Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Membaca Visi Rano Karno: Sinema sebagai Infrastruktur Kota Global
Rabu, 13 Mei 2026 15:19 WIB
Kota-kota modern dibangun oleh semen dan baja. Tetapi ia hidup oleh narasi, imajinasi, dan impian kolektif. Jika yang pertama membangun gedung bertingkat, yang kedua membantu kota melahirkan kebudayaan dan peradaban.
Rano Karno tampaknya memahami hal itu. Ketika ia berbicara tentang Jakarta sebagai kota sinema, yang ia bicarakan sesungguhnya bukan hanya industri film. Ia sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar: bagaimana sebuah kota membangun pengaruh, identitas, ekonomi, dan masa depannya melalui budaya.
Sinema menjelma infrastruktur strategis dalam pembangunan kota. Dalam konteks Jakarta ia dapat menjadi elemen penentu dalam capaian Jakarta dalam menembus 20 besar kota global.
Sinema bekerja dalam tiga lapisan sekaligus. Lapisan ekonomi sinema memberikan dampak pada menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan menjadi sentrum rantai ekonomi kreatif. Produksi satu film besar mendatangkan multiplier effect seperti menggerakkan bisnis perhotelan, transportasi, kuliner, wisata, hingga UMKM lokal.
Lapisan kedua adalah film membentuk persepsi global, citra kota, dan daya tarik internasional. Seoul menjadi contoh dengan drama Korea. Dunia melihat mereka tidak hanya tentang cerita cinta, melainkan tentang modernitas Korea, budaya, teknologi, dan gaya hidup. Lapisan terakhir, sinema membantu kota membangun identitas, memori kolektif, imajinasi, narasi, pengaruh, dan memproyeksikan masa depannya. Sinema menjadi arsip hidup dan politik kebudayaan yang menjangkau publik secara luas sekaligus mengakar.
Kota Global dan Pergeseran Makna Infrastruktur
Baca juga : Dirjen Dukcapil: Infrastruktur Kuat Harus Didukung SDM Andal
Selama puluhan tahun, infrastruktur dipahami secara fisik seperti pembangunan jalan, pelabuhan, rel kereta, dan gedung pencakar langit. Namun kota global membongkar perspektif ini dan memberi makna yang lebih luas dan menyeluruh tentang infrastruktur perkotaan.
Zaskia Saseen memberikan perspektif menarik. Ia menyebut kota global bukan hanya tentang pusat ekonomi, tetapi pusat produksi wacana, simbol, dan jaringan budaya. Pada titik ini kita diperlihatkan bahwa sinema adalah bagian infrastruktur baru. Infrastruktur simbolik dan yang tak kasat mata tetapi strategis.
Korea Selatan dengan K-Pop dan Drakor serta Jepang dengan Anime adalah contoh negara yang berhasil mengoptimalisasi potensi dan kekuatan budayanya.
Sinema bekerja untuk membangun ide, citra, identitas, dan pengaruh. Film memainkan imajinasi dan berperan sebagai alutsista sosial budaya. Berikutnya ia menjadi penopang utama ekonomi kreatif dan ekonomi berbasis budaya yang penting dalam khazanah ekonomi hari ini.
New York memilikinya lewat Broadway dan Manhattan yang menjadi mitologi modern. Paris memilikinya lewat film-film yang menjadikan hujan dan trotoar sebagai puisi. Seoul menjelma menjadi fantasi global melalui drama-drama yang membuat dunia ingin tinggal di dalamnya. Dan Los Angeles membangun kekuasaannya bukan hanya dengan power, tetapi dengan perangkat yang lebih halus tetapi mencengkram, yaitu sinema. Hollywood tidak sekadar membuat film. Ia menciptakan cara dunia memandang Amerika.
Visi Rano Karno dan Politik Kebudayaan
Baca juga : PPM Manajemen Diarahkan Jadi Institusi Berdaya Saing Global
Dalam teori soft power diplomasi Joseph Nye, pengaruh terbesar abad modern lahir bukan dari paksaan, tetapi dari daya tarik. Film adalah bentuk paling lembut sekaligus paling kuat dari daya tarik itu.
Ia masuk ke kepala manusia tanpa terasa. Ia membentuk selera, bahasa, cara berpakaian, bahkan mimpi. Korea Selatan memahami ini dengan sangat baik. Mereka menjadikan budaya populer sebagai strategi negara. Hasilnya bukan hanya miliaran dolar dari industri hiburan, tetapi sesuatu yang lebih besar: dunia mulai melihat Korea sebagai pusat modernitas baru. Busan festival menjadi primadon baru dalam industri film.
Data global memperlihatkan industri film global menyumbang 25-33 miliar USD per tahun terhadap ekonomi dunia. Dampaknya tidak berhenti pada film, tetapi meluas ke sektor pariwisata, kuliner, fesyen, musik, teknologi, dan UMKM kreatif. Film dianggap sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru.
Ketika orang datang ke Korea Selatan karena drama, atau ke Jepang karena anime, yang bekerja bukan hanya promosi wisata. Yang bekerja adalah daya tarik budaya. Pada kasus ini kita melihat aplikasi soft power ala Josep Nye yang paling terang,
Jakarta memiliki semua bahan untuk menjadi kota sinema seperti kota megapolitan yang memiliki sejarah panjang, wajah urban yang kompleks, keberagaman kultural yang hidup, dan energi sosial yang nyaris tak habis.
Pada tahap ini visi Rano Karno menjadi menarik. Ia datang bukan hanya sebagai birokrat, melainkan sebagai seniman. Ia memahami bahwa sebuah kota tidak cukup hanya menjadi pusat ekonomi,tetapi melingkupi pusat imajinasi dan produsen narasi.
Baca juga : Telkom–PGN Kolaborasi Bangun Infrastruktur Digital Rendah Emisi
Dalam hal ini, visi Rano Karno adalah membangun politik kebudayaan modern Jakarta. Di mana negara dan kota menyadari bahwa budaya bukan sekadar hiasan, melainkan bermakna tentang strategi, daya investasi, alat diplomasi, dan mesin ekonomi.
Visi Rano Karno tentang Jakarta kota sinema ini memiliki resonansi dengan perspektif Creative City ala Richard Florida. Gagasan ini mengemukakan bahwa kota yang maju adalah kota yang mampu menarik talenta, kreativitas, dan inovasi. Ketiga elemen ini hanya bisa tumbuh dalam ekosistem budaya yang hidup. Rano Karo dengan jernih melihat langkah-langkah strategis Jakarta menuju 20 besar kota global.
Visi Bang Doel menggeser cara Jakarta memahami kemajuan. Ia melengkapi bahwa membangun masa depan dan kemajuan Jakarta perlu dibersamai dengan kreativitas, budaya, dan kemampuan membangun imajinasi kolektif. Sebab di abad ini, kota yang paling berpengaruh bukan kota yang paling keras suaranya, melainkan kota yang mampu menciptakan daya tarik dan narasi yang menyihir dunia.
Kini Jakarta perlu hadir sebagai aktor yang memainkan narasi utama di panggung global, bukan sekadar menjadi latar belakang dan puas sebagai penonton.
Budhi Haryadi
Budhi Haryadi - Pemerhati Sosial dan Budaya
Budhi Haryadi - Pemerhati Sosial dan Budaya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya