Dark/Light Mode

Dukung Ruang Hijau Terbuka, KEHATI Dorong Data Keanekaragaman Hayati

Senin, 17 Agustus 2026 19:14 WIB
Foto: Dok. Yayasan Kehati
Foto: Dok. Yayasan Kehati

RM.id  Rakyat Merdeka - Yayasan KEHATI mendorong agar data keanekaragaman hayati menjadi bagian penting dari sistem perencanaan dan pengambilan kebijakan di setiap pemerintah daerah, termasuk pemerintah kota.

Data biodiversitas tidak boleh berhenti sebagai informasi ilmiah, tetapi harus menjadi dasar dalam menentukan tata ruang, mengelola ruang terbuka hijau dan biru, merancang pembangunan, hingga mengalokasikan anggaran lingkungan.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Inventarisasi Data Keanekaragaman Hayati (Kehati) di Kota Tangerang yang dilaksanakan pada 12–13 Agustus 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Urban Biodiversity (Urbio) Yayasan KEHATI yang dikembangkan untuk mendorong terciptanya ruang terbuka hijau dan biru yang tidak hanya memenuhi target luasan, tetapi juga memiliki kualitas ekologis tinggi, mudah diakses, dan inklusif bagi masyarakat.

Inventarisasi di Kota Tangerang dimulai dari ruang terbuka hijau dan biru, termasuk taman kota, dengan melakukan eksplorasi dan identifikasi flora dan fauna secara partisipatif.

Adapun lokasi yang menjadi bagian dari kegiatan ini antara lain Taman Gajah, Taman Cikokol, Taman Potret, dan Taman Bambu.

“Kita tidak bisa mengelola sesuatu yang tidak kita ketahui. Pemerintah daerah perlu memiliki basis data keanekaragaman hayati agar setiap keputusan pembangunan dapat mempertimbangkan apa yang ada, apa yang penting untuk dipertahankan, mana spesies yang lokal dan asing/invasif, hingga apa yang mulai terancam hilang. Data kehati harus dipandang sebagai aset daerah, dikerjakan secara partisipatif, bukan sekadar data tambahan di sektor lingkungan,” ujar Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI Christian Natalie dalam keterangannya, Senin (17/8/2026). 

Baca juga : ESG Award 2026 By KEHATI, Standar Baru Daya Saing Bisnis Indonesia

Menurut Christian, selama ini pembicaraan mengenai pembangunan kota hijau masih sering berfokus pada luas ruang terbuka hijau. Padahal, luas tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas ekologis.

Taman yang luas belum tentu memiliki keragaman spesies lokal, menyediakan habitat, mendukung rantai makanan, atau memberikan fungsi ekologis yang optimal. Karena itu, target ruang terbuka hijau dan biru perlu dilengkapi dengan informasi mengenai kualitas ekologis dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya.

Hal tersebut semakin relevan dengan Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045, yang menempatkan ruang terbuka hijau dan biru sebagai bagian dari target nasional pembangunan keanekaragaman hayati.

Salah satu indikatornya adalah persentase ruang terbuka hijau dan biru yang dapat diakses publik di kawasan perkotaan, dengan target mencapai 30 persen dari total luas wilayah perkotaan pada 2045.

Christian mengatakan, Yayasan KEHATI menilai pemerintah daerah memiliki posisi strategis karena memiliki kewenangan dalam tata ruang, pengelolaan ruang terbuka hijau, perizinan pembangunan, serta penganggaran daerah.

Karena itu, data biodiversitas semestinya tidak berdiri sendiri, melainkan diintegrasikan ke dalam dokumen dan proses perencanaan pembangunan daerah, seperti RPJMD, RTRW, maupun rencana pengelolaan ruang terbuka hijau-biru.

"Setiap pemerintah daerah seharusnya memiliki Profil dan Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Daerah yang diperbarui secara berkala,” kata Christian.

Baca juga : Partai Gerakan Rakyat Gelar Forum International Tiger Day

Christian menambahkan, ketersediaan data juga penting untuk mendeteksi kehilangan biodiversitas sejak dini. Banyak perubahan ekologis berlangsung perlahan dan tidak terlihat sampai dampaknya menjadi besar.

Tanpa data awal atau baseline, perubahan tersebut sulit diukur dan pemerintah tidak memiliki referensi yang kuat untuk menentukan intervensi yang tepat. Lebih jauh, data yang baik dapat membantu pemerintah daerah menghindari program lingkungan yang bersifat seremonial dan tidak tepat sasaran.

Pendekatan ini dinilai penting karena keterbatasan data kehati tidak mungkin diselesaikan hanya melalui inventarisasi sesaat.

"Diperlukan proses yang berlangsung kolektif, bertahap, dan berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, komunitas, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

“Ketika warga ikut mengidentifikasi burung, pohon, kupu-kupu atau spesies lain di daerah tempat tinggalnya, mereka bukan hanya membantu mengisi basis data, tetapi mulai melihat bahwa ruang terbuka di sekitar mereka adalah habitat yang memiliki nilai. Inilah yang kami harapkan menjadi budaya baru dalam pengelolaan kota,” ujar Christian.

Dari proses inventarisasi tersebut, Yayasan KEHATI bersama para pihak diharapkan dapat membangun dataset biodiversitas perkotaan, peta hotspot biodiversitas, laporan inventarisasi, serta rekomendasi kebijakan dan program.

Profil ini diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen penting bagi pemerintah daerah dalam merencanakan dan mengelola pembangunan kota yang lebih berkelanjutan.

Baca juga : Bappenas Luncurkan Data Kekayaan Hayati 4 Wilayah

Pemerintah Daerah Perlu Mengubah Cara Melihat Biodiversitas Yayasan KEHATI menilai sudah waktunya pemerintah daerah mengubah cara pandang terhadap keanekaragaman hayati. Biodiversitas bukan hanya urusan kawasan konservasi yang jauh dari kota.

Taman kota, jalur hijau, sungai, danau, kebun, hingga ruang-ruang kecil yang menjadi habitat satwa merupakan bagian dari ekosistem perkotaan yang perlu dikenali dan dikelola. Kota juga merupakan ekosistem.

Di tengah urbanisasi yang semakin cepat, kualitas keanekaragaman hayati memiliki kaitan dengan ketahanan kota terhadap perubahan iklim, kualitas lingkungan, serta kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

"KEHATI mendorong agar setiap pemerintah kabupaten dan kota di Indonesia memiliki basis data keanekaragaman hayati daerah yang terintegrasi, terbarui, terbuka untuk kepentingan publik, dan digunakan dalam proses pengambilan keputusan pembangunan," ujar Christian.

Bagi Yayasan KEHATI, inventarisasi di Kota Tangerang merupakan langkah awal untuk membangun model pengelolaan urban biodiversity yang dapat dikembangkan di kota-kota lain di Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.