Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Seolah-olah terdapat dua kutub yang berbeda ketika kita membicarakan epistemologi sains dan epistemologi agama. Dalam mengungkap kebenaran, epistemologi sains berangkat dari keraguan (skeptisisme), lalu mengumpulkan fakta dan data yang berkaitan dengan ontologi objek yang diteliti.
Fakta, data, dan postulat yang telah dihimpun kemudian dianalisis, diverifikasi, dan diklasifikasikan. Selanjutnya disusun asumsi-asumsi yang berkaitan dengan hipotesis yang telah ditetapkan sebelumnya.
Jika hipotesis tersebut sesuai dengan hasil pembuktian, maka biasanya dilanjutkan dengan proses pengecekan dan pengecekan ulang (check and recheck) hingga benar-benar tidak terdapat jarak atau ketidaksesuaian antara asumsi dan hasil pembuktian.
Jika kesimpulan telah matang, langkah berikutnya adalah peneliti mendeklarasikan atau memublikasikan temuan tersebut melalui media atau jurnal ilmiah untuk memperoleh umpan balik dari kalangan ilmuwan—apakah disetujui atau dibantah.
Baca juga : Epistemologi Khidir dan Nabi Musa
Apabila publikasi tersebut tidak mendapatkan sanggahan, bahkan memperoleh pengakuan dan penguatan, maka asumsi tersebut dapat berkembang menjadi sebuah teori kebenaran. Selama belum ada bantahan yang valid, teori tersebut akan tetap berlaku sebagai kebenaran ilmiah.
Namun perlu diingat bahwa kebenaran ilmiah bersifat akumulatif, yakni dibangun dari berbagai sub-sistem kebenaran yang telah ditemukan sebelumnya oleh para peneliti lain. Jika di kemudian hari terdapat kelemahan pada salah satu sub-sistem tersebut, atau ditemukan kekeliruan dalam analisis yang menopang bangunan teori, maka kredibilitas teori tersebut dapat runtuh. Dengan demikian, kebenaran ilmiah pada akhirnya bersifat relatif.
Sebagai contoh, terdapat asumsi bahwa setiap benda yang dipanaskan akan memuai. Sebuah baut besi dibuka, kemudian dipanaskan, lalu dipasang kembali ke tempat semula.
Ternyata baut tersebut tidak dapat masuk karena ukurannya telah membesar. Percobaan serupa dilakukan pada benda lain, dan hasilnya menunjukkan pola yang sama. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa benda yang dipanaskan akan mengembang merupakan kebenaran dalam sains.
Baca juga : Meninjau Epistemologi Keilmuan
Sebaliknya, epistemologi agama berangkat dari keyakinan yang kokoh. Dari keyakinan tersebut, dikumpulkan bahan-bahan dan postulat untuk menguatkan atau membuktikannya.
Jika bahan-bahan tersebut selaras dengan keyakinan yang diajarkan agama, maka akan tercapai kepuasan serta kelegaan spiritual dan intelektual. Ujian, pengecekan, dan pengecekan ulang juga dilakukan, bukan untuk menggugurkan keyakinan, melainkan untuk memperkuatnya—dari yang semula ‘ilm al-yaqin menjadi ‘ayn al-yaqin, dan pada akhirnya mencapai haqq al-yaqin.
Sebagai contoh, agama menyatakan adanya Tuhan. Dari pernyataan tersebut, dilakukan berbagai analisis terhadap bukti-bukti keberadaan Tuhan. Setelah melalui beragam pembuktian, diperoleh kesimpulan bahwa Tuhan memang benar-benar ada. Dengan demikian, keyakinan tersebut semakin menguatkan penganutnya terhadap kebenaran agama.
Pertanyaan kemudian muncul: apakah konsep kebenaran sains selalu seirama dengan konsep kebenaran agama? Ataukah sebaliknya, konsep kebenaran agama selalu selaras dengan konsep kebenaran sains? Pada masa positivisme, segala sesuatu diukur dengan epistemologi logika.
Baca juga : Alam Mitsal Dambaan Pencari Tuhan
Akibatnya, sejumlah postulat keagamaan dianggap tidak sejalan dengan teori ilmiah, sehingga sebagian kalangan positivis menolak agama.
Sebaliknya, dalam sejarah juga pernah terjadi penolakan terhadap sains, bahkan hingga pada tindakan ekstrem seperti penganiayaan terhadap ilmuwan, karena temuan mereka dianggap bertentangan dengan ajaran agama atau dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap Tuhan.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Kamis, 2 April 2026 dengan judul "Kajian Teosofi (13) Antara Epistemologi Sains dan Agama"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.