Dark/Light Mode

Beralih ke Vape, Ini Cara Perokok Dewasa Kurangi Risiko

Selasa, 7 April 2026 19:50 WIB
Beralih ke Vape, Ini Cara Perokok Dewasa Kurangi Risiko

RM.id  Rakyat Merdeka - Kesadaran akan kesehatan kini semakin berkembang, termasuk di kalangan perokok dewasa yang mulai mencari alternatif untuk mengurangi dampak negatif dari kebiasaan merokok, seperti rokok elektronik atau yang sering disebut sebagai vape, produk tembakau yang dipanaskan dan kantong nikotin.

Salah satu pilihan yang kini banyak digunakan adalah rokok elektronik, yang dinilai memiliki profil risiko lebih rendah dibandingkan rokok.

Ketua Gerakan Bebas TAR & Asap Rokok, Garindra Kartasasmita, menjelaskan perbedaan antara rokok elektronik dan rokok adalah dari proses penggunaannya.

“Perbedaan paling signifikan adalah proses. Rokok itu dibakar, sedangkan rokok elektronik melalui sistem pemanasan. Pembakaran itulah yang membuat risikonya sangat berbeda,” ujar Garindra dalam diskusi publik bertajuk Ngobrol Santai Bareng GEBRAK: Kenal Lebih Dekat Produk Tembakau Alternatif & Cara Pakainya Secara Bertanggung Jawab di Tangerang Selatan, Banten, belum lama ini, dikutip Selasa (7/4/2026).

Melalui sistem pemanasan, rokok elektronik memanaskan cairan yang mengandung ekstak nikotin menjadi uap. Rokok elektronik menyampaikan nikotin dengan profil risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok.

Baca juga : Peraih 3 Emas APG, Siti Alfiah Prioritaskan Bonus Buat Orang Tua

Menurut Garindra, pemahaman mengenai perbedaan tersebut penting agar perokok dewasa dapat mengambil keputusan yang lebih sadar.

Meski demikian, ia menekankan bahwa penggunaan produk tembakau alternatif tetap memikul tanggung jawab penggunanya.

"Sebagai pengguna produk tembakau alternatif, kita harus tahu tempat dan waktu. Jangan sampai uap itu mengganggu orang lain. Minimal kalau ngehembusin uapnya itu ke atas, dan kalau di tempat sempit atau dekat orang lain, sebaiknya minta izin," tambah Garindra.

Sejumlah kajian memperkuat perbedaan profil risiko pada rokok elektronik ini.

Dari dalam negeri, penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang berjudul Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO's Nine Toxicants dan Evaluation and meta analysis of HTP Testing Method in Harm Reduction, menunjukkan bahwa produk tembakau alternatif memiliki profil toksikan lebih rendah dibandingkan rokok karena tidak melalui proses pembakaran, dengan kadar toksikan yang lebih rendah berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Baca juga : Perdana, Bank Jakarta Buka Posko Mudik di KM 429 Semarang

Hal ini sejalan dengan kajian ilmiah internasional yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet bertajuk “Gejala pernafasan yang penting secara fungsional dan penggunaan rokok yang berkelanjutan versus peralihan rokok elektrik: penilaian populasi tembakau dan gelombang studi kesehatan 2-6”.

Studi kohort observasional yang melibatkan lebih dari 5.600 perokok dewasa di Amerika Serikat ini melaporkan bahwa peralihan sepenuhnya dari rokok konvensional (yang membakar) ke penggunaan rokok elektronik atau vape selama 30 hari, menunjukkan peningkatan jangka pendek pada fungsi pernapasan yang fungsional, bahkan menunjukkan hasil serupa dengan efek yang diamati pada individu yang berhenti merokok sepenuhnya.

Mamet,yang merupakan mantan perokok dan anggota komunitas Matic Dizzy Person, menyampaikan pengalamannya beralih dari kebiasaan merokok ke rokok elektronik sejak 2019 lalu. Ia merasakan perubahan yang signifikan.

“Pertama soal penampilan, gigi saya sekarang tidak kuning lagi seperti dulu saat masih merokok. Bau badan dan baju juga jadi lebih bersih,” ungkap Mamet.

Bagi Mamet, alasan beralih juga berkaitan dengan kenyamanan orang lain di sekitarnya hingga dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Baca juga : Bea Cukai Jakarta Periksa Gerai Jam Tangan Mewah, Pastikan Kepatuhan Impor

Ia menjelaskan bahwa dirinya menggunakan rokok elektronik agar lebih aman dan nyaman, sehingga tidak ingin udara di rumah tercemar asap rokok. Meski demikian, proses transisi tidak selalu mudah.

"Paling susah itu biasanya setelah makan atau saat sedang pusing. Tapi melewatkan di vape banyak varian rasa, jadi bisa membantu sebagai pengganti," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya sikap bertanggung jawab sebagai pengguna dengan memahami tempat dan tidak memaksakan penggunaan di area terlarang, karena hal tersebut dapat berdampak pada pengguna lain, sekaligus mengingatkan agar pengguna menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah cartridge atau botol cairan sembarangan.

Di tengah maraknya informasi di ruang digital, Mamet juga mengingatkan agar masyarakat lebih bijak dalam menerima informasi.

“Jangan telan informasi mentah-mentah atau sekedar percaya dari sumber yang belum tervalidasi,” tegasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.