Dark/Light Mode

Dampak Karhutla Sudah Lebih Dari Seperempat Abad

Rabu, 14 Oktober 2026 07:40 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Sampai hari ini, kita masih menghadapi masalah kese­hatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berba­gai keluhan dan penyakit paru-­paru serta gangguan pernapasan banyak dikeluhkan warga di daerah terdampak, terlebih karena situasi ini sudah berlangsung lebih dari tiga bulan. Bahkan, dampak karhutla juga telah dilaporkan di beberapa negara tetangga kita di kawasan Asia Tenggara.

Sebenarnya, ini bukan masalah baru bagi kita. Pada 2000, atau 26 tahun yang lalu, saya telah memublikasikan penelitian di jurnal ilmiah internasional Respirology ­dengan judul “Impact of Haze from Forest Fire to Respiratory Health: Indonesian Expe­rience”.

Penelitian tersebut didasarkan pada situasi kebakaran hutan yang meluas pada 1997–1998. Data dikumpulkan dari para dokter spesialis paru di berbagai provinsi terdampak ketika itu serta dari pemerintah daerah setempat. Data tersebut berasal dari Sumatera Utara, Sumatra Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa asap kebakaran hutan secara bermakna berdampak pada peningkatan gangguan pernapasan, penurunan fungsi paru, berbagai keluhan paru, serta dampak terkait lainnya.

Baca juga : Dugaan Kasus Pes Di Rusia

Aspek yang dinilai dalam penelitian ini meliputi ­angka kematian serta kejadian penya­kit asma, bronkitis, dan ­Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Penelitian tersebut juga melaporkan data jumlah pasien rawat jalan dan rawat inap, serta hilangnya hari kerja.

Selain itu, ditampilkan pula data mengenai keluhan para dokter di lapangan yang terpapar asap kebakaran hutan selama 10–12 jam. Keluhan tersebut meliputi batuk, iritasi tenggorokan, sakit kepala, ­iritasi mata, dan keringat dingin.

Dalam jurnal ilmiah tersebut juga disebutkan bahwa kebakaran hutan berskala besar sebenarnya telah terjadi di negara kita sejak sekitar 1982. Kejadian besar berikutnya terjadi pada 1994 dan kembali terjadi pada 1997, yang datanya dilaporkan dalam penelitian tersebut.

Dalam tulisan ilmiah itu, saya juga membahas kegiatan atau program yang perlu dilakukan dalam tiga fase, yaitu sebelum kebakaran hutan (pre-disaster), ketika kebakaran hutan terjadi (disaster), dan setelah kebakaran hutan (post-disaster).

Baca juga : Kesehatan Tempat Pengungsian

Program yang seharusnya dilakukan sebelum kebakaran hutan sebagai langkah ­antisipasi meliputi persiapan program, penyusunan petunjuk kerja, kesiapan fasilitas ke­sehatan, ketersediaan obat dan alat kesehatan paru yang di­perlukan, serta identifikasi daerah evakuasi jika memungkinkan.

Kemudian, ketika kebakaran hutan terjadi, kegiatan yang perlu dilakukan meliputi pembagian masker, penyediaan alat penjernih udara dan obat-obatan, pelayanan kesehatan selama 24 jam, jaminan higiene dan sanitasi lingkungan, pemantauan ketat kualitas udara, surveilans masalah kesehatan, serta penyuluhan kesehatan.

Selanjutnya, program pascabencana kebakaran hutan meliputi penerapan aturan tegas mengenai pembakaran hutan untuk membersihkan lahan, penyediaan cadangan obat dan alat kesehatan (buffer stock), pemantauan kualitas udara, pengembangan sistem deteksi dini dan peringatan (warning), serta pelaksanaan penelitian kesehatan.

Publikasi ilmiah saya pada 2000 ini menunjukkan bahwa meskipun lebih dari seperempat abad telah berlalu, sampai sekarang kita masih menghadapi masalah kesehatan akibat asap kebakaran hutan.

Baca juga : Enam Kandidat Dirjen WHO

Penanganan, kegiatan, dan program yang telah lama kita ketahui perlu dilaksanakan dengan baik demi menjaga derajat kesehatan anak bangsa kita.

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
- Mantan Dirjen Pengen­dalian Penyakit dan Penye­hatan Lingkungan serta Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara.
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024–PERSI,
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.