-lain. “Plus” yang kedua adalah agar masyarakat di daerah kebakaran hutan perlu selalu menjaga dan memelihara kesehatannya serta melakukan perilaku hidup bersih dan sehat.

Baca juga : Virus Penyakit Paru

Diberitakan juga bahwa asap kebakaran hutan sudah sampai ke negara tetangga kita. Dalam hal ini, World Meteorological Organization (WMO) pada Juni 2026 menyebutkan bahwa asap kebakaran hutan dapat terbang sampai ribuan kilometer, melewati batas negara, benua dan samudra.

WMO bahkan menyatakan bahwa asap kebakaran hutan dapat terbang amat tinggi sampai ke troposfer dan bahkan ke stratosfer melalui awan pyrocumulonimbus (PyroCb). Semoga upaya maksimal benar-benar dapat dilaksanakan agar kebakaran hutan dapat segera dipadamkan.

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Australia
- Mantan Dirjen Pengen­dalian Penyakit dan Penye­hatan Lingkungan
- Kepala Balitbangkes Kementerian ­Kesehatan
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024–PERSI,
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.