Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Indonesia dan 7 Negara Kompak Tekan Israel, Dorong Sanksi Atas Permukiman E1
- Andalkan Sayap Macarena, McLaren Incar Hattrick Di Sirkuit Zandvoort
- Hanura Bidik Generasi Muda, Angkat Isu Lapangan Kerja
- Kepala Buperta Buktikan Mampu Jadi Tuan Rumah Perhelatan Pramuka Skala Nasional
- KPK: Calon Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsoed Dimintai Ratusan Juta Rupiah
Pengelolaan Dari Hulu & Peran Warga Jadi Kunci
Teknologi WtE Cuma Bisa Atasi 24 Persen Sampah
Sabtu, 22 Agustus 2026 06:25 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Teknologi Waste to Energy (WtE) diperkirakan hanya mampu menangani sekitar 24 persen persoalan sampah. Selebihnya, pengelolaan sampah di DKI Jakarta harus dibereskan dari hulu.
Menurut Plt Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup (BPLH) Laksmi Widjajayanti, Jakarta menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah setiap hari, sehingga membutuhkan strategi terpadu dari hulu hingga hilir untuk mengatasinya.
Dia menjelaskan, teknologi WtE memang menjadi salah satu solusi penting, karena mampu mengubah residu sampah menjadi energi listrik. Namun, WtE bukan satu-satunya solusi.
“Karena, diperkirakan, hanya sekitar 24 persen persoalan sampah yang bisa ditangani melalui pendekatan tersebut,” kata Laksmi dalam talk show “Bersama Mewujudkan Jakarta Bersih, Sehat, dan Berkelanjutan” bertema “Jakarta Tanpa Plastik Sekali Pakai: Waste to Energy, Inovasi, dan Solusi Tata Kelola Sampah”.
Karena itu, menurutnya, peran masyarakat dalam pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, penggunaan kembali, serta daur ulang, tetap menjadi fondasi utama pengelolaan sampah nasional, termasuk Jakarta dan sekitarnya.
Sedangkan Analis Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Erma Putri mengingatkan, sampah plastik bukan hanya mencemari lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan melalui mikroplastik.
“Ketika kita berbicara tentang plastik, sesungguhnya sedang berbicara tentang polusi yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang,” kata Erma, dalam diskusi yang digelar Presidium Pemuda Indonesia (PPI) di Gedung KNPI DKI Jakarta ini.
Baca juga : Inter Milan Vs Monza, Ular Menjaga Mahkota
Menurut pengamat kebijakan publik Sugiyanto, teknologi (WtE), seperti Refuse Derived Fuel (RDF), merupakan bagian dari ekonomi sirkular yang mampu mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.
Namun, keberhasilan pembangunan fasilitas RDF sangat bergantung pada tata kelola pemerintahan yang baik, kepastian regulasi, pembiayaan berkelanjutan, teknologi yang telah teruji, pengendalian emisi, serta kemitraan yang transparan dengan dunia usaha.
Selain itu, menurut Sugiyanto, pengurangan plastik sekali pakai, pemilahan sampah, daur ulang dan RDF harus menjadi satu kesatuan strategi besar pengelolaan sampah Jakarta yang berkolaborasi dengan berbagai pihak.
“Dengan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat, Jakarta memiliki peluang besar menjadi kota yang lebih bersih, sehat, tangguh, dan berkelanjutan,” katanya, dalam diskusi pada Kamis (30/7/2026) itu.
Menurutnya, untuk mewujudkan itu, pasar tradisional merupakan titik paling strategis dalam menekan timbulan sampah plastik, sehingga sangat penting untuk mendorong peran Pasar Jaya.
“Pasar Jaya memiliki peran besar dalam mendorong perubahan perilaku pedagang dan konsumen, melalui kebijakan pengurangan plastik sekali pakai serta pengelolaan sampah berkelanjutan,” sarannya.
Menanggapi itu, Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan menyatakan, Pasar Jaya siap menjadi motor penggerak pengurangan plastik sekali pakai di lingkungan pasar tradisional.
Baca juga : Andalkan Sayap Macarena, McLaren Incar Hattrick Di Sirkuit Zandvoort
Menurut Agus, Pasar Jaya akan terus mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai, memperluas penggunaan tas belanja ramah lingkungan, memperkuat edukasi kepada pedagang dan konsumen, serta mengoptimalkan pemilahan sampah melalui prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R).
Selain itu, Pasar Jaya juga mengembangkan ekonomi sirkular dan mendukung penerapan teknologi WtE sebagai bagian dari pengelolaan sampah berkelanjutan.
Agus menyadari, pasar tradisional memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi pusat aktivitas ekonomi dan berinteraksi langsung dengan jutaan masyarakat setiap hari. “Perubahan perilaku di pasar akan memberikan dampak besar terhadap pengurangan sampah plastik,” ujarnya.
Saat ini, Pasar Jaya mengelola sekitar 153 pasar rakyat di seluruh Jakarta yang dinilai menjadi sarana efektif mengedukasi masyarakat, agar mengurangi plastik sekali pakai, dan membiasakan pemilahan sampah sejak dari sumber.
Sekilas Mengenai RDF
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berkunjung ke tempat pengolahan sampah bernama RDF Plant, Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Senin (10/8/2026).
Reporter Rakyat Merdeka yang ikut dalam kunjungan ini melaporkan, mesin (alat) di dalam RDF Plant bergerak, membawa sampah.
Tampak pula sejumlah pekerja yang sesekali memunguti sampah tercecer. Kemudian, memasukkannya kembali ke dalam mesin yang bergerak dari bawah ke atas, dari atas ke bawah itu. Suasananya seperti umumnya di dalam pabrik.
Baca juga : China Vs AS Memanas, Korsel Diminta Netral
Hingga ujungnya, peralatan itu mengeluarkan sampah terolah yang disebut RDF. Yaitu, bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari pengolahan sampah (terutama sampah rumah tangga).
Bentuk RDF-nya kotak, padat. Dibungkus semacam karung berwarna putih. Lalu, ditumpuk di salah satu sisi pabrik pengolahan sampah ini, menggunakan forklift.
Proses pembuatan RDF dimulai dari pemilahan. Sampah dipisahkan dari bahan yang tidak bisa terbakar atau berbahaya, seperti kaca, logam berat, dan bahan berbahaya dan beracun (B3).
Proses berlanjut ke pencacahan, sehingga sampah menjadi kecil. Kemudian, pengeringan untuk menurunkan kadar air dan meningkatkan kalor sampah yang telah dicacah itu.
Sampah yang sudah dipilah, dicacah dan dikeringkan itu, dipadatkan, sehingga berbentuk kotak yang disebut RDF. Sehingga, RDF menjadi optimal saat digunakan sebagai bahan bakar industri, pengganti batubara. Misalnya, untuk bahan bakar di pabrik semen dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). [DRS/RAA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya