Dark/Light Mode
- Profil Jay Herdman, Putra Pelatih Timnas yang Jadi Andalan Baru Bali United
- Barcelona Tutup Pramusim dengan Gelar Joan Gamper Trophy 2026
- Fitrah Maulana Bangga Bawa Persib Juara Dewata Challenge Series
- STY Puji Perkembangan Persija Usai Laga Uji Coba Di Thailand
- Gabung Klub Arab Saudi, Kakak Pemain Persib Dibanderol Rp1,4 T
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia pada 14 Agustus 2026 membahas berbagai aspek, tentu termasuk kesehatan. Presiden Prabowo Subianto antara lain mengemukakan bahwa kita kini memiliki 10.255 Puskesmas.
Konsep Puskesmas di negara kita dicetuskan pada Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) tahun 1968, yang kemudian dimatangkan pada tahun-tahun berikutnya.
Ketika saya lulus dokter tahun 1980, saya dan teman-teman sesama alumni FK bekerja di Puskesmas di berbagai kecamatan di seluruh tanah air. Saya mula-mula ditempatkan di Puskesmas Kecamatan Bukit Kapur, Kabupaten Bengkalis, dan lalu dipindahkan ke Puskesmas Bukit Kapur, sementara istri saya yang juga dokter bekerja di Puskesmas Dumai Timur, semuanya di Provinsi Riau.
Saya dan teman-teman ketika itu menikmati tugas pertama kami sebagai dokter, apalagi langsung bekerja di lapangan dan menyelesaikan masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Ini pada dasarnya sesuai dengan konsep pelayanan kesehatan primer.
Baca juga : CKG Di Pidato Presiden 14 Agustus 2026
Saya tentu juga bersyukur karena kerja saya di Puskesmas kemudian mendapat pengakuan sebagai Dokter Puskesmas Teladan tahun 1983, mewakili Provinsi Riau. Ketika itu, 43 tahun yang lalu, saya diberi kesempatan ikut dalam Sidang MPR/DPR untuk mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden Soeharto.
Menurut WHO, pelayanan kesehatan primer (primary health care – PHC) adalah pelayanan esensial dengan pendekatan komunitas dan berfungsi sebagai tempat pertama di mana individu, keluarga, atau masyarakat berkontak dengan sistem kesehatan. Disebutkan bahwa untuk mencapai pelayanan kesehatan universal (universal health coverage – UHC), kita harus menyediakan pelayanan kesehatan sedekat mungkin dengan lokasi masyarakat tinggal dan bekerja. Inilah pelayanan kesehatan primer.
Ada tiga komponen utama kegiatannya. Pertama, mengintegrasikan pelayanan kesehatan untuk langsung melayani kebutuhan masyarakat sepanjang kehidupannya. Artinya, bukan hanya mengobati yang sudah sakit, tetapi juga utamanya menjaga yang sehat tetap sehat.
Kedua, juga menangani determinan kesehatan yang lebih luas yang dilakukan dengan pendekatan dan penanganan multisektoral di lapangan, dalam hal ini di kecamatan wilayah kerja Puskesmas.
Baca juga : Virus Penyakit Paru
Saya ingat pada tahun 1980-an, Puskesmas tempat saya bertugas masih dikelilingi alang-alang yang sempat juga terbakar luas. Untuk pergi ke desa-desa pun belum ada jalan raya.
Ketiga, Puskesmas juga harus melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat karena kita ketahui bahwa program kesehatan harus bermula dari masyarakat itu sendiri, orang per orang, keluarga, dan lingkungannya.
Tentu saja, kalau ada kasus yang sulit dan tidak bisa ditangani di pelayanan kesehatan primer, maka diperlukan rujukan ke pelayanan kesehatan sekunder dan tersier. Tetapi, kalau bicara derajat dan status kesehatan bangsa, maka peran pelayanan kesehatan primer adalah sentral dan utama.
Karena itu, tenaga, sarana, dan prasarana pelayanan kesehatan primer harus betul-betul dijamin oleh pemerintah. Kita sangat sepakat ketika Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia pada 14 Agustus 2026 menyebutkan salah satu tantangan adalah bahwa sekarang ini hampir semua Puskesmas belum memiliki 13 jenis tenaga kesehatan secara lengkap. Ini jelas-jelas merupakan masalah dan tantangan yang besar.
Baca juga : Pengendalian Malaria Di Kepulauan Tanimbar
Memang dokter spesialis di rumah sakit adalah penting, tetapi jaminan ketersediaan petugas sanitasi, petugas gizi, atau bidan di Puskesmas adalah sama pentingnya bagi derajat kesehatan bangsa. Semoga tantangan tentang tenaga kesehatan di Puskesmas yang disampaikan Presiden ini akan segera ditangani.
Sudah sering kali diungkapkan bahwa pelayanan promotif-preventif langsung di lapangan adalah pilar utama, dan kita harapkan ini diwujudkan dalam bentuk nyata pelayanan kesehatan primer di negara kita.
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
- Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Dokter Puskesmas Teladan tahun 1983, mewakili Provinsi Riau
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.