Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Krisis Air Bersih Landa Jonggol, Warga Diminta Bangun Penampungan Air
Senin, 2 September 2024 21:53 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ribuan warga Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kini tengah menghadapi krisis air bersih yang kian memburuk sejak awal Juli 2024.
Kekeringan yang melanda wilayah ini membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih, baik dari sungai maupun sumur. Kondisi ini diperparah oleh musim kemarau yang berkepanjangan.
Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, mengungkapkan bahwa Desa Jonggol merupakan daerah hulu dari sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Cekungan Air Tanah (CAT) yang sangat rentan terhadap kekeringan.
“Baik air permukaan maupun air tanah pada saat musim kemarau, seperti mengeringnya air sungai dan air sumur, serta berkurangnya debit mata air," kata Wafid di Bandung, Senin (2/9).
Baca juga : OJK Dorong Jiwasraya Tuntaskan Penyelamatan Pemegang Polis
Wafid menjelaskan, potensi air tanah di Jonggol sangat terbatas pada lapisan tanah dangkal, sementara lapisan tanah dalam tidak memiliki potensi air tanah yang signifikan.
Hal ini disebabkan oleh lapisan batuan pembawa air atau akuifer dari Satuan Batupasir dan Konglomerat bersifat tipis yang menumpang di atas batuan kedap air berupa Batulempung Formasi Jatiluhur.
“Potensi air tanah hanya terbatas pada bagian atas (air tanah dangkal) dan tidak terdapat potensi air tanah pada bagian bawah (dalam). Hal tersebut membuat daerah ini rentan terhadap potensi kekeringan yang disebabkan oleh berlangsungnya musim kemarau," lanjut Wafid,” lanjut Wafid.
Untuk mengatasi krisis ini, Wafid menyarankan warga untuk mulai membangun penampungan air hujan dan sumur resapan dangkal.
Baca juga : Tekan Kasus KDRT, Warga Diminta Jangan Takut Lapor
Selain itu, ia juga menganjurkan pembangunan infrastruktur sederhana untuk mendukung konservasi tanah, yang bertujuan menahan air permukaan lebih lama agar dapat meresap menjadi air tanah.
"Secara umum metode ini berguna untuk menahan air permukaan lebih lama sehingga meningkatkan kapasitas resapan air permukaan menjadi air tanah,” jelasnya.
Data dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa Desa Jonggol secara geomorfologi merupakan daerah perbukitan bergelombang dengan elevasi antara 50 hingga 150 meter di atas permukaan laut.
Wilayah ini tersusun atas batuan Batupasir tufan dan Konglomerat di bagian atas, serta Formasi Jatiluhur di bagian bawah, yang berfungsi sebagai batuan kedap air.
Baca juga : Menperin: 10 Tahun Jokowi, Pemerintah Serius Bangun Industri
Secara hidrologis, Jonggol berada di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Cibodas yang mengalir ke Sungai Cipatujah, menuju utara. Kondisi geologis dan hidrologis ini, menurut Wafid, turut berkontribusi terhadap tingginya kerentanan wilayah terhadap kekeringan.
Akuifer di wilayah ini memiliki produktivitas air yang rendah hingga sedang, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan air warga secara maksimal.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya