Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- PTPN Group Tampilkan Produk Oleo Sawit di Forum Teknologi Danantara
- Mantan Dirut PNM Arief Mulyadi Meninggal di Usia 58 Tahun
- Lamine Yamal Cetak Sejarah, Raih Kopa Trophy 3 Tahun Beruntun
- Harry Kane Persembahkan Ballon d’Or untuk Bayern dan Keluarga
- Pelatih Arema Ungkap Kunci Sukses Hajar Dewa United 4-0
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
RM.id Rakyat Merdeka - Hubungan Indonesia dan Rusia memiliki ruang besar untuk tumbuh melalui perjumpaan umat beragama. Di antara ruang itu, Islam dapat menjadi jembatan yang mempertemukan masyarakat, memperluas kerja sama pendidikan, dan membangun kepercayaan. Diplomasi akan lebih berakar apabila hubungan antarpemerintah diikuti persahabatan yang dirasakan oleh rakyat.
Sebagai Ketua Umum PP BAKOMUBIN, saya memandang muballigh mempunyai tanggung jawab untuk merawat ruang perjumpaan tersebut. Dakwah mengajarkan manusia mengenali sesamanya, menghormati martabat kehidupan, dan membawa manfaat. Tanggung jawab itu relevan ketika dunia menghadapi prasangka antarbangsa, ketegangan politik, serta penggunaan identitas agama untuk mempertajam permusuhan.
Al-Qur’an dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 mengajarkan bahwa keberagaman bangsa dan suku merupakan jalan untuk saling mengenal. Semangat ta’aruf memberikan landasan etik bagi diplomasi: memahami sebelum menilai, mendengarkan sebelum menyimpulkan, dan bekerja sama dengan tetap menjaga prinsip.
Islam yang berakar di Rusia
Pemahaman masyarakat Indonesia mengenai Rusia perlu mencakup kehidupan Muslimnya. Islam memiliki akar panjang di wilayah yang kini menjadi bagian Federasi Rusia, antara lain di kawasan Volga dan Kaukasus Utara. Kehadiran Muslim di sana tidak dapat dipahami semata-mata sebagai gejala migrasi baru.
Dalam tulisan di RM.id pada 6 Desember 2025, Wakil Duta Besar Rusia untuk Indonesia Veronika Novoseltseva menyebut jumlah Muslim di Rusia melebihi 20 juta orang dan Islam merupakan agama terbesar kedua. Angka tersebut perlu dipahami sebagai estimasi yang disampaikan pihak Rusia.
Novoseltseva juga menyampaikan angka sekitar 6.900 organisasi keagamaan Islam yang terdaftar, sebagian besar bernaung dalam sekitar 100 organisasi payung. Data yang ia rujuk menunjukkan sekitar 3.800 organisasi di Distrik Federal Volga dan lebih dari 1.300 di Kaukasus Utara. Angka ini menggambarkan jaringan kelembagaan pada saat sumber diterbitkan, bukan pembaruan statistik tahun 2026.
Jaringan itu mencakup badan spiritual Muslim yang berkedudukan di Ufa, Moskow, dan Kazan. Keragamannya perlu dipahami dengan menghormati sejarah, tradisi, dan kewenangan masing-masing lembaga. Kerja sama Indonesia sebaiknya tumbuh melalui komunikasi yang terbuka, dengan mitra yang jelas serta tujuan yang disepakati.
Dialog yang sudah menemukan ruang
Hubungan keislaman Indonesia dan Rusia mempunyai saluran yang nyata. MUI melaporkan bahwa Duta Besar Rusia Sergei Tolchenov menjadi pembicara dalam Pelatihan Diplomasi Islam Wasatiyah pada 26 September 2026. Kehadiran tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai Islam dan hubungan antarbangsa dapat berlangsung melalui forum pendidikan masyarakat.
Baca juga : Konsisten 10 Tahun, Santri of The Year Apresiasi 20 Tokoh dan Pesantren
Pada tingkat multilateral, Federasi Rusia tercatat sebagai pengamat Organisasi Kerja Sama Islam sejak 2005. Status ini memberikan ruang dialog dengan negara-negara anggota OKI, termasuk Indonesia, meskipun status pengamat berbeda dari keanggotaan penuh.
Pertemuan semacam itu akan semakin berarti apabila menghasilkan pekerjaan bersama. Kita memerlukan komunikasi yang berlanjut setelah seminar selesai: pertukaran bahan pengajaran, pengembangan kajian, dan pertemuan mahasiswa yang memungkinkan mereka memahami kehidupan masyarakat secara langsung.
Dalam perjumpaan dan komunikasi saya dengan sejumlah tokoh Muslim Rusia, saya melihat pentingnya menjaga hubungan secara personal sekaligus kelembagaan. Kehangatan merupakan awal yang baik. Agar bertahan, hubungan itu memerlukan tindak lanjut, penanggung jawab, serta program yang manfaatnya dapat dirasakan oleh kedua pihak.
Merawat sejarah dengan ketelitian
Masjid Saint Petersburg menempati tempat khusus dalam ingatan persahabatan Indonesia dan Rusia. Nama Presiden Soekarno kerap dikaitkan dengan perhatian terhadap masjid tersebut. Kisah ini mengandung pesan tentang kepedulian seorang pemimpin Indonesia kepada kehidupan beragama di negeri sahabat.
Namun, penghormatan kepada sejarah menuntut ketelitian. Majelis Spiritual Muslim Rusia mencatat keputusan pengembalian masjid kepada umat pada 12 Desember 1955, sedangkan kunjungan Soekarno yang dibahas dalam catatan itu berlangsung pada 1956. Karena itu, urutan kejadian tersebut tidak mendukung penyederhanaan bahwa masjid baru dikembalikan akibat kunjungan beliau pada 1956.
Kita tetap dapat merawat ingatan mengenai kedekatan Soekarno dengan umat Islam Rusia sambil membedakan dokumentasi, penuturan, dan kesimpulan sebab-akibat. Persahabatan yang besar layak ditulis dengan sumber yang kuat. Ketelitian membuat warisan tersebut lebih terhormat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dari perjumpaan menuju kerja bersama
Saya melihat pendidikan sebagai salah satu bidang yang paling menjanjikan. Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan Islam dapat menjajaki pertukaran dosen, pelatihan bahasa, penerjemahan karya, serta penelitian bersama mengenai kehidupan Muslim dalam masyarakat majemuk.
Baca juga : Potensi Pertanian Lampung Didorong Jadi Penggerak Ketahanan Pangan
Indonesia dapat berbagi pengalaman mengenai hubungan keislaman dan kebangsaan dalam kerangka Pancasila. Mitra Rusia dapat memperkenalkan sejarah dan pengalaman komunitas Muslimnya. Proses belajar harus berlangsung dua arah, dengan kesediaan membahas keberhasilan maupun persoalan yang masih perlu diselesaikan.
Bidang berikutnya adalah pengembangan kapasitas muballigh. Kemampuan berdakwah dalam pergaulan internasional membutuhkan pengetahuan sosial, kepekaan lintas budaya, dan kecakapan berbahasa. Muballigh perlu mampu menerangkan ajaran dengan baik sekaligus memahami konteks masyarakat yang diajak berdialog.
Dalam pandangan saya, PP BAKOMUBIN dapat menjajaki forum pembelajaran bersama dengan lembaga Muslim Rusia. Bentuk awalnya dapat berupa diskusi daring berkala, pertukaran naskah dakwah, dan pelatihan komunikasi lintas budaya. Ini merupakan usulan arah kerja, yang pelaksanaannya memerlukan kesepakatan serta kesiapan mitra.
Ekonomi halal juga layak dijajaki. Peluangnya perlu diterjemahkan melalui pemahaman standar, ketentuan sertifikasi, kebutuhan konsumen, logistik, dan peraturan perdagangan yang berlaku. Ulama dapat membangun kepercayaan dan memberi penjelasan keagamaan, sementara pembahasan teknis dilakukan bersama lembaga berwenang serta pelaku usaha.
Pertemuan generasi muda sama pentingnya. Persahabatan dapat dibangun melalui penerjemahan buku, kajian sejarah, kegiatan kebudayaan, serta kerja sosial. Anak muda yang saling mengenal mempunyai bekal lebih baik untuk menolak stereotip daripada mereka yang hanya mengenal bangsa lain melalui potongan informasi di media sosial.
Menjaga prinsip dalam persahabatan
Deklarasi Kemitraan Strategis Indonesia–Rusia yang disepakati pada 19 Juni 2025 menyediakan konteks bagi penguatan hubungan kedua negara. Diplomasi keagamaan dapat menyumbangkan kedalaman sosial bagi hubungan tersebut dengan menghubungkan lembaga, keluarga, mahasiswa, dan komunitas.
Dalam pelaksanaannya, kepentingan nasional dan politik luar negeri bebas aktif tetap menjadi pedoman. Persahabatan dengan Rusia dapat dikembangkan bersama hubungan baik Indonesia dengan bangsa-bangsa lain. Kerja sama keagamaan harus memelihara kebebasan penilaian, penghormatan terhadap kedaulatan, dan perhatian kepada keselamatan warga sipil.
Baca juga : IDEC 2027 Digelar di Jakarta, Bidik 7.000 Pengunjung
Islam sebagai jembatan diplomasi juga menuntut konsistensi moral. Penolakan terhadap Islamofobia harus berjalan bersama penghormatan kepada pemeluk agama lain. Pembelaan terhadap martabat manusia harus berlaku melampaui perbedaan kewarganegaraan dan kedekatan politik.
Saya percaya hubungan Indonesia dan Rusia akan semakin kuat apabila masyarakatnya saling memahami. Di sinilah muballigh, ulama, dan lembaga pendidikan mempunyai pekerjaan yang berharga: membuka percakapan, memelihara kepercayaan, dan membantu lahirnya kerja sama yang berguna.
Jembatan itu perlu kita rawat dengan ilmu, kejujuran, serta kesediaan mendengarkan. Ketika Islam dihadirkan sebagai rahmat bagi kehidupan, diplomasi memperoleh tenaga moral untuk mendekatkan bangsa-bangsa dan memperluas ikhtiar perdamaian.
Prof. Ali Mochtar Ngabalin
Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dan Ketua Umum Muballigh Indonesia (PP BAKOMUBIN)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya