Dark/Light Mode

Dubes Desra Percaya Dan Pelayanan Rumah Sakit

Kamis, 10 September 2026 20:01 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Pada 10 September 2026 ini, Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI berbesar hati mendapatkan kuliah umum dari Dubes Desra Percaya, Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) kita untuk Britania Raya merangkap Irlandia dan Organisasi Maritim Internasional, yang berkedudukan di London.

Saya membuka acara ini, dan memang saya sudah mengenal Dubes Desra Percaya sejak tahun 2008 ketika beliau masih menjadi Dubes/Deputi Perwakilan Tetap (Dewatap) Republik Indonesia di Jenewa, dan kemudian menjadi Dubes/Perwakilan Tetap (Watap) Republik Indonesia di New York, lalu menjadi Direktur Jendral Kementerian Luar Negeri dan kini menjadi Dubes kita yang berkedudukan London.

Sesudah membahas dan menyampaikan pengalaman pelayanan kesehatan dan rumah sakit di Inggris dan beberapa negara Eropa, maka Dubes Watap menyampaikan tujuh hal bagi mahasiswa Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI.

Baca juga : Yudisium MARS YARSI

Pertama, Rumah Sakit bukan pintu pertama pelayan kesehatan. Pelayanan kesehatan primer (“primary care”) adalah yang terdepan, Beliau sampaikan bahwa kalau di London mereka membutuhkan pelayanan kesehatan maka harus ke dokter umum yang memang dialokasikan, untuk kemudian ditangani atau kalau perlu dirujuk.

 

Desra Percaya, Dubes LBBP Britania Raya. (Foto : Dok Pribadi)

Kedua, sistem “gate keeping” bukanlah untuk menyulitkan. Tujuannya agar pasien mendapat pelayanan sesuai yang dibutuhkannya, jangan kurang dan jangan juga berlebihan.

Baca juga : Pelayanan Kesehatan Primer

Ketiga, pelayanan gawat darurat (“emergency care”) harus mudah diakses oleh mereka yang memerlukannya, dan ada kriteria yang jelas tentang yang mana yang disebut “gawat darurat” dan harus ditangani segera.

Kelima, ini pesan yang penting. Kelola “patient journey”, bukan berorientasi ke pembagian kerja di RS. Artinya kita perlu tahu apa saja yang akan dijalani pasien di rumah sakit sejak masuk sampai selesai, dan pastikan semua prosesnya berjalan baik, jadi berorientasi ke pasien.

Keenam, masalah waktu tunggu mendapat pelayanan adalah masalah sistem. Untuk ini harus di cari penyebabnya, dan penyebabnya itu yang diatasi.

Baca juga : Mampukah AI Menggantikan Peran Apoteker dalam Pelayanan Kefarmasian

Keenam, ini juga pesan yang penting, pasien yang keluar dari RS bukanlah akhir pelayanan yang dibutuhkannya. Pelayanan RS harus terhubung dan berkomunikasi dengan pelayanan kesehatan di komunitas, agar pasien dapat tetap terjaga kesehatannya di rumah atau lingkungannya.

Ketujuh. Dubes Desra menyampaikan bahwa rumah sakit harus memiliki dan mengilah data dengan baik. Data harus jadi alat manajemen mengambil keputusan.

Prof Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

mpo slot slot gacor harum100 slot gacor slot gacor