Dark/Light Mode

Dokter Kita Kembali Meninggal, Amat Menyedihkan

Selasa, 30 Juni 2026 07:20 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Pada 5 Mei 2026 atau sekitar sebulan lalu, harian Rakyat Merdeka memuat tulisan saya berjudul “Meninggalnya Para Dokter Internship Kita”. Dalam artikel tersebut saya menuliskan duka mendalam karena empat dokter internship kehilangan nyawa di usia muda, ketika baru memulai perjalanan karier sebagai dokter.

Belum hilang rasa duka atas kepergian para sejawat dokter ­internship di berbagai daerah, kini berbagai media massa kembali memberitakan meninggal­nya dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha. Beliau bertugas di RS Leona Kefame­nanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.

Dr. Icha dilaporkan meninggal dunia setelah diduga menga­lami intimidasi saat menangani seorang pasien anak korban gi­gitan ular di Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit ­tempat beliau bertugas. Memang, dr. Icha bukan lagi dokter internship. Beliau telah menjalankan profesinya sebagai dokter secara penuh. Namun, beliau juga harus berpulang pada usia yang masih muda, ketika kariernya sebagai dokter baru mulai berkembang.

Baca juga : Buku Dari Warga untuk Warga di HUT ke-499 Jakarta

Berbagai pemberitaan juga menyebutkan bahwa dr. Icha merupakan putri daerah yang menempuh pendidikan kedokteran melalui beasiswa Peme­rintah Kabupaten TTU. Selain bertugas di Puskesmas Bitefa, beliau juga diperbantukan di IGD RS Leona.

Sedikitnya ada lima hal yang perlu menjadi perhatian serius. Pertama, masyarakat perlu menyadari bahwa dokter di klinik, puskesmas, maupun rumah sakit pada hakikatnya bekerja untuk menolong pasien. Dalam Sumpah Hipokrates, setiap dokter berjanji untuk senantiasa mengutamakan kesehatan pasien. Artinya, dokter akan memberikan kemampuan terbaiknya dalam menangani pasien sesuai ilmu pengetahuan, standar profesi, dan prosedur yang berlaku. Tentu saja hasil pengobatan juga dipengaruhi oleh kondisi pasien serta ber­bagai faktor lainnya.

Kedua, penanganan penyakit selalu melalui proses se­suai ­kaidah ilmu kedokteran. Berbagai media memberitakan adanya pihak yang memprotes tindakan medis yang dilakukan dr. Icha di IGD RS Leona Kefamenanu. Padahal, saat itu beliau sedang menjalankan proses penanganan pasien. Sangat tidak tepat apabila seorang dokter disalahkan, apalagi sampai ­mengalami intimidasi, ketika masih menjalankan tindakan medis sesuai prosedur.

Baca juga : Ujian Calon Dokter

Ketiga, baru beberapa hari lalu berbagai media mem­beritakan bahwa Indonesia ­masih sangat membutuhkan dokter di layanan kese­hatan primer. ­Selain bertugas di rumah sakit, dr. Icha juga melayani ma­sya­rakat di pus­kes­mas, seba­gaimana empat dokter internship yang me­ninggal dunia se­belumnya.

Peristiwa tragis yang menimpa sejawat kita ini menunjukkan tantangan nyata yang dihadapi dokter di lapangan. Agar kebutuhan dokter di layanan ke­sehatan primer dapat terpenuhi, kesejahteraan mereka harus terjamin, jenjang karier harus jelas, tersedia dukungan pendidikan yang baik bagi anak-anak mereka, serta pemerintah wajib memberikan perlindungan yang memadai terhadap berbagai risiko pekerjaan, termasuk ­ancaman, intimidasi, maupun bahaya lainnya.

Keempat, kasus dr. Icha menunjukkan bahwa negara harus benar-benar hadir ­untuk melindungi dokter dalam menjalankan profesi mulianya. Tidaklah tepat apabila dokter diminta mengabdi tanpa adanya perlindungan yang memadai selama menjalankan tugas.

Baca juga : YARSI Peduli Penyakit Langka

Kelima, kita sangat berharap tindak lanjut atas meninggalnya dr. Icha dilakukan melalui proses yang profesional, objektif, transparan dan berkeadilan.

Sebagai penutup, kita semua tentu sependapat bahwa peristiwa ini bukan hanya tentang meninggalnya seorang tenaga medis. Lebih dari itu, ini menyangkut keamanan, perlin­dungan, dan martabat profesi dokter yang setiap hari mengabdikan dirinya untuk menyelamatkan nyawa manusia.

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama |
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Pro­fessor Griffith University ­Australia
- Dokter sejak 1980, Guru ­Besar Ilmu Kedokteran sejak 2008
- Penerima Rakyat ­Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat,
- Penerima Rekor MURI 2024
- Penerima Penghargaan ­Paramakarya Parama­husada 2024 dari PERSI, serta ­Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.