Dark/Light Mode

Anak Sulit Memahami Instruksi? Kenali Perilaku dan Emosinya

Kamis, 29 Oktober 2026 19:17 WIB
Ilustrasi: Dok. Atelier of Minds
Ilustrasi: Dok. Atelier of Minds

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketika anak sulit mengikuti instruksi, orang tua kerap menganggap anak tidak mendengarkan atau sulit diatur. Padahal, kemampuan memahami dan merespons instruksi melibatkan berbagai aspek perkembangan, mulai dari bahasa, perhatian, dan regulasi emosi hingga pemrosesan sensorik.

Melalui edukasi mengenai peran psikolog dan terapis okupasi (occupational therapist), Atelier of Minds, student care dan enrichment center inklusif di Jakarta Selatan, mengajak orang tua memahami bahwa kesulitan anak mengikuti instruksi dapat memiliki berbagai penyebab.

Memahami kebutuhan anak dari sudut pandang yang tepat juga dapat membantu orang tua menentukan bentuk dukungan yang sesuai.

Psikolog Atelier of Minds Erna Yulianti, Spsi, M.Psi menjelaskan, bahwa psikolog dapat membantu memahami aspek perkembangan, perilaku, emosi, perhatian, serta kemampuan anak dalam memproses dan merespons instruksi.

Sementara itu, Occupational Therapist Atelier of Minds, Dwi Ayu Nur Komariyah, M.Sc.OT menambahkan, bagaimana pemrosesan sensorik dan kemampuan anak berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari juga dapat memengaruhi respons mereka terhadap instruksi.

"Ketika anak sulit mengikuti instruksi, orang tua kerap menganggap anak tidak mendengarkan atau sulit diatur. Padahal, kemampuan memahami dan merespons instruksi melibatkan berbagai aspek perkembangan, mulai dari bahasa, perhatian, dan regulasi emosi hingga pemrosesan sensorik," kata Dwi Ayu dalam keterangannya, Kamis (29/10/2026).

Baca juga : Anak Aktif Belum Tentu ADHD, Atelier of Minds Ajak Orang Tua Kenali Gejalanya

Ia menambahkan, melalui edukasi mengenai peran psikolog dan terapis okupasi (Occupational Therapist), orang tua mulai memahami bahwa kesulitan anak mengikuti instruksi dapat memiliki berbagai penyebab.

"Memahami kebutuhan anak dari sudut pandang yang tepat juga dapat membantu orang tua menentukan bentuk dukungan yang sesuai," kata Dwi Ayu.

Sementara itu Erna menjelaskan, bahwa psikolog dapat membantu memahami aspek perkembangan, perilaku, emosi, perhatian, serta kemampuan anak dalam memproses dan merespons instruksi.

Dwi Ayu menambahkan, bagaimana pemrosesan sensorik dan kemampuan anak berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari juga dapat memengaruhi respons mereka terhadap instruksi.

"Kemampuan anak dalam memahami dan mengikuti perintah berkembang secara bertahap seiring bertambahnya usia," katanya.

Selain itu, kepatuhan anak terhadap instruksi juga bergantung pada empat aspek utama, yaitu bahasa reseptif (kemampuan memahami kata), perhatian (attention), memori kerja (working memory) serta regulasi perilaku.

Baca juga : 5 Tanda Lingkungan Belajar yang Utamakan Inklusivitas

Secara umum, bayi usia 9–12 bulan mulai merespons nama dan memahami kata sederhana. Pada usia 12–18 bulan, anak mulai mengikuti instruksi sederhana dengan bantuan gestur, kemudian berkembang menjadi instruksi tanpa gestur pada usia 18–24 bulan.

Dwi Ayu menambahkan, memasuki usia 2–3 tahun, anak mulai memahami instruksi dua langkah, dan pada usia 3–4 tahun mulai mampu mengikuti instruksi tiga langkah serta arahan yang lebih kompleks. Namun, perkembangan setiap anak dapat berbeda.

“Ketika anak belum dapat mengikuti instruksi, kita perlu melihat apakah arahan yang diberikan sudah sesuai dengan kemampuannya, apakah anak memahami kata-kata yang digunakan, dan apakah ia siap memproses informasi tersebut,” kata Erna.

Dari perspektif terapi okupasi, respons anak terhadap instruksi juga dapat dipengaruhi oleh pemrosesan sensorik dan kondisi lingkungan.

Ketika terdistraksi oleh suara, gerakan, atau rangsangan di sekitarnya, anak mungkin kesulitan memusatkan perhatian pada pesan yang disampaikan.

Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi?

Perkembangan, tetapi perlu dievaluasi oleh tenaga profesional jika terus berulang atau mengganggu aktivitas sehari-hari.

Baca juga : Gandeng Agape Psychology, Atelier of Minds Perkuat Layanan Inklusif

“Orang tua tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami gangguan perkembangan karena sulit mengikuti instruksi. Namun, jika kesulitan terus berulang atau anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya dikuasai, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga profesional agar anak mendapatkan dukungan yang sesuai,” kata Erna.

Erna berharap edukasi ini dapat membantu orang tua memahami bahwa perilaku anak perlu dilihat dalam konteks perkembangan dan kesehariannya.

"Dengan mengenali kebutuhan anak lebih awal dan mencari dukungan yang tepat ketika diperlukan, orang tua dapat membantu anak mengembangkan kemampuan, kemandirian, dan kepercayaan diri," ujar Erna.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.