Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Childfree: Antara kebebasan, Stigma Sosial, dan Pandangan Agama
Selasa, 8 September 2026 13:26 WIB
Di era modern, memilih kehidupan tanpa anak (childfree) dianggap sebagai simbol kebebasan yang kerapkali banyak terjadi terutama pada generasi muda saat ini. Jika pandangan umum, memiliki anak dianggap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan keluarga. Namun, sebagian kalangan terutama generasi muda, menganggap bahwa Kehidupan keluarga dengan (memiliki) anak, menjadi beban dan musti bertanggung jawab.
Pilihan ini menunjukkan pandangan tentang kebahagiaan dari sudut generasi childfree. Kebahagiaan didefinisikan bukan seperti pandangan pada umumnya, keluarga bahagia itu terdiri dari ayah, ibu dan anak. Tetapi justru sebaliknya, generasi childfree lebih memilih faktor kebebasan individu, pengembangan karier, dan kualitas hidup sebagai pertimbangan utama dalam menentukan kebahagiaan.
Generasi yang lebih memilih childfree ini terus meningkat. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang terbit tahun 2023 berjudul Menelusuri Jejak Childfree di Indonesia yang menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022, terdapat sekitar 71 ribu perempuan berusia 15 hingga 49 tahun menyatakan tidak ingin memiliki anak.
Di satu sisi, Indonesia telah memasuki fase aging population. Proporsi penduduk lansia kini tercatat berada pada 11,97 persen, melebihi ambang aging population. Keputusan childfree boleh jadi berpengaruh terhadap risiko aging population di masa mendatang.
Sementara itu, kehidupan childfree di luar negeri, berdasarkan data dari Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan atau OECD tahun 2020, Jepang memiliki kategori cukup tinggi di antara negara-negara maju. Perempuan Jepang yang berusia 50 tahun tidak memiliki anak sebanyak 27 persen. Sementara, di bawahnya ada Finlandia dengan angka mencapai 20,7 persen. Sedang Austria dan Spanyol, masing-masing menempati peringkat ketiga dan keempat (fimela.com).
Baca juga : Adinia Wirasti, Date Night Tanpa Ponsel
Sedangkan menurut Pew Research Center mengemukakan bahwa kenaikan prosentase childfree di Amerika Serikat pada usia 19-49 tahun sebanyak 37 persen tahun 2018 menjadi 44 persen pada tahun 2021. Kemungkinan trend keluarga memilih childfree memiliki kecenderungan naik terutama di wilayah perkotaan.
Mengapa Childfree?
Laporan Demographic Futures Survey 2026 dari United Nations Population Fund (UNFPA), berskala global yang melibatkan lebih dari 108.000 responden dewasa muda berusia 18-39 tahun di 73 negara, termasuk Indonesia, memperlihatkan fakta yang mengejutkan.
Impian keluarga berbenturan dengan persoalan finansial. Sebanyak 88 persen menyebut keamanan finansial sebagai prasyarat wajib sebelum punya anak, disusul pekerjaan yang stabil (87 persen), serta kesiapan emosional (85 persen). Sebanyak 57 persen responden menyoroti masalah ekonomi dan langkanya perumahan terjangkau sebagai alasan utama mereka menunda untuk tinggal satu atap bersama pasangan (Kompas.com).
Ada beberapa alasan mengapa seseorang lebih memilih childfree.
Baca juga : Fenomena Childfree Makin Tumbuh Subur
Pertama, faktor personal. Alasan ini bisa berasal dari pengalaman masa lalu seseorang. Misalnya pengalaman dengan situasi dan kondisi keluarga yang dianggap tidak ideal, sehingga membentuk pertimbangan pasangan keluarga untuk memutuskan childfree.
Kedua, faktor psikologis. Faktor ini biasanya berasal dari pengalaman traumatis masa lalu. Seperti pengalaman buruk dalam rumah keluarga atau juga ketakutan ketika khawatir mengalami perubahan setelah mempunyai anak.
Ketiga, faktor ekonomi. Faktor ini berkorelasi dengan bagaimana keluarga memenuhi kebutuhan hidup di tengah kondisi ekonomi yang tidak mapan dan tidak stabil. Keputusan tidak memiliki anak berdasarkan logika biaya yang harus dikeluarkan untuk mengasuh, merawat hingga biaya pendidikan anak yang tidak sedikit dikeluarkannya.
Keempat, faktor filosofis. Alasan ini berdasarkan prinsip dan pandangan hidup yang diyakini pasangan keluarga. Mereka menginginkan kehidupan yang bebas tanpa disibukkan dengan beban dan tanggung jawab kepada anak.
Kelima, alasan lingkungan. Alasan ini karena faktor kepadatan penduduk yang semakin meningkat. Oleh karena itu, memutuskan tidak memiliki anak dianggap sebagai bagian solusi dan bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan sebagai upaya untuk mengurangi tekanan pada lingkungan dan sumberdaya yang terbatas.
Baca juga : Pamer Jadi Pengangguran Di Media Sosial Setiap Hari
Pada akhirnya keputusan untuk memiliih childfree karena berbagai pertimbangan yang dianggap menjadi bagian dari keputusan personal dalam memaknai kehidupan di era modern. Mereka melihat kehidupan dengan pandangan berbeda yang dianggap lebih nyaman, tenang dan bebas sesuai dengan tujuan hidup mereka, tanpa harus terikat tanggung jawab dalam mengasuh anak.
Namun demikian, pilihan childfree bukan berarti tanpa ada konsekuensi sosial dalam kehidupan masyarakat. Di Indonesia memilik anak menjadi bagian penting dari konsekuensi sebuah pernikahan, pasangan keluarga yang memilih childfree bisa jadi mendapatkan tekanan sosial, bahkan stigma negatif dari masyarakat.
Selain itu, childfree juga memiliki tantangan bahwa pilihan punya anak merupakan bagian dari melanjutkan keturunan. Pertanyaan seperti “kapan punya anak?’ atau sebuah keluarga belum lengkap tanpa memilliki anak menjadi konstruksi budaya masyarakat yang tidak bis akita hindari dalam kehidupan sosial.
Dalam pandangan agama misalnya, pernikahan tidak hanya sekadar hubungan antara dua individu saja, tetapi juga untuk membangun keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Memiliki anak bagian dari keberlanjutan secara biologis, tetapi juga amanah dari Tuhan yang musti dirawat, dididik, dan dibesarkan dengan penuh tanggung jawab baik di dunia maupun akherat. Oleh karena itu, kehadiran anak dalam pandangan agama adalah anugerah, titipan, perhiasan dunia (zinatun), penyejuk hati (qurrota a’yun), dan ujian.
Dengan demikian, memilih childfree tidak hanya persoalan kebebasan saja, tetapi juga soal stigma sosial dan pandangan agama yang akan melekat dalam kehidupan sosial. Tuntutan tersebut menempatkan individu harus berhadapan dengan ekspektasi keluarga, tekanan sosial dan tuntutan norma agama di tengah kehidupan masyarakat.
MUHAMAD ROSIT
Dosen Komunikasi Politik FIKOM Universitas Pancasila
Dosen Komunikasi Politik FIKOM Universitas Pancasila
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya