Dark/Light Mode

Terapis Olahraga Kian Krusial, PTOI Dorong Standarisasi Dan Uji Kompetensi

Minggu, 30 November 2025 14:33 WIB
Persatuan Terapis Olahraga Indonesia (PTOI) Jakarta. Foto: PTOI
Persatuan Terapis Olahraga Indonesia (PTOI) Jakarta. Foto: PTOI

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum (Ketum) Persatuan Terapis Olahraga Indonesia (PTOI) Jakarta, Firmansyah mengungkapkan, profesi terapis olahraga kini semakin diakui sebagai elemen penting dalam pembinaan prestasi atlet di Indonesia.

Baginya, profesi ini tidak lagi dapat disamakan dengan jasa pijat atau massage tradisional, melainkan bidang disiplin keilmuan berbasis olahraga dengan peran vital menjaga performa atlet.

Bahkan, menjadi bagian dari proses pembinaan atlet mulai dari latihan hingga ke arena kompetisi.

“Terapi olahraga merupakan bagian dari satu kesatuan proses menuju prestasi. Dari mulai latihan sampai kompetisi, kami menjadi bagian terdekat dalam proses tersebut,” ujar Firmansyah, dalam keterangannya, di Jakarta, Minggu (30/11/2025).

Menurut Firmansyah, salah satu fokus utama terapi olahraga adalah melakukan pemulihan (recovery) setelah aktivitas fisik intensif.

Atlet, terutama yang berlatih dengan intensitas tinggi, membutuhkan penanganan berbasis pendekatan ilmiah agar performanya dapat bertahan dan berkembang.

Baca juga : Kemenag Perkuat Wakaf Produktif, Dorong Kemandirian Pangan Umat

“Untuk mencapai performa yang maksimal dan tetap terlindungi, diperlukan penanganan penting terkait faal dan anatominya, terutama yang berhubungan dengan cedera,” jelasnya.

Diungkapkannya, cedera olahraga memiliki karakteristik yang berbeda dari cedera akibat kecelakaan sehari-hari. Sehingga, pemulihannya tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

Selanjutnya, Firmansyah menilai terapis olahraga berperan menjaga kondisi tubuh atlet sebagai aset utama yang harus dilindungi.

Melalui teknik-teknik terapi berbasis ilmu faal, anatomi, serta pemahaman mekanisme gerak, mereka membantu meminimalkan risiko cedera sekaligus menjaga stabilitas performa sebelum atlet kembali bertanding.

Firmansyah menegaskan bahwa terapi olahraga tidak sama dengan massage tradisional yang umum dikenal masyarakat. Perbedaan paling mendasar terletak pada latar belakang keilmuan.

“Terapis olahraga minimal memiliki pendidikan sarjana olahraga, memahami mekanisme tubuh, teknik olahraga, dan tahu bagaimana menangani cedera akibat kesalahan gerak,” katanya.

Baca juga : Fleksibilitas Kilang Jadi Kunci, DPR Dorong Kepastian Arah Energi Nasional

Dengan dasar keilmuan tersebut, terapis olahraga mampu menganalisis penyebab cedera secara spesifik dan memberikan intervensi yang terukur. Inilah yang membedakan mereka dari pemijat tradisional yang tidak memiliki kualifikasi akademik serta pemahaman anatomi yang mendalam.

PTOI mencatat, bahwa minat terhadap profesi terapi olahraga meningkat, terutama dari kalangan mahasiswa dan praktisi olahraga yang tidak mengambil jalur kepelatihan.

Menurut Firmansyah, profesi ini memiliki prospek yang menjanjikan mengingat setiap cabang olahraga membutuhkan tenaga ahli untuk mendukung performa atlet. Lebih jauh, terapi olahraga juga tidak terbatas pada dunia atlet.

“Cedera olahraga bisa dialami siapa saja, bukan hanya atlet. Masyarakat umum yang aktif berolahraga juga dapat memanfaatkan layanan ini,” ujarnya.

Hal ini menunjukkan bahwa terapi olahraga memiliki fungsi yang lebih luas sebagai layanan kesehatan berbasis aktivitas fisik, sekaligus membuka peluang besar bagi tenaga profesional di bidang ini.

Nah, untuk memastikan kualitas layanan, PTOI tengah menyiapkan program sertifikasi dan uji kompetensi berjenjang bagi terapis olahraga. Proses penilaian akan melibatkan praktisi senior yang telah berpengalaman dalam dunia terapi olahraga.

Baca juga : Pertamina Drilling Dorong Talenta Masa Depan di ICCN Connects 2025

“Uji kompetensi dilakukan secara berlevel, mulai dari tingkat dasar hingga lanjutan. Tujuannya agar profesi ini lebih profesional dan memiliki standar yang jelas,” kata Firmansyah.

Adanya sertifikasi resmi diharapkan dapat memperkuat legitimasi profesi terapis olahraga dan memberikan kepastian kompetensi bagi lembaga pembinaan olahraga, klub, maupun pengguna layanan dari masyarakat umum.

Harapannya, dengan semakin ketatnya persaingan olahraga di tingkat nasional maupun internasional, peran terapis olahraga dinilai akan semakin strategis. Mereka tidak hanya menjaga tubuh atlet tetap dalam kondisi optimal, tetapi juga berperan dalam mencegah cedera jangka panjang yang kerap menghambat karier atlet.

PTOI mendorong agar profesi ini lebih dikenal dan diakui secara formal, mengingat kualitas pemulihan dan kesehatan atlet sangat menentukan perjalanan prestasi mereka. “Kami ada untuk merawat para pelaku olahraga, supaya bisa mendapatkan prestasi maksimal,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.